Jakarta, tvOnenews.com - Suhu di ke kawasan dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah mencapai nol derajat Celcius.
Peristiwa ini menimbulkan fenomena embun beku atau embun upas di kawasan Dieng tersebut.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau wisatawan yang berkunjung pada periode Juli-September untuk mewaspadai penurunan suhu yang drastis.
Imbauan itu disampaikan langsung oleh Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Semarang, Yoga Sambodo, di Semarang, pada Kamis (9/7/2026).
"Kami imbau wisatawan yang akan berkunjung selama periode Juni sampai September untuk menyiapkan pakaian yang disesuaikan dengan kondisi setempat, seperti jaket tebal, sarung tangan, dan kaus kaki," katanya.
Menurut Yoga, fenomena butiran es di permukaan itu dikenal masyarakat sebagai fenomena embun upas.
Secara klimatologis, tekanan udara pada periode Juni-September lebih tinggi di Benua Australia dibanding Asia.
Oleh karena itu, angin yang berhembus dari Australia menuju Asia yang melewati Indonesia, umumnya menandai dimulainya periode musim kemarau, seiring dengan aktifnya monsun Australia.
Pada musim kemarau, kata dia, tutupan awan sangat minimum, sehingga tidak heran jika pada siang hari, matahari akan terasa sangat terik diiringi dengan peningkatan suhu udara.
Hal tersebut, lanjut dia, terjadi karena tidak ada objek di langit yang menghalau sinar matahari.
"Sama seperti pada siang hari, radiasi yang dipancarkan balik oleh permukaan bumi pada malam hari juga optimum karena langit bebas dari tutupan awan," katanya.
Ia menambahkan kelembapan udara cukup tinggi di wilayah pegunungan dan dataran tinggi.
Kelembapan udara yang tinggi, lanjut dia, merupakan indikasi udara di wilayah tersebut memiliki kadar air yang tinggi.
BMKG, menurut dia, memprakirakan fenomena embun upas akan mencapai puncak pada bulan Agustus. (ant)




