Gresik (beritajatim.com) – Ada sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan oleh alam Banyuwangi. Di ujung paling timur Pulau Jawa, tanah yang dijuluki The Sunrise of Java ini menyimpan keajaiban agronomi yang jarang diketahui awam. Siapa sangka, embusan asap belerang yang keluar dari perut Kawah Ijen, yang biasanya ditakuti, justru menjadi “penyihir” utama di balik kelezatan secangkir Kopi Ijen.
Salah satu destinasi kopi ikonik yang patut dikunjungi yakni Sanggar Genjah Arum/Kopi Osing Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, milik Setiawan Subekti, atau akrab disapa Iwan, seorang ahli tester kopi internasional. Pria energik ini memiliki home industry produk kemasan lokal kopi Kemiren Jaran Goyang.
Sanggar Genjah Arum selain didesain sebagai tempat penikmat kopi. Juga tempat melestarikan budaya osing. Kali ini ratusan wartawan yang mengikuti media gathering Pertamina Upstream Regional Timur diajak mampir ke Sanggar Genjar Arum.
Menurut penuturan Iwan, tanaman kopi yang dilereng Ijen. Angin gunung bukan sekadar embusan udara dingin. Sebaliknya, membawa uap belerang yang secara konstan menyelimuti perkebunan. Uniknya, interaksi alami inilah yang memengaruhi ekosistem tanaman dan berkontribusi melahirkan karakteristik rasa kopi yang sangat khas dan tidak bisa ditiru oleh daerah lain.
“Saya mengelolah 20 perkebunan kopi, kualitasnya beda karena memiliki khas tersendiri diselimuti aroma belerang,” ujarnya, kepada beritajatim.com, Sabtu (11/7/2026).
Dari alam tersebut lanjut dia, rahasia sebenarnya dari secangkir kopi Grade 1 (kualitas tertinggi) terletak pada sensitivitas prosesnya. Kopi adalah komoditas yang sangat peka terhadap perlakuan manusia.
“Kualitas kopi itu dipengaruhi oleh tiga pilar utama. Pertama 60% dari faktor perkebunan dan tanaman (termasuk pengaruh tanah dan uap belerang Ijen). Kedua, 20% dari proses pasca panen, mulai dari ketepatan waktu petik hingga teknik pengeringan. Ketiga, 20% dari keahlian barista dan penyajian, termasuk bagaimana cara sangrai (roasting) yang benar,” ungkapnya.
Menghasilkan kopi berkualitas tinggi bukanlah perkara mudah. Setiap tahapan mulai dari memetik buah ceri kopi yang benar-benar matang, mengeringkannya dengan suhu yang pas, hingga menyangrai dengan teknik yang presisi membutuhkan ketelitian luar biasa. Sedikit saja kesalahan dalam proses sangrai, potensi rasa terbaik dari biji kopi Ijen bisa hilang seketika.
Melalui pengelolaan yang tepat bersama kelompok pekebun lokal, biji kopi yang dulunya dipandang sebelah mata kini naik kelas menjadi produk spesial dengan kualitas Grade 1. Karakter rasa yang dihasilkan sangat kaya, sebuah perpaduan antara kesegaran alam ‘Sunrise of Java’ dan sentuhan magis dari belerang gunung api.
“Kopi ini bukan sekadar minuman penghalau kantuk, melainkan sebuah mahakarya hasil kolaborasi harmonis antara alam Ijen dan tangan-tangan terampil para petani Banyuwangi,” imbuh Iwan.
Budayawan Osing Aekanu menuturkan,
masyarakat Kemiren tidak sekadar menghasilkan produk kopi berkualitas. Menari dan bernyanyi maupun setiap bait syair serta lekuk gerak adalah untaian doa. Dalam konteks makrifat sunan, tembang seperti syair ‘Layar Kumendhung’ bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah permohonan mendalam kepada Sang Pencipta.
Begitu pula dengan struktur gerak tari yang dihadirkan setiap ketukan dan transisi adalah simbol kepasrahan dan pengharapan.
“Keunikan inilah yang membawa Desa Wisata Adat Kemiren diakui secara luas, bahkan mendapatkan perhatian khusus dari lembaga internasional seperti PBB (UNESCO) dalam hal pelestarian budaya. Meski penampilannya bersahaja, daya magis dan kedalaman nilai di dalamnya membuat tempat ini begitu mendunia,” tuturnya.
Aekanu bercerita bicara soal Kemiren takkan lepas dari Barong. Dalam mitos masyarakat setempat, kedudukan Barong memiliki kedekatan rasa yang mirip dengan mitologi Yunani kun penuh dengan pralambang dan kuasa simbolik.
Aturan dalam pembuatan dan ritual Barong Kemiren sangatlah ketat dan tidak boleh diubah sembarangan. Salah satu yang paling mendasar adalah kewajiban menggunakan lima warna utama.
“Setiap warna merepresentasikan elemen alam dan keseimbangan hidup yang mutlak. Ritual demi ritual dijalankan dengan presisi, tanpa ada yang berani mengurangi atau melebih-lebihkannya,” urainya.
Kuatnya nilai autentisitas ini, duplikasi Barong Kemiren dengan pakem lima warna yang dipertahankan penuh pernah membawa nama Indonesia ke panggung internasional, salah satunya saat diundang tampil di Frankfurt, Jerman, pada tahun 2015 lalu.
Kini, Kemiren tetap berdiri dengan segala kesederhanaannya. Di sini, siapapun yang berkunjung tak hanya disuguhi atraksi budaya, melainkan diajak untuk melambatkan langkah, merasakan ketenangan, dan larut dalam ruang kontemplasi yang magis. [dny/kun]




