TABLOIDBINTANG.COM - Ginjal merupakan salah satu organ yang bekerja paling keras di dalam tubuh. Setiap hari, organ ini menyaring sekitar 180 liter darah, membuang limbah, menjaga keseimbangan garam dan mineral, membantu mengontrol tekanan darah, serta berperan dalam pembentukan sel darah merah.
Meski memiliki fungsi vital, ginjal sering kali tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan pada tahap awal. Karena itulah penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease/CKD) kerap dijuluki sebagai "silent disease" atau penyakit yang berkembang tanpa gejala.
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), jutaan orang di seluruh dunia hidup dengan penyakit ginjal kronis tanpa menyadarinya. Gejala seperti mudah lelah, pembengkakan, atau perubahan frekuensi buang air kecil biasanya baru muncul ketika fungsi ginjal sudah mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Yang mengejutkan, kerusakan ginjal tidak selalu dipicu oleh penyakit langka. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut berkembang perlahan akibat kebiasaan sehari-hari yang terus dilakukan selama bertahun-tahun.
1. Terlalu Sering Mengonsumsi Obat Pereda Nyeri
Mengonsumsi obat pereda nyeri saat sakit kepala, nyeri otot, atau cedera memang umum dilakukan. Namun, penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) secara berlebihan tanpa pengawasan dokter dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal.
Direktur sekaligus Kepala Institut Nefrologi RG Hospitals Ludhiana, Dr. Suman Sethi, mengatakan banyak orang mengira penyakit ginjal hanya menyerang lansia. Padahal, kebiasaan kecil sehari-hari dapat merusak fungsi ginjal secara perlahan tanpa disadari.
Menurutnya, salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan adalah terlalu sering mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis.
Penggunaan NSAID dalam jangka panjang diketahui dapat mengurangi aliran darah menuju ginjal sehingga meningkatkan risiko cedera ginjal, terutama pada orang lanjut usia maupun mereka yang sudah memiliki gangguan ginjal.
2. Mengabaikan Diabetes dan Tekanan Darah Tinggi
Diabetes dan hipertensi merupakan dua penyebab utama penyakit ginjal kronis.
Kedua penyakit ini sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal sehingga banyak orang mengabaikannya. Padahal, kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus dapat merusak pembuluh darah kecil di dalam ginjal. Sementara tekanan darah tinggi membuat organ tersebut bekerja lebih keras sehingga lama-kelamaan mengalami penurunan fungsi.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga menyebut diabetes dan hipertensi sebagai penyebab terbesar penyakit ginjal kronis.
Karena itu, pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala sangat penting untuk mendeteksi gangguan sejak dini.
3. Pola Makan Tinggi Garam dan Makanan Olahan
Kerusakan ginjal umumnya tidak terjadi akibat satu kali makan tidak sehat, melainkan terbentuk dari pola makan yang buruk selama bertahun-tahun.
Makanan ultra-proses umumnya mengandung kadar garam, lemak tidak sehat, dan berbagai zat aditif dalam jumlah tinggi. Konsumsi garam berlebihan membuat tubuh menahan lebih banyak cairan sehingga tekanan darah meningkat dan beban kerja ginjal menjadi lebih berat.
Dr. Sethi juga mengingatkan bahwa kurang minum air putih, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, serta kurang bergerak turut mempercepat penurunan fungsi ginjal.
4. Kurang Memperhatikan Kebutuhan Cairan
Asupan cairan yang cukup membantu ginjal membuang limbah metabolisme secara optimal.
Meski demikian, kebutuhan cairan setiap orang tidak sama. Faktor usia, aktivitas fisik, cuaca, hingga kondisi kesehatan tertentu memengaruhi jumlah air yang dibutuhkan tubuh.
Pada penderita penyakit ginjal maupun gangguan jantung tertentu, dokter bahkan dapat menganjurkan pembatasan konsumsi cairan.
5. Menunggu Gejala Baru Memeriksakan Diri
Banyak orang mengira gangguan ginjal selalu disertai rasa sakit. Faktanya, penyakit ginjal kronis sering berkembang tanpa gejala hingga kerusakan sudah cukup berat.
Menurut Dr. Sethi, kebiasaan menunggu munculnya gejala sebelum memeriksakan diri menjadi salah satu alasan mengapa penyakit ginjal sering terlambat didiagnosis.
Padahal, pemeriksaan darah dan urine sederhana dapat mendeteksi gangguan ginjal jauh sebelum gejala muncul.
Orang yang memiliki diabetes, hipertensi, obesitas, penyakit jantung, maupun riwayat keluarga dengan penyakit ginjal disarankan menjalani skrining fungsi ginjal secara berkala.




