Teheran: Sejumlah ledakan dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Iran bagian selatan pada Minggu dini hari, 12 Juli 2026, menyusul gelombang baru serangan yang dilancarkan Amerika Serikat.
Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya tiga ledakan terdengar di Kota Bandar Abbas, dua ledakan di Sirik, dua lainnya di sekitar Chabahar, serta lima ledakan di Dayyer, Provinsi Bushehr.
Televisi pemerintah Iran, yang dikutip Anadolu Agency, juga melaporkan adanya ledakan di wilayah Asaluyeh dan Bandar Dayyer.
Sementara itu, kantor berita Mehr melaporkan sedikitnya empat ledakan terjadi di Kota Jask, Provinsi Hormozgan.
Ledakan juga dilaporkan terdengar di Pulau Qeshm yang berada di dekat Selat Hormuz. Hingga kini belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut.
Serangan terbaru itu terjadi setelah Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan pelaksanaan putaran ketiga operasi militernya terhadap Iran dalam sepekan terakhir.
CENTCOM menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas dugaan serangan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap sebuah kapal kontainer berbendera Siprus yang melintasi Selat Hormuz.
Militer Amerika Serikat menegaskan operasi tersebut bertujuan mengurangi kemampuan Iran untuk menyerang kapal-kapal komersial yang melintas di salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Ketegangan antara Washington dan Teheran kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir setelah kedua negara saling melancarkan serangan meski sebelumnya telah menyepakati Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad yang dimediasi Pakistan untuk menghentikan konflik dan membuka jalan menuju perundingan damai yang lebih permanen.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia sehingga setiap gangguan keamanan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasar energi global.
Baca juga: Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Janji Balas Kematian Ayahnya




