Kesepakatan Lahir saat Peluncuran Kitab Karya Kiai Zulfa: NU Harus jadi Mercusuar Ilmu

jpnn.com
1 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - JAKARTA - Peluncuran dan diskusi empat kitab karya Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, Jumat (10/7) berkembang menjadi ruang konsolidasi intelektual yang mempertemukan ulama, akademisi, dan tokoh nasional dalam satu pesan yang sama: Nahdlatul Ulama harus kembali menjadi mercusuar keilmuan dunia.

Para narasumber yang hadir secara langsung maupun melalui tayangan video, mulai dari Mahfud MD, Said Aqil Siradj, Abdul Ghafur Maimun, Abdullah Syamsul Arifin, hingga moderator Gus H. Aniq Nawawi, menegaskan bahwa masa depan NU tidak cukup dibangun melalui kekuatan organisasi semata.

BACA JUGA: KH Zulfa Mustofa Buka Suara Terkait Pencalonannya Sebagai Ketum PBNU

Acara tersebut menandai peluncuran empat karya KH Zulfa Mustofa yang disusun selama hampir delapan tahun. Tiga kitab mengulas fikih dan ushul fikih, sedangkan satu kitab mengangkat biografi ulama besar Nusantara, Syekh Nawawi Al-Bantani.

Dalam sambutannya, KH Zulfa Mustofa menegaskan bahwa menulis kitab bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi merupakan bentuk pertanggungjawaban ilmiah seorang ulama.

BACA JUGA: Para Kiai Khos NU Bakal Membedah Kitab Zulfa Mustofa di Jakarta

“Para ulama mengatakan, orang yang menulis kitab itu seperti meletakkan kepalanya di atas meja untuk disantap oleh orang lain.”

Karena itu, ia menyatakan kesiapan untuk menerima kritik, koreksi, dan pengujian ilmiah terhadap karya-karyanya.

BACA JUGA: Ikhtiar Menjaga Kesinambungan Ilmu, KH Zulfa Mustofa Luncurkan Kitab Menjelang Muktamar NU

“Saya siap dikritik secara ilmiah. Bedah kitab ini bagi saya seperti ujian disertasi. Inilah bagian dari integritas seorang penulis.”

Menurut KH Zulfa, seorang penulis tidak cukup hanya melahirkan karya, tetapi juga harus siap mempertanggungjawabkan setiap gagasan di hadapan para ulama, akademisi, dan masyarakat.

Ia juga menceritakan perjalanan pengabdiannya di PBNU sejak 2010, mulai dari Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Katib Syuriyah, hingga menjadi Wakil Ketua Umum PBNU.

Bagi dirinya, PBNU bukan sekadar tempat berorganisasi, tetapi ruang pembelajaran yang mempertemukannya dengan para masyayikh dan ulama besar.

“PBNU adalah kawah candradimuka saya. Di sanalah saya belajar ushul fikih, belajar ketelitian menulis, dan belajar cara berpikir para masyayikh.”

KH Zulfa menegaskan bahwa seorang pengurus NU harus memiliki dua kapasitas sekaligus, yakni memahami agama secara mendalam dan memahami kemaslahatan masyarakat.

“Seorang pengurus NU harus menjadi faqihun bi umuri dinihi sekaligus khabirun bi mashalihi khalqihi.”

Artinya, seorang pemimpin NU tidak hanya dituntut memahami urusan agama, tetapi juga harus memiliki kepekaan terhadap kebutuhan umat, dinamika sosial, dan kemaslahatan masyarakat luas.

Kepemimpinan NU Harus Berasal dari Komitmen Khidmah
Selain menyerukan kebangkitan tradisi keilmuan dan literasi pesantren, KH Zulfa juga menyampaikan pandangannya mengenai arah kepemimpinan Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, NU perlu memberikan ruang kepemimpinan kepada kader-kader yang mampu memusatkan perhatian dan pengabdiannya kepada jam’iyah. Mereka yang telah mengemban amanah di partai politik maupun pemerintahan sebaiknya tetap menjalankan tanggung jawabnya masing-masing tanpa harus dipaksakan untuk memimpin NU.

“Yang sudah di partai biarkan di partai. Yang sudah jadi menteri biarkan di kementerian. Tidak perlu dipaksa kemudian harus memimpin NU," katanya.

Sementara itu, melalui sambutan video, Mahfud MD menyebut karya KH Zulfa Mustofa sebagai kontribusi penting yang menunjukkan kuatnya metodologi hukum Islam dalam membentuk ilmu hukum modern.

Mahfud mengaku terkejut ketika pertama kali mempelajari teori dan asas-asas hukum modern karena banyak di antaranya telah ia kenal sejak belajar di pesantren.

“Ketika saya belajar hukum modern, saya justru terkejut karena banyak asas dan metodologinya sudah saya hafal sejak di pesantren melalui ushul fikih.”

Mahfud juga memberikan apresiasi terhadap sosok KH Zulfa Mustofa yang dinilainya memiliki kemampuan berbicara dan menulis yang sama kuatnya.

“Beliau adalah orang yang fasih kalam, pandai berbicara. Ternyata beliau juga fasih qalam, pandai menulis.”

Sementara itu, melalui makalah yang dibacakan Dr. KH Mujib Qolyubi, Prof. KH Said Aqil Siradj menyampaikan bahwa karya KH Zulfa Mustofa merupakan bagian dari sanad panjang keilmuan pesantren Nusantara.

Menurutnya, kitab tersebut lahir dari tradisi keilmuan yang mendalam, bersanad, dan berakar kuat pada pesantren salaf.

“Kitab ini merupakan salah satu karya ilmiah berbahasa Arab yang lahir dari sanad keilmuan pesantren di Nusantara.”

Said Aqil juga menyampaikan apresiasi kepada KH Zulfa Mustofa karena dinilai ikut menghidupkan kembali tradisi literasi di lingkungan pesantren dan Nahdlatul Ulama.

“Saya menyampaikan apresiasi kepada KH Zulfa Mustofa yang telah ikut aktif menghidupkan tradisi literasi di dunia pesantren.” (*/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IMF Pertahankan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 5,0 Persen di 2026
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Janji Balas Kematian Ayahnya
• 20 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Sosok DR Terseret, Diduga Bantu Febrie Adriansyah Cuci Uang Hasil Korupsi Eks Jampidsus
• 3 jam laludisway.id
thumb
Kejagung Resmi Umumkan Pengunduran Diri Febrie Adriansyah sebagai Jampidsus
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Prediksi Skor Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: Susunan Pemain dan Head to Head
• 22 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.