67,6 Persen Balita Masih Konsumsi Kental Manis, CISDI: Alarm Darurat Bagi Pemerintah

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah tampaknya harus bekerja lebih keras untuk menyelamatkan pemenuhan gizi balita tanah air.

Meski sudah hampir satu dekade pemerintah menegaskan bahwa kental manis bukanlah susu, data lapangan menunjukkan produk tinggi gula ini masih terus diberikan kepada anak-anak sebagai minuman susu harian.

BACA JUGA: Akademisi Nilai Aturan Terkait Kental Manis Harus Tegas

Aturan pelarangan sendiri sebenarnya sudah lama mengikat. BPOM telah mengeluarkan Peraturan Nomor 31 Tahun 2018 yang kemudian diperkuat lewat Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2021 tentang Pengawasan Periklanan Pangan Olahan.

Regulasi ini secara tegas melarang kental manis dipromosikan atau dicitrakan sebagai produk susu pertumbuhan. Nyatanya, di tingkat rumah tangga, salah kaprah ini masih awet bertahan.

BACA JUGA: Produk Kental Manis Bukan Susu, Jangan Dijadikan Pengganti ASI

Lead Food and Nutrition Center dari Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Nida Adzilah Auliani, menilai fenomena ini sebagai alarm darurat.

Menurutnya, sengkarut kental manis ini menjadi bukti nyata bahwa perbaikan gizi nasional tidak akan pernah tercapai jika pemerintah hanya mengandalkan penerbitan regulasi di atas kertas tanpa edukasi masif di lapangan.

BACA JUGA: Tips Mengatasi Anak yang Kecanduan Kental Manis

“Selama bertahun-tahun, masyarakat terpapar promosi yang membangun citra kental manis sebagai produk susu yang identik dengan pertumbuhan dan kesehatan anak. Persepsi yang telah terbentuk dalam waktu lama tentu tidak dapat diubah hanya dengan menertibkan regulasi,” ujar Nida saat dihubungi pada Jumat (10/7).

Kegagalan menggeser persepsi keliru ini dikhawatirkan akan terus membebani target pemerintah dalam menurunkan angka tengkes (stunting) dan masalah malnutrisi pada anak-anak Indonesia.

Seperti diketahui Survei nasional Universitas Islam Bandung (Unisba) baru-baru ini terhadap 2.150 orang tua balita menunjukkan sebanyak 67,6 persen responden masih memberikan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan.

Hal lain dalam survei menemukan masih ada 66,9 persen mengenal kental manis melalui iklan di televisi, radio, maupun media massa. Angka tersebut menunjukkan pembatasan promosi tidak efektif.

Menurut Nida implementasi dan pengawasan terhadap aturan masih menjadi tantangan. Regulasi yang telah diterbitkan perlu diikuti dengan pengawasan yang konsisten terhadap praktik promosi serta komunikasi publik yang terus-menerus agar masyarakat menerima informasi yang sama mengenai fungsi dan penggunaan kental manis.

“Diperlukan pengawasan yang konsisten terhadap praktik promosi, penegakan aturan yang tegas terhadap pelanggaran, serta komunikasi publik yang berkelanjutan,” katanya.

Survei Unisba juga menemukan hampir separuh responden merupakan lulusan perguruan tinggi. Menurut Nida, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa persoalan konsumsi kental manis tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai masalah rendahnya tingkat pendidikan masyarakat.

Paparan informasi yang diterima masyarakat setiap hari, termasuk melalui promosi produk, dinilai memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat memandang suatu produk pangan. Oleh karena itu, perubahan perilaku memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dibanding hanya mengandalkan penyampaian informasi.

“Saat ini paparan produk tidak sehat semakin masif. Persepsi masyarakat tidak hanya dibentuk oleh pendidikan formal, tetapi juga oleh informasi yang mereka terima setiap hari. Karena itu, perubahan perilaku membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif,” ungkap Nida.(ray/jpnn)


Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Marc Marquez Waspadai Alex Marquez Meski Raih Pole Position dan Menang Sprint MotoGP Jerman
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Konflik Ruben Onsu dan Sarwendah Memanas, Nanda Persada Terkejut sang Presenter Ternyata Sudah Lama Memendam Masalah
• 3 jam lalugrid.id
thumb
Menuju Ade Penalti, Ini Live Streaming Argentina Vs Swiss
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
Profil Jayden Adams: Gelandang Afrika Selatan yang Meninggal Usai Tampil di Piala Dunia 2026
• 19 jam lalumedcom.id
thumb
Komisi Kejaksaan Diminta Proaktif Awasi 3 Kasus Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie
• 10 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.