Inflasi Amerika Serikat (AS) meningkat lebih lanjut pada musim semi tahun ini seiring dampak yang terus berkembang dari kebijakan tarif, kenaikan harga energi akibat perang, serta pesatnya pembangunan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang mendorong tekanan harga.
Hal tersebut disampaikan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dalam laporan kebijakan moneter kepada kongres yang dirilis pada Jumat (10/7).
“Inflasi telah meningkat tahun ini dan masih berada pada level yang tinggi dibandingkan dengan target jangka panjang Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) sebesar 2 persen,” tulis laporan tersebut, dikutip Reuters, Minggu (12/7).
Data terbaru menunjukkan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi acuan utama inflasi The Fed, masih berada di kisaran dua kali lipat dari target tersebut hingga Mei.
Di sisi lain, laporan menyebut pasar tenaga kerja telah stabil, dengan permintaan dan pasokan tenaga kerja berada dalam kondisi yang relatif seimbang. Tingkat pengangguran pada Juni tercatat sebesar 4,2 persen dan masih dinilai rendah.
The Fed juga menyoroti perubahan tren demografi dan perekrutan tenaga kerja yang membantu menjaga kondisi tersebut. Lowongan pekerjaan tercatat relatif datar, tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) tetap rendah. Sementara jumlah angkatan kerja yakni kelompok masyarakat yang siap bekerja dan berkontribusi terhadap perekonomian mengalami stagnasi.
“Perlambatan yang signifikan dalam imigrasi dan terus menurunnya partisipasi angkatan kerja akibat penuaan penduduk menyebabkan perlambatan pertumbuhan pasokan tenaga kerja,” tulis laporan itu.
Meski demikian, secara keseluruhan The Fed menilai potensi ekonomi AS masih tumbuh dengan kuat. Perlambatan pertumbuhan angkatan kerja berhasil diimbangi oleh peningkatan produktivitas tenaga kerja yang tinggi.
Sepanjang beberapa bulan pertama 2026, pertumbuhan ekonomi AS dinilai berada pada tingkat moderat. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 2,1 persen secara tahunan, didukung lonjakan investasi di sektor AI, namun tertahan oleh pasar perumahan yang stagnan serta pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih terbatas.
Laporan kepada Kongres tersebut merupakan laporan pertama yang diterbitkan di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. Warsh dijadwalkan memberikan pernyataan di hadapan komite DPR dan Senat AS pada Selasa dan Rabu pekan depan dalam agenda evaluasi kebijakan moneter yang digelar dua kali setahun.
Sidang yang biasanya berlangsung pada musim semi sempat tertunda akibat kontroversi antara mantan Ketua The Fed Jerome Powell dan Presiden Donald Trump. Warsh mulai menjabat pada akhir Mei setelah masa jabatan Powell sebagai pimpinan bank sentral berakhir.
Sejak Desember lalu, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, kekhawatiran terhadap inflasi terutama sejak pecahnya perang AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari, mendorong pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini.
Warsh sendiri enggan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan mendatang. Meski begitu, proyeksi para pejabat The Fed dalam rapat 16-17 Juni menunjukkan pandangan yang terbelah antara mereka yang memperkirakan kenaikan suku bunga tahun ini dan mereka yang menilai suku bunga dapat tetap atau bahkan diturunkan.
Laporan tersebut juga menarik perhatian karena untuk pertama kalinya menyebut pembangunan AI sebagai salah satu pendorong inflasi dalam jangka pendek.
Warsh sebelumnya memandang AI berpotensi menekan inflasi melalui peningkatan produktivitas. Namun belakangan ia mengakui bahwa waktu munculnya manfaat produktivitas tersebut masih belum pasti, sementara permintaan terhadap listrik, chip khusus, dan berbagai material pendukung pembangunan infrastruktur AI terus meningkat.
Selain itu, laporan kembali menyinggung isu yang selama ini menjadi perhatian Warsh, yakni jumlah uang beredar. Ini merupakan pertama kalinya sejak 2016 laporan kebijakan moneter The Fed kembali membahas ukuran jumlah uang beredar.
Dalam beberapa dekade terakhir, pertumbuhan jumlah uang beredar tidak lagi dianggap sebagai faktor utama penyebab inflasi. Namun pengalaman selama pandemi COVID-19, ketika transfer dana pemerintah kepada rumah tangga mendorong lonjakan permintaan di tengah terbatasnya pasokan global, memicu perubahan pandangan tersebut.
Dalam sidang konfirmasi di Senat pada April, Warsh meyakini inflasi “terjadi ketika pemerintah mencetak terlalu banyak uang membelanjakan terlalu banyak.”
Pada bagian yang membahas M2, ukuran jumlah uang beredar yang mencakup uang tunai serta simpanan yang mudah dicairkan, termasuk reksa dana pasar uang ritel, laporan menyebut pertumbuhan tahunannya telah kembali ke kisaran yang lazim terjadi sepanjang dekade 2010-an.
Laporan itu juga menyebut bahwa kenaikan besar kepemilikan saldo uang riil masyarakat yang terjadi selama pandemi sebagian besar telah berbalik, yang dapat menjadi salah satu alasan mengapa inflasi berpotensi lebih terkendali. Sepanjang dekade 2010-an, The Fed justru menghadapi tantangan inflasi yang terus berada di bawah target.
Dalam pembahasan mengenai aturan kebijakan moneter (monetary policy rules), yang oleh Warsh disebut sebagai pedoman yang bersifat “aspirasional”, laporan mencatat berbagai model kebijakan saat ini mengindikasikan perlunya kenaikan suku bunga. Namun, The Fed mengingatkan agar rekomendasi tersebut tidak ditafsirkan secara kaku.
“Rekomendasi yang ditampilkan di sini mengabaikan fakta bahwa perekonomian akan berkembang secara berbeda apabila suku bunga kebijakan mengikuti salah satu jalur yang direkomendasikan oleh aturan tersebut. Karena itu, rekomendasi ini harus ditafsirkan secara hati-hati,” tulis laporan tersebut.





