HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Penyelenggaraan pameran 46 Tahun Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Trans Studio Mall Makassar berhasil menggerakkan ekonomi lokal Sulawesi Selatan dengan nilai transaksi mencapai Rp5 miliar dan dampak perputaran ekonomi diperkirakan lebih dari Rp100 miliar. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang promosi produk kerajinan Nusantara, namun juga menghidupkan sektor pariwisata, seperti hotel, transportasi, dan kuliner yang turut merasakan multiplier effect positif dari event tersebut.
Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, mengaku terkesan dengan kualitas dan kreativitas produk kriya dan wastra yang dipamerkan. Menurutnya, kreativitas menjadi modal utama agar produk kerajinan Indonesia mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa Sulawesi Selatan memiliki banyak produk unggulan dengan desain unik yang layak dikenal lebih luas.
“Hari ini terakhir pameran, transaksi di booth saja besar. Kegiatan ini memiliki multiplier effect yang luar biasa dalam menggerakkan ekonomi kita. Hotel-hotel penuh, transportasi, kuliner, dan restoran ikut bergerak. Luar biasa kegiatan Dekranas ini,” jelas Fatmawati saat meninjau stan pameran bersama Ketua DPRD Sulsel dan Ketua TP PKK Kabupaten Gowa usai seremoni penutupan yang diresmikan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian pada Minggu, 12 Juli 2026.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menekankan bahwa penyelenggaraan Dekranas tidak hanya menjadi ajang promosi kerajinan Nusantara, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat daya saing industri kerajinan nasional sekaligus memperluas akses pasar produk unggulan daerah. Pameran yang diikuti peserta dari seluruh provinsi serta kabupaten dan kota di Indonesia dengan 203 stan ini menampilkan beragam produk berbasis kearifan lokal yang mengedepankan nilai budaya dan inovasi.
Ketua TP PKK Kabupaten Gowa, Andi Tenri Indah Darmawangsyah, menilai pameran menjadi ruang bagi daerah untuk saling belajar dan memperkenalkan identitas melalui produk kerajinan khas masing-masing.
“Produk dari berbagai macam daerah masing-masing ada ciri khasnya. Kita bisa saling sharing dan melihat produk mereka yang dibawa ke Sulawesi Selatan. Harapan kita ke depannya, semoga pengrajin kita di Sulawesi Selatan kualitasnya semakin meningkat,” katanya.
Ketua Dekranasda Jawa Timur, Arumi Bachsin Elestianto Dardak, menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi sarana mempererat hubungan antardaerah melalui promosi budaya dan produk unggulan. Ia juga membagikan pengalamannya membeli baju bodo dari stan Kabupaten Wajo sebagai bentuk apresiasi terhadap kekayaan wastra Sulawesi Selatan.
“Momen ini kita manfaatkan untuk bisa saling mengenal budaya yang ada di Makassar dan seluruh peserta yang ada di sini bisa mengenal produk Jawa Timur. Harapannya kegiatan seperti ini selalu bisa menjadi wadah bagi para pengrajin untuk terus meningkatkan kualitasnya dari hari ke hari,” beber Arumi.
Selama lima hari penyelenggaraan sejak 8 hingga 12 Juli 2026, pameran tidak hanya menjadi etalase produk kerajinan Nusantara, tetapi juga membuka ruang kolaborasi antardaerah untuk memperluas jejaring pemasaran, bertukar pengalaman, serta mendorong lahirnya berbagai inovasi di sektor ekonomi kreatif. Penyelenggaraan ini sekaligus memperkuat citra Sulawesi Selatan sebagai tuan rumah kegiatan nasional berskala besar sekaligus mempromosikan produk unggulan daerah dan sektor pariwisata. (*/)





