“Kamu mau jadi apa lima tahun lagi?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian orang, pertanyaan itu justru terasa menyesakkan.
Sejak kecil, kita terbiasa diajarkan bahwa hidup harus memiliki jawaban. Saat sekolah, kita ditanya ingin masuk jurusan apa. Setelah lulus kuliah, kita ditanya kapan bekerja. Ketika sudah bekerja, muncul pertanyaan baru tentang karier, menikah, membeli rumah, atau target-target lainnya yang seolah harus segera dipenuhi.
Lama-kelamaan, kita mulai percaya bahwa menjadi dewasa berarti selalu memiliki rencana yang jelas, seolah-olah orang yang belum menemukan arahnya adalah orang yang tertinggal. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Banyak orang yang terlihat sangat yakin di luar, tetapi diam-diam masih sering mempertanyakan pilihan hidupnya sendiri. Ada yang sudah bekerja bertahun-tahun tetapi masih bertanya apakah pekerjaannya benar-benar sesuai dengan dirinya, ada yang berpindah karier karena merasa kehilangan makna, dan ada pula yang tampak sukses, tetapi tetap merasa bingung tentang tujuan berikutnya.
Sayangnya, media sosial jarang memperlihatkan bagian itu. Dimana yang kita lihat hanyalah seseorang yang baru diterima di perusahaan impian, lolos beasiswa, membuka bisnis, atau membagikan pencapaian baru. Semua terlihat begitu pasti, begitu terarah, begitu meyakinkan. Sementara kita masih duduk di kamar, membuka laptop, menutupnya lagi, membuat daftar rencana, lalu menghapusnya kembali karena merasa semuanya belum cukup matang.
Jadi tanpa disadari, kita mulai berpikir bahwa hanya kita yang belum tahu ingin menjadi apa. Padahal bisa jadi, hampir semua orang sedang mencari jawabannya masing-masing. Masalahnya bukan karena kita belum memiliki jawaban.
Masalahnya adalah kita merasa harus segera menemukannya. Tekanan untuk selalu tahu arah hidup membuat banyak orang mengambil keputusan bukan karena benar-benar siap, melainkan karena takut dianggap tertinggal. Ada yang menerima pekerjaan yang sebenarnya tidak disukai hanya karena semua temannya sudah bekerja, ada yang melanjutkan pendidikan karena takut terlihat “diam di tempat”, dan ada pula yang memaksakan membuka usaha atau mengikuti berbagai pelatihan hanya karena merasa semua orang sedang bergerak.
Keputusan yang lahir dari rasa panik sering kali membuat kita semakin jauh dari diri sendiri. Menurut Jeffrey Arnett, masa transisi menuju dewasa merupakan periode eksplorasi identitas. Pada fase ini, wajar apabila seseorang masih mencoba berbagai kemungkinan, mempertanyakan pilihan hidup, bahkan beberapa kali mengubah arah sebelum menemukan jalan yang paling sesuai. Artinya, kebingungan bukan tanda kegagalan, justru kebingungan sering kali merupakan bagian dari proses mengenali diri.
Sayangnya, kita hidup di zaman yang menghargai kepastian lebih tinggi daripada proses. Orang yang sudah memiliki rencana lima tahun dianggap visioner, dan orang yang masih mencari dianggap kurang ambisius. Padahal hidup tidak selalu berjalan mengikuti timeline yang kita buat. Dimana ada orang yang menemukan passion sejak usia delapan belas tahun, ada yang baru menyadarinya di usia tiga puluh, dan ada pula yang berkali-kali berganti jalan sebelum akhirnya menemukan tempat yang benar-benar membuatnya bertumbuh.
Tidak ada yang salah dengan semua itu, yang sering membuat kita lelah bukan karena belum menemukan jawaban, melainkan karena terus merasa terlambat. Kita lupa bahwa hidup bukan perlombaan mencari siapa yang paling cepat selesai, tetapi hidup itu justru lebih menyerupai perjalanan panjang yang setiap orang tempuh dengan kecepatan berbeda. Kita sering berbicara bahwa ambisi tidak harus selalu berarti bergerak lebih cepat.
Kali ini, mungkin bentuk ambisi yang lebih sehat adalah keberanian untuk tetap berjalan meski belum mengetahui seluruh jawabannya, karena kita tidak harus memahami seluruh peta sebelum mengambil satu langkah kecil. Kadang cukup tahu arah berikutnya, sisanya akan kita pelajari sambil berjalan. Tidak semua pertanyaan harus dijawab hari ini, tidak semua keraguan harus segera dihilangkan, dan tidak semua keputusan harus diambil secepat mungkin. Ada hal-hal yang memang hanya bisa dipahami setelah kita benar-benar menjalaninya.
Mungkin hari ini kita masih sering berkata, “Aku belum tahu”. Dan itu tidak apa-apa, karena menjadi Lazy Ambitious bukan berarti kehilangan tujuan, melainkan berhenti memaksa diri untuk memiliki semua jawaban, lalu memberi ruang bagi diri sendiri untuk bertumbuh dengan waktunya masing-masing.
Suatu hari nanti, ketika menoleh ke belakang, mungkin kita akan menyadari bahwa semua kebingungan yang pernah kita takutkan ternyata hanyalah bagian dari perjalanan menuju diri kita yang sebenarnya.
References:
Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American psychologist, 55(5), 469.





