Gempa M5,6 mengguncang Laut Sulawesi, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Sabtu (11/7/2026) pukul 17.51.11 WIB. BMKG memastikan bahwa gempa tidak berpotensi tsunami.
"Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," ungkap Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto dalam keterangan tertulisnya.
Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M5,6 pada kedalaman 32 km. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 5,14° LU ; 125,58° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 39 km Utara Kepulauan Marore, Kepulauan Sangihe.
Baca Juga:Wali Kota Tangerang Apresiasi Liga Bintang Juara, Dorong Generasi Berpikir Cepat dan TepatBerdasarkan estimasi peta guncangan (shakemap), gempa bumi ini dirasakan dengan skala intensitas IV MMI (Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik, dan dinding berbunyi.) di Kepulauan Marore, Kepulauan Sangihe.Selanjutnya, skala III-IV MMI (Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik, dan dinding berbunyi) di Kendahe, Kepulauan Sangihe. Dan III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.) di Miangas, Kepulauan Talaud.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser naik (oblique thrust).
Hingga pukul 17.51.11 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock). Wijayanto mengimbau kepada masyarakat etap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. "Menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi."
#daerah




