jpnn.com, JAKARTA - Sejumlah warga warga Nahdatul Ulama (NU) menilai kebijakan internasional PBNU mulai menjauh dari khittah perjuangan organisasi.
Keresahan itu akan dibahas dalam Rembug Warga NU Seri 3 bertema "NU di Tengah Badai Dunia Baru: Menggugat Arah Diplomasi PBNU & Jebakan Normalisasi Israel?" yang digelar Minggu (12/7) di Jakarta.
BACA JUGA: Profesional Nahdliyin: Arahan Presiden Prabowo Mewujudkan Ekonomi Patriotik
Koordinator Forum Bersama (Forbes) NU 26, Dr. KH. Abdul Waidl, M.A., mengatakan warga NU tidak ingin organisasinya hanya menjadi pelengkap dalam percaturan geopolitik global.
"Jangan sampai NU hanya menjadi stempel atau komoditas bagi kepentingan kekuatan global tertentu," ujar Abdul Waidl, Sabtu (11/7).
BACA JUGA: Mubes Nahdliyin Nusantara Soroti Netralitas NU di Pemilu 2024
Menurut dia, diplomasi PBNU belakangan kehilangan daya pengaruh dan lebih banyak berkutat pada forum-forum seremonial.
Abdul Waidl membandingkan kondisi tersebut dengan era Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang dinilainya mampu membangun komunikasi dengan berbagai kekuatan dunia tanpa mengorbankan independensi NU.
"Kami merindukan diplomasi seperti era Gus Dur. Bisa berdialog dengan siapa pun tanpa kehilangan harga diri dan posisi tawar," katanya.
Dalam forum itu, Forbes NU 26 juga akan mengangkat sejumlah isu yang selama ini memicu polemik di kalangan warga NU. Di antaranya kunjungan sejumlah kader NU ke Israel, isu normalisasi hubungan dengan Israel, hingga kerja sama dengan lembaga donor internasional.
Forbes NU 26 menilai PBNU belum mampu membaca perubahan peta geopolitik dunia yang bergerak menuju tatanan multipolar.
Abdul Waidl menegaskan kerja sama internasional memang penting, tetapi tidak boleh mengorbankan independensi organisasi.
"Kerja sama internasional itu keharusan. Namun, jangan sampai demi proposal donor, kami menggadaikan independensi dan membiarkan diri didikte pihak luar. NU adalah kekuatan moral masyarakat sipil, bukan perpanjangan tangan kepentingan geopolitik asing," tegasnya.
Rembug Warga NU Seri 3 akan menghadirkan tiga pembicara, yakni Guru Besar SKSG UI sekaligus Pengurus PBNU Prof. Dr. A. Hanief Saha Ghafur, Ketua Prodi Hubungan Internasional UIN Jakarta Dr. Robi Sugara, serta Associate Professor Australian National University Prof. Greg Fealy.
Forum tersebut diharapkan menjadi ruang diskusi mengenai arah diplomasi NU menjelang Muktamar, termasuk posisi organisasi dalam menghadapi dinamika geopolitik global.
Rembug Warga NU Seri 3 digelar pada Minggu, 12 Juli 2026, mulai pukul 12.00 WIB di Setahun Kemarin Coffee, Jalan Kramat Sentiong, Senen, Jakarta Pusat.(kkp/jpnn)
Redaktur : Elvi Robiatul
Reporter : Kenny Kurnia Putra




