Cuaca dingin ekstrem yang melanda kawasan Danau Ranu Klakah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, memicu fenomena ribuan ikan air tawar mabuk dan muncul ke permukaan. Peristiwa yang terjadi selama dua hari terakhir ini dimanfaatkan ratusan warga untuk berburu ikan, sementara petani ikan keramba harus menanggung kerugian akibat ikan budidaya ikut terdampak.
Ratusan warga memadati kawasan Danau Ranu Klakah bukan untuk berwisata, melainkan berburu ikan yang mengapung di permukaan danau. Berbekal tombak, jaring, dan jala sederhana, mereka menangkap ikan di tepian hingga ke tengah danau.
Fenomena ikan mabuk diduga dipicu kombinasi suhu dingin ekstrem akibat perubahan cuaca serta keluarnya kandungan belerang dari Gunung Lemongan. Kondisi tersebut menyebabkan ikan kehilangan keseimbangan sehingga mudah ditangkap.
Tak hanya ikan liar, ribuan ikan budidaya di keramba milik warga juga terdampak. Untuk mengurangi kerugian yang lebih besar, para petani memilih memanen ikan lebih awal dan menjualnya dengan harga lebih murah dibandingkan harga normal.
Baca Juga :
BMKG Imbau Potensi Banjir Rob, Inilah Prediksi Daftar Lengkap Wilayahnya!Salah seorang petani ikan keramba, Narwi, mengaku mengalami kerugian sekitar 15 persen akibat fenomena alam tersebut.
"Tadi subuh saya angkat, saya jual, alhamdulillah masih laku. Kerugiannya sekitar 15 persen," ujarnya dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Minggu 12 Juli 2026.
Melimpahnya hasil tangkapan membuat warga membuka lapak-lapak dadakan di sekitar danau. Salah seorang warga, Zuremi, mengatakan harga ikan menjadi lebih murah karena jumlah tangkapan meningkat. Ia juga menyebut fenomena ikan mabuk bukan kali pertama terjadi di Danau Ranu Klakah.
"Hampir tiap tahun. Kalau udaranya dingin, biasanya ikannya keluar," katanya.
Menurutnya, jenis ikan yang paling banyak muncul ke permukaan antara lain ikan nila dan udang. Fenomena musiman ini kerap menjadi berkah bagi warga yang berburu ikan, namun di sisi lain membawa kerugian bagi para pembudidaya ikan keramba.




