"Apakah dia Messi berikutnya?"
"Apakah dia Ronaldo berikutnya?"
"Apakah dia Zidane yang baru?"
Sekilas, pertanyaan itu terdengar seperti pujian. Padahal, tanpa disadari, juga bisa menjadi beban. Karena setiap generasi akhirnya diminta mengulang sejarah yang ditulis oleh generasi sebelumnya.
Menghormati sejarah tentu bukan kesalahan. Namun ketika sebuah bangsa mulai sibuk mencari salinan para legendanya, barangkali pada saat itulah masa depan mulai kehilangan hak untuk menjadi dirinya sendiri.
Lalu saya melihat Prancis. Ketika mereka memastikan tempat di semifinal Piala Dunia 2026, banyak orang kembali berbicara tentang kedalaman skuadnya. Ada Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Aurelien Tchouameni, Michael Olise, dan nama-nama baru lainnya.
Sebagian menyebut mereka sebagai generasi emas terbaru. Saya justru merasa istilah itulah yang perlu dipertanyakan, benarkah Prancis terus melahirkan generasi emas? Atau barangkali kita sedang menggunakan istilah yang keliru.
Karena sesuatu yang terus berulang selama hampir tiga dekade rasanya tidak lagi layak disebut keajaiban. Tetapi hasil dari sebuah bangsa yang memilih menyiapkan masa depan, bahkan ketika masa kini masih dipenuhi tepuk tangan.
Kita pernah menyaksikan Zinedine Zidane, Thierry Henry, Patrick Vieira, Claude Makelele dan Lilian Thuram.
Ketika mereka telah pergi, Prancis tetap datang. Lalu hadir Antoine Griezmann, Paul Pogba dan N'Golo Kante. Generasi itu perlahan bergeser, Prancis tetap datang.
Dan, hari ini dunia menyebut Mbappe. Besok mungkin Doue. Lusa mungkin nama lain yang bahkan belum kita kenal. Yang berubah hanyalah tokohnya tetapi ceritanya tetap sama.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatan terbesar sepak bola Prancis. Mereka tidak sibuk mencari Zidane berikutnya. Mereka memberi ruang agar Mbappe menjadi Mbappe. Mereka tidak meminta Doue menjadi salinan siapa pun. Karena mereka memahami sesuatu yang sering luput dari perhatian.
Bangsa yang matang tidak sibuk mencari penerus legenda. Melainkan justru sibuk menciptakan ruang agar legenda berikutnya lahir. Di sinilah saya teringat pada tiga kata yang selama lebih dari dua abad menjadi napas Republik Prancis, yaitu Liberte, Egalite, Fraternite.
Tiga kata itu lahir untuk membangun sebuah republik. Bukan untuk memenangkan pertandingan sepak bola. Namun barangkali, tanpa disadari, bisa juga menjelaskan cara Prancis membangun masa depannya.
Liberte, kebebasan. Bukan hanya kebebasan berbicara tetapi kebebasan setiap generasi untuk menemukan jalannya sendiri. Masa depan tidak pernah tumbuh sehat di bawah bayang-bayang masa lalu.
Egalite, kesetaraan. Bukan berarti semua pemain memiliki kemampuan yang sama. Melainkan keyakinan bahwa tidak ada seorang pemain pun yang lebih besar daripada tim. Legenda dihormati.
Namun tidak dijadikan pusat dari segala-galanya. Karena ketika satu individu menjadi lebih besar daripada sistem yang melahirkannya, saat itulah masa depan mulai kehilangan ruang untuk tumbuh.
Fraternite, persaudaraan. Bukan sekadar sebelas pemain mengenakan seragam yang sama. Melainkan sebelas orang yang bersedia mempercayakan mimpinya kepada tujuan yang sama. Di situlah sepak bola berhenti menjadi kumpulan individu. Justru berubah menjadi identitas bersama.
Tentu saja, akan terlalu sederhana jika mengatakan bahwa keberhasilan Prancis lahir hanya dari semboyan republiknya. Keberhasilan itu dibangun oleh pembinaan usia muda yang konsisten, pencarian bakat yang luas, pendidikan pelatih, ilmu olahraga, investasi jangka panjang, dan budaya sepak bola yang terus berkembang.
Namun semua itu hanya dapat bertahan karena ditopang oleh satu keberanian yang lebih mendasar. Keberanian untuk percaya bahwa tidak ada satu pemain pun yang lebih penting daripada masa depan.
Barangkali itulah sebabnya Prancis tidak pernah benar-benar panik ketika satu generasi meninggalkan panggung. Mereka tidak membangun sepak bola di sekitar seorang pahlawan. Mereka membangun sebuah lingkungan yang memungkinkan pahlawan baru terus lahir.
Itulah perbedaan antara memuja sejarah dan membangun sejarah. Yang pertama membuat kita sibuk mencari salinan. Yang kedua membuat kita berani menciptakan sesuatu yang belum pernah ada.
Setiap babak dalam Piala Dunia hanyalah satu pertandingan. Final hanyalah satu kemungkinan. Dan trofi hanyalah satu tujuan. Namun ada pelajaran yang jauh lebih besar daripada semua itu. Bahwa sebuah bangsa tidak pernah diuji ketika melahirkan seorang legenda. Sebuah bangsa diuji ketika legenda itu pergi.
Kejayaan tidak diwariskan oleh nostalgia. Kejayaan diwariskan oleh keberanian memberi kebebasan kepada generasi baru untuk menjadi dirinya sendiri, menjaga kesetaraan di atas kebesaran individu, dan merawat persaudaraan sebagai fondasi sebuah tim.
Mungkin itulah makna paling hidup dari Liberte, Egalite, Fraternite. Bukan sekadar semboyan sebuah republik. Melainkan keyakinan bahwa sejarah memang pantas dihormati.
Dan, sejarah tidak pernah diciptakan untuk ditiru. Sejarah diciptakan agar setiap generasi memiliki keberanian menulis lembaran berikutnya.
(N.D. Santoso)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASM)





