Tradisi Unduh-unduh GKJW Sidorejo Pare Kediri Semarak, Lelang Hasil Bumi Jadi Magnet Ribuan Warga

beritajatim.com
2 jam lalu
Cover Berita

Ringkasan Berita

Tradisi tahunan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen tersebut kembali menarik perhatian masyarakat. Berbeda dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya yang menghadirkan gunungan hasil bumi untuk disantap bersama, tahun ini perayaan lebih difokuskan pada arak-arakan budaya, pertunjukan tari tradisional, serta pelelangan hasil bumi yang berlangsung meriah.

Antusiasme warga terlihat sejak awal kegiatan. Ratusan masyarakat memadati lokasi untuk menyaksikan kirab sekaligus mengikuti lelang berbagai hasil panen dengan harga yang terjangkau.

Tradisi Syukur Panen yang Telah Berlangsung Turun-temurun

Ketua Panitia Unduh-unduh GKJW Sidorejo, Lulus Nugreheni, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Juli sebagai bentuk rasa syukur jemaat kepada Tuhan atas hasil panen yang diperoleh sepanjang tahun.

“Jadi masyarakat Sidorejo mengadakan syukuran untuk hasil bumi dan ditandai dengan perayaan unduh-unduh. Kami melaksanakan setiap tahun, setiap bulan Juli,” katanya.

Perayaan tahun ini juga memiliki makna istimewa karena menjadi bagian dari peringatan 128 tahun GKJW Jemaat Sidorejo.

Lulus menjelaskan, gereja tersebut berdiri pada 2 Juli 1898 di wilayah yang dahulu bernama Parerejo, sebelum kemudian berganti nama menjadi Sidorejo pada 11 November 1936.

.u29f785abe3379bc1c38c03b7c6f11dd3 { padding:0px; margin: 0; padding-top:1em!important; padding-bottom:1em!important; width:100%; display: block; font-weight:bold; background-color:#eaeaea; border:0!important; border-left:4px solid #D35400!important; text-decoration:none; } .u29f785abe3379bc1c38c03b7c6f11dd3:active, .u29f785abe3379bc1c38c03b7c6f11dd3:hover { opacity: 1; transition: opacity 250ms; webkit-transition: opacity 250ms; text-decoration:none; } .u29f785abe3379bc1c38c03b7c6f11dd3 { transition: background-color 250ms; webkit-transition: background-color 250ms; opacity: 1; transition: opacity 250ms; webkit-transition: opacity 250ms; } .u29f785abe3379bc1c38c03b7c6f11dd3 .ctaText { font-weight:bold; color:#464646; text-decoration:none; font-size: 16px; } .u29f785abe3379bc1c38c03b7c6f11dd3 .postTitle { color:#000000; text-decoration: underline!important; font-size: 16px; } .u29f785abe3379bc1c38c03b7c6f11dd3:hover .postTitle { text-decoration: underline!important; }
Baca Juga:  Deltras FC Sambut Positif Pencabutan Larangan Suporter Away Musim 2026/2027

Arak-arakan Budaya Angkat Identitas Lokal Kediri

Menurut Lulus, tradisi Unduh-unduh sebenarnya telah diwariskan sejak zaman nenek moyang. Namun, sejak tahun 2017 penyelenggara mulai menghadirkan arak-arakan budaya agar tradisi tersebut semakin menarik sekaligus menjadi sarana memperkenalkan budaya lokal Kediri kepada masyarakat luas.

“Acara ini sudah lama, sebenarnya sejak nenek moyang kami. Tetapi mulai tahun 2017 kami mengadakan arak-arakan supaya mengangkat budaya lokal di Kediri,” jelasnya.

Dalam kirab tersebut, setiap peserta membawa gunungan maupun kreasi hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas berkat panen yang diterima.

Sementara itu, berbagai tarian tradisional yang ditampilkan mengandung pesan tentang semangat bekerja, gotong royong, kebersamaan, dan keharmonisan masyarakat desa.

Pelelangan Hasil Bumi Diserbu Pengunjung

Usai prosesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pelelangan parsel buah serta hasil bumi yang menjadi salah satu agenda paling ditunggu masyarakat.

Panitia menyediakan dua jenis pelelangan, yakni:

Lelang tunai dengan harga mulai Rp75 ribu hingga Rp300 ribu per parsel.

Lelang kelompok berupa gunungan hasil bumi yang sebelumnya diarak dalam kirab budaya.

Salah seorang peserta lelang, Okta (25), mengaku membeli enam parsel sekaligus untuk keluarganya. “Saya ambil enam parsel karena keluarganya banyak. Menurut saya harganya murah, isinya juga banyak,” ujarnya.

Peserta lainnya, Gawit (54), menilai antusias masyarakat pada tahun ini meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. “Tahun ini lebih ramai. Kalau tahun lalu ada gunungan yang dimakan bersama, sekarang masyarakat lebih fokus ke pelelangan,” tuturnya.

Memadukan Nilai Religi dan Pelestarian Budaya

Melalui Tradisi Unduh-unduh, GKJW Sidorejo ingin menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dapat berjalan selaras dengan pelestarian budaya lokal.

Selain menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mempererat hubungan antarwarga, menumbuhkan kreativitas masyarakat, serta menjaga semangat gotong royong yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Di dalam kegiatan-kegiatan spiritual, kegiatan religi, kita bisa mengangkat budaya lokal yang kemudian diintegrasikan, dikolaborasikan, sehingga akan membuat kreativitas warga semakin tinggi. Di sini juga ada pesan-pesan moral yang arahnya pada ucapan syukur kepada Tuhan,” tandas Lulus.

Tradisi Unduh-unduh pun menjadi bukti bahwa nilai religius, budaya, dan kebersamaan dapat berpadu harmonis, sekaligus memperkuat identitas masyarakat Kabupaten Kediri di tengah perkembangan zaman. [nm/aje]


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
OPINI: Menghidupkan Jiwa Koperasi di Desa
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Tak Perlu Menunggu Mapan, Perencanaan Kekayaan Dapat Dimulai dari Rp 10 Ribu
• 20 menit lalukumparan.com
thumb
Prabowo: Gerakan Koperasi Indonesia Akan Bangkit Jadi Kekuatan Ekonomi
• 1 jam laludetik.com
thumb
Perbakin Surabaya Perketat Pengawasan Usai Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Atlet
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Tanda Kamu Sukses Tanpa Disadari
• 7 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.