Bisnis.com, JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui Balai Yasa Pulubrayan terus bersiap dan memperkuat layanan di Divisi Regional (Divre) I Sumatra Utara, di tengah proses pengembangan konektivitas kereta Sumatra.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Penguatan tersebut diperlukan untuk menjaga layanan masyarakat saat ini sekaligus menyiapkan data dan dukungan teknis bagi kajian pengembangan konektivitas kereta api Sumatra Utara–Aceh.
Pengembangan konektivitas tersebut masih memerlukan kajian menyeluruh dan keputusan pemerintah. Kajian perlu mempertimbangkan kebutuhan perjalanan masyarakat, potensi ekonomi, keselamatan, kesiapan prasarana, pola operasi, tata ruang, dampak lingkungan dan sosial, pembiayaan, serta keterhubungannya dengan jaringan yang telah beroperasi.
“KAI dapat memberikan dukungan berupa data operasi, kebutuhan sarana, proyeksi pelayanan, dan kemampuan teknis. Sementara proses tersebut berjalan, prioritas kami adalah memastikan layanan yang telah digunakan masyarakat di Sumatra Utara tetap aman dan andal,” ujar Anne dalam keterangan resmi, dikutip pada Minggu (12/7/2026).
Saat ini, wilayah Divre I Sumatra Utara memiliki 476,460 kilometer lintas aktif dan 43 stasiun aktif yang tersebar di 13 kabupaten/kota.
Jaringan tersebut melayani perjalanan masyarakat serta distribusi barang menuju berbagai wilayah, termasuk Binjai, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Kisaran, Tanjungbalai, Rantauprapat, Belawan, Kuala Tanjung, dan Kualanamu.
Baca Juga
- KAI Sumbar Gunakan Biodiesel B50 Secara Bertahap
- KRL Bogor Line Seluruhnya Bakal Pakai 12 Rangkaian Mulai Pekan Depan
- KAI Targetkan Penumpang KRL Stasiun Karet Naik-Turun Lewat BNI City per 28 September 2026
Keberadaan jaringan aktif memberi data awal untuk membaca pola perjalanan, pusat permintaan, kebutuhan operasi, serta potensi integrasi dengan pelabuhan, bandara, kawasan industri, sentra perkebunan, dan pusat ekonomi daerah.
Sepanjang semester I/2026, KAI Divre I Sumatera Utara melayani 1.391.120 pelanggan, tumbuh sekitar 5% secara year on year (YoY).
Pertumbuhan terlihat pada sejumlah relasi utama. KA Sribilah Utama dan KA Sribilah Fakultatif relasi Medan–Rantauprapat pergi-pulang melayani 419.637 pelanggan, naik 8% YoY.
KA Putri Deli relasi Medan–Tanjungbalai pergi-pulang melayani 649.892 pelanggan, tumbuh 2% YoY. Sementara itu, KA Siantar Ekspres relasi Medan–Pematangsiantar pergi-pulang melayani 272.759 pelanggan, meningkat 9%.
Ketiga layanan tersebut mencakup sekitar 96,5% dari total pelanggan Divre I Sumatra Utara pada semester I/2026. Data tersebut menunjukkan kuatnya kebutuhan perjalanan antara Medan dan pusat kegiatan masyarakat di sisi timur Sumatra Utara.
Dari sisi Balai Yasa Pulubrayan, telah berhasil menyelesaikan perawatan berat terhadap lima lokomotif, 18 kereta penumpang, 102 gerbong barang, tiga kereta pembangkit, dan satu peralatan khusus sepanjang semester I/2026.
Balai Yasa Pulubrayan juga mengerjakan modifikasi dua kereta ekskonservasi menjadi kereta penolong. Pekerjaan meliputi penyesuaian struktur, instalasi kelistrikan, partisi, plafon, ventilasi, serta perangkat pendukung untuk membantu penanganan kondisi darurat di lintas.
“Kapasitas perawatan ini perlu dijaga dan dikembangkan secara bertahap mengikuti kebutuhan operasi serta arah kebijakan pemerintah,” ujar Anne.
Adapun, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana membangun jalur Kereta Api (KA) yang menghubungkan Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatra Utara. Rutenya adalah dari Sigli-Bireuen dan Lhokseumawe-Langsa-Besitang sepanjang lebih kurang 417,541 km.
Secara umum, jalur Aceh-Besitang diharapkan agar terhubung hingga Kota Pinang. Di sisi selatan, jalur Lampung-Palembang telah tersedia sehingga pemerintah akan melanjutkan konektivitas menuju Jambi, Riau, hingga kawasan pelabuhan Dumai.
Dengan demikian, Banda Aceh hingga Bandar Lampung dapat sepenuhnya tersambung melalui jaringan rel kereta api.





