Bagaimana Siasat Warga Menikmati Libur di Tengah Tekanan Ekonomi?

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Musim libur sekolah selalu menjadi momentum penting bagi para orangtua untuk menyegarkan pikiran sekaligus membahagiakan keluarga. Namun, pilihan dan dinamika menghabiskan waktu liburan kali ini sangat beragam, mulai dari yang mendadak mengubah rencana demi berburu suasana baru ke luar daerah, memilih destinasi yang cenderung sepi untuk menghindari kelelahan, hingga memutuskan tetap bertahan di dalam kota demi menyesuaikan kesibukan kerja. Meski dihadapkan pada bayang-bayang kemacetan dan terbatasnya waktu cuti, komitmen untuk memberikan pengalaman berkesan bagi anak-anak tetap menjadi prioritas utama.

Di sisi lain, pelaksanaan liburan kali ini tidak terlepas dari siasat masyarakat dalam menghadapi bayang-bayang kondisi ekonomi yang serba sulit. Kenaikan harga barang, jasa, hingga tarif fasilitas di tempat wisata yang kian mahal memaksa keluarga untuk lebih adaptif, baik dengan memilih akomodasi yang lebih ekonomis, memanfaatkan kendaraan listrik demi menghemat bahan bakar, maupun membatasi radius perjalanan demi menjaga pengeluaran. Pada akhirnya, masyarakat berharap kondisi perekonomian dapat segera kembali kondusif agar kebutuhan rekreasi keluarga tidak semakin membebani finansial rumah tangga.

Teguh Hidayat, wirausaha di Jakarta, menceritakan, awalnya ia dan keluarga tidak memiliki rencana untuk mengisi liburan sekolah kali ini karena enggan bepergian. Hal tersebut disebabkan mereka sudah membayangkan situasi kemacetan dan rasa lelah yang harus dihadapi selama di perjalanan. Namun, rencana tersebut mendadak berubah saat mereka tiba-tiba ingin merasakan suasana yang dingin, hingga akhirnya memutuskan berlibur ke Malang dengan melakukan transit terlebih dahulu di Semarang.

Di Jawa Timur, mereka menghabiskan waktu dengan mengunjungi Gunung Bromo, kawasan wisata Batu, mencoba berbagai wahana bermain di Jatim Park, hingga menikmati agrowisata untuk memetik buah secara langsung. Teguh menjelaskan, momen liburan sekolah ini tetap dimanfaatkan demi membahagiakan serta memberikan pengalaman baru di tempat yang belum pernah dikunjungi anak-anak. Meski tidak mempersiapkan anggaran secara spesifik, mereka merasa bersyukur karena urusan ekonomi keluarga selalu dimudahkan di tengah kondisi yang serba sulit ini.

”Prinsip kami, untuk anak atau keluarga tidak perhitungan. Insya Allah, rezeki akan didekatkan,” ungkap Teguh.

Sementara itu, Yosepha (46 ), ibu rumah tangga di Samarinda, Kalimantan Timur, menceritakan, pada libur sekolah kali ini, ia dan keluarga memilih tidak berlibur ke luar kota karena harus menyesuaikan dengan jadwal suaminya yang tengah sibuk bekerja. Sebagai alternatif, mereka memutuskan untuk jalan-jalan di dalam kota dengan mengunjungi salah satu kawasan alam yang bagus, seperti area persawahan di Kota Samarinda.

Dengan tidak bepergian ke luar kota, ia merasa keluarganya bisa sedikit menghemat pengeluaran. Ia merasakan ada perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Harga barang dan jasa pada tahun lalu dinilai masih sedikit murah, sementara saat ini seluruh harga kebutuhan sudah naik.

”Saya berharap pemerintah dapat segera mengatasi perekonomian di Indonesia supaya kondisi kembali kondusif dan lancar,” ujar Yosepha.

Victor Cahyadi Lieka (49), karyawan yang tinggal di Bogor, menceritakan, pada musim libur sekolah kali ini, ia mengajak keluarganya berlibur ke Ciletuh selama tiga malam dan dilanjutkan ke Cibodas saat mendapatkan cuti tambahan. Dari tahun ke tahun, ia sekeluarga selalu memilih destinasi yang cenderung sepi untuk menyegarkan diri dari rutinitas harian bertransportasi pulang-pergi Jakarta-Bogor. Durasi dan lokasi liburan kali ini sengaja dipilih yang dekat saja karena menyesuaikan dengan kesempatan cuti kerja yang lebih singkat dibandingkan tahun lalu saat mereka bisa berlibur lebih jauh ke Yogyakarta dan menjelajahi kawasan Gunung Kidul.

Untuk menyiasati anggaran, ia selalu memilih hotel yang ekonomis karena sebagian besar waktu dihabiskan untuk beraktivitas di luar ruangan. Meskipun biaya hidup di Yogyakarta tahun lalu dan Jawa Barat saat ini sulit dibandingkan secara langsung, ia merasakan adanya peningkatan biaya pengeluaran pada tahun ini. Salah satunya dipicu oleh tarif parkir liar di tempat wisata yang melonjak hingga Rp 20.000.

Di sisi lain, penggunaan kendaraan listrik membantunya menghemat biaya transportasi di tengah tingginya harga Pertamax dan antrean panjang Pertalite walaupun ia menyayangkan ketersediaan SPKLU masih relatif sedikit di daerah tertentu seperti Ciletuh.

”Mungkin ikut naik seiring kondisi ekonomi, ya,” ujar Victor saat merefleksikan kenaikan biaya yang dirasakannya tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tak Ada Kejutan Lagi! Empat Tim Peringkat Teratas FIFA Kuasai Semifinal Piala Dunia 2026
• 6 jam laluerabaru.net
thumb
15,845 Koperasi Desa Merah Putih Set to Begin Operations in August  
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KRL Bogor Line Bakal Pakai 12 Rangkaian, Pemenuhan Sarana Bertahap
• 13 jam laludetik.com
thumb
Mendagri Apresiasi Sulsel Sukses Jadi Tuan Rumah Syukuran Dekranas-HKG PKK
• 14 jam laludetik.com
thumb
Bintang Lapangan di Barcelona, Pedri “Mati Kutu” di Piala Dunia, Pelatih Spanyol Ungkap Penyebabnya
• 6 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.