Ada Kilatan Hijau di Meteor yang Terlihat di Yogyakarta, Ini Penjelasannya

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Fenomena kilatan cahaya berwarna hijau yang diduga meteor dan terlihat di langit sejumlah wilayah pada Sabtu (11/7) malam menjadi perhatian publik. Cahaya tersebut terekam di sejumlah video warga, termasuk dari wilayah Yogyakarta.

Edukator Astronomi Planetarium dan Observatorium Jakarta UPPKJTIM, Muhammad Rayhan, mengatakan objek dalam video yang beredar memiliki ciri-ciri yang sangat identik dengan meteor.

"Saya pastikan bahwa itu adalah meteor. Karena memang sepanjang pengalaman saya hunting meteor, melihat, dan juga bahkan juga memotret dan termasuk merekam videonya, sudah banyak yang saya dapatkan. Itu memang ciri-cirinya adalah sangat mirip dengan sebuah meteor," kata Rayhan kepada kumparan, Minggu (12/7).

Menurut Rayhan, salah satu ciri yang paling mencolok adalah warna hijau yang tampak pada objek tersebut. Ia menjelaskan, warna itu berasal dari kandungan logam di dalam meteor yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi.

"Warna hijau itu biasanya eh karena dia terbuat dari logam atau tipe siderit, istilah astronomisnya. Dan di mana warna hijau itu terhasil dari bakaran dari material yang mostly adalah magnesium dan juga nikel, ya. Jadi berwarna kebiru-kehijauan, seperti itu. Kemudian dilihat dari sudut ketampakannya juga, itu sangat mirip dengan meteor juga," ujarnya.

Selain warna, Rayhan menyebut meteor memiliki karakteristik lain yang membedakannya dari pesawat maupun satelit. Meteor tampak bergerak sangat cepat, berasal dari titik cahaya kecil yang kemudian membesar, disertai ledakan-ledakan acak selama melintas di atmosfer.

Ledakan tersebut, kata dia, terjadi akibat material meteor mengalami tekanan dan panas yang sangat tinggi saat bergesekan dengan atmosfer Bumi.

"Kemudian sepanjang dia jatuh itu akan ada banyak ledakan yang random. Dan itu merupakan fenomena ledakan dari material yang ada di meteor tersebut ketika dia terpapar panas dan juga tekanan dari udara di bumi, sehingga membuat intinya itu bisa bertekanan tinggi dan akhirnya meledak," jelas Rayhan.

Dia menambahkan, meteor besar seperti yang diduga terekam dalam video juga dapat menimbulkan suara dentuman hingga getaran akibat gelombang kejut yang dihasilkan saat meledak di atmosfer.

Meski demikian, ia menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir. Menurutnya, meteor merupakan fenomena yang terjadi setiap hari dan sebagian besar habis terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi.

"Setiap hari rata-ratanya itu diprediksi hingga 50 ton meteor itu atau 50 ton berat batuan antariksa itu jatuh ke bumi. Karena memang luar angkasa itu tentu saja bukan ruang angkasa yang kosong, ya," tegas Rayhan.

"Jadi, ketika bumi melewati daerah yang padat batuan, dia akan tertarik oleh gravitasi dan akhirnya terbakar di atmosfer kita. Untungnya kita punya atmosfer sehingga kita akan terlindungi karena terbakar habis di atmosfer," tambahnya.

Pendiri Jogja Astro Club (JAC) Mutoha Arkanuddin juga menyatakan fenomena yang terekam di Yogyakarta merupakan meteor jenis bolide atau fireball yang sangat terang dan meledak di atmosfer sebelum mencapai permukaan Bumi.

Sementara peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Eks Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, mengatakan masih diperlukan data lebih lanjut untuk memastikan apakah laporan dari Bekasi, Cirebon, dan Yogyakarta merupakan bagian dari peristiwa yang sama.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iker Lecuona Raih Kemenangan Perdana di WorldSBK usai Hentikan Dominasi Nicolo Bulega di Donington Park
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Misteri di Balik Secangkir Kopi Ijen: Mengapa Aroma Belerang Bisa Melahirkan Cita Rasa “Grade 1” yang Mendunia
• 22 jam laluberitajatim.com
thumb
Kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Angin Sidrap Ditingkatkan
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Trump Ancam Musnahkan Iran dengan 1.000 Rudal Jika Dibunuh
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Baku Tembak di Festival Salsa Toronto, Dua Orang Tewas
• 7 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.