REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Iran melancarkan respons militer paling masif sejauh ini terhadap pasukan AS di seluruh Timur Tengah pada hari Minggu, dengan menyerang pangkalan militer dan infrastruktur logistik di berbagai negara setelah Washington melakukan gelombang serangan ketiga terhadap wilayah Iran.
Aksi balasan tersebut berlangsung dalam tiga tahap berturut-turut dan disertai dengan pengumuman dari Korps Garda Revolusi Islam bahwa Selat Hormuz telah ditutup bagi lalu lintas maritim hingga intervensi AS di kawasan tersebut berakhir.
Baca Juga
AS Terus Bombardir Iran
Qatar Kecam Serangan Iran, Sebut Langgar Hukum Internasional
Diserang AS, Iran Balas Targetkan Pangkalan di Lima Negara Teluk
Eskalasi ini terjadi menyusul serangan Amerika pada malam sebelumnya yang menyasar fasilitas militer dan infrastruktur komunikasi di wilayah selatan Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa operasi tersebut menghantam sekitar 140 target—termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone, aset angkatan laut, jaringan komunikasi, serta gudang amunisi—dan menyebutnya sebagai rangkaian serangan ketiga yang dilancarkan terhadap Iran dalam kurun waktu satu minggu.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Washington mengklaim serangan tersebut dilakukan setelah Iran menargetkan sebuah kapal komersial di Selat Hormuz, sementara Teheran bersikeras bahwa insiden itu melibatkan tembakan peringatan setelah kapal tersebut mengabaikan instruksi navigasi.
Lanud Pangeran Hassan di Yordania
IRGC menyatakan bahwa tahap awal tanggapannya menyasar Pangkalan Udara Pangeran Hassan di Yordania menggunakan rudal balistik, yang menghancurkan fasilitas komando-dan-kendali serta hanggar yang digunakan untuk pesawat nirawak (drone) pengintai MQ-9.
BREAKING: Dozens of Ongoing Iranian Strikes are taking place in Qatar and Oman
The IRGC targeted the Supply, Logistics and Refueling station of the U.S. Navy in Oman pic.twitter.com/LRhfr2vwuu — Iran Observer (@IranObserver0) July 12, 2026
Dalam sebuah pernyataan, Garda tersebut menyebutkan bahwa operasi itu juga bertujuan mencegah upaya AS untuk membangun "koridor ilegal" di sebelah selatan Selat Hormuz, serta menuduh Washington berusaha memaksakan kehendaknya terhadap Oman terkait navigasi maritim.
IRGC menggambarkan serangan terbaru Amerika terhadap infrastruktur pesisir selatan Iran sebagai upaya untuk menutupi kegagalan militer sebelumnya, seraya memperingatkan bahwa agresi AS yang berkelanjutan akan dibalas dengan tindakan balasan yang lebih keras.
Iran kemudian memperluas tanggapannya dengan mengumumkan serangan terhadap posisi-posisi AS lainnya di kawasan Teluk.