Harga Emas Diprediksi Melemah, Simak Proyeksinya

metrotvnews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Harga emas masih berpotensi bergerak dalam tren melemah pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026. Berdasarkan analisis terbaru dari Dupoin Futures, analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai tekanan jual masih mendominasi pergerakan emas, baik dari sisi teknikal maupun fundamental.

"Selama belum ada perubahan sentimen yang signifikan di pasar global, peluang emas untuk melanjutkan koreksi dinilai masih cukup besar dengan target penurunan menuju area support berikutnya," kata dia dalam keterangan tertulis, Senin, 13 Juli 2026.

Menurut analisis Dupoin Futures, pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam struktur primary trend bearish. Kondisi tersebut terlihat dari harga yang belum mampu menembus area Moving Average (MA) 21 dan MA 34, yang saat ini berfungsi sebagai dynamic resistance.

"Keberadaan dua indikator tersebut menunjukkan setiap kali harga mencoba menguat, tekanan jual kembali muncul dan membatasi ruang kenaikan," ujar dia.

Geraldo menjelaskan, selama harga masih bergerak di bawah kedua garis moving average tersebut, potensi penguatan emas cenderung hanya bersifat sementara atau membentuk secondary trend. Artinya, kenaikan yang terjadi lebih berpeluang menjadi fase koreksi sebelum harga kembali melanjutkan tren penurunan yang lebih besar.

"Dengan kondisi seperti ini, pelaku pasar masih disarankan untuk lebih waspada terhadap dominasi seller yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda melemah," ungkap dia. Proyeksi pergerakan pasar Tekanan jual yang terus muncul setiap kali harga mendekati area resistance memperlihatkan minat beli belum cukup kuat untuk membalikkan arah tren. Selama belum terjadi breakout di atas MA 21 dan MA 34, peluang perubahan tren menuju bullish masih relatif terbatas.

Berdasarkan proyeksi Dupoin Futures, harga emas berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support pertama di level USD4.018. Apabila level tersebut gagal menahan tekanan jual, maka target penurunan berikutnya berada di kisaran USD3.972.

"Area tersebut diperkirakan menjadi level penting yang akan diperhatikan pelaku pasar sebagai potensi munculnya reaksi beli atau kelanjutan tren bearish. Sinyal pelemahan juga diperkuat oleh indikator stochastic yang masih bergerak turun menuju area oversold atau jenuh jual," ujar Geraldo.

Menurut Dupoin Futures, meskipun indikator mulai mendekati zona oversold, hingga saat ini belum terdapat sinyal pembalikan arah yang cukup kuat. Hal tersebut menunjukkan momentum bearish masih mendominasi, sehingga peluang penurunan masih lebih besar dibandingkan peluang rebound dalam jangka pendek.

Baca Juga :

Harga Emas UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Kompak Stagnan Hari Ini


(Ilustrasi. Foto: Unplash) Kebijakan suku bunga The Fed disorot Selain faktor teknikal, Dupoin Futures juga menilai sentimen fundamental masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan harga emas. Salah satu penyebabnya adalah ekspektasi pasar Federal Reserve masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.

"Kebijakan tersebut membuat dolar Amerika Serikat tetap memiliki daya tarik yang kuat di mata investor sehingga menekan permintaan terhadap emas," kata dia.

Menurut Dupoin Futures, penguatan dolar AS umumnya memiliki hubungan yang berlawanan dengan harga emas. Ketika nilai tukar dolar meningkat, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut dapat mengurangi permintaan terhadap logam mulia dan memperbesar peluang terjadinya tekanan jual.

Faktor lain yang turut menjadi perhatian Dupoin Futures adalah pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury Yield). Jika yield kembali meningkat, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang mampu memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan emas yang tidak menghasilkan bunga.

"Situasi ini berpotensi semakin membatasi ruang kenaikan harga emas dan memperkuat dominasi seller di pasar," ujar dia.

Meski demikian, Dupoin Futures mengingatkan bahwa pelaku pasar tetap perlu memperhatikan sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, seperti inflasi, data ketenagakerjaan, serta pidato para pejabat Federal Reserve.

"Apabila data-data tersebut menunjukkan pelemahan ekonomi dan mendorong ekspektasi kebijakan moneter yang lebih dovish, tekanan terhadap emas berpotensi mereda. Dalam kondisi tersebut, peluang perubahan arah atau rebound teknikal dapat mulai terbuka," kata dia.

Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai prospek harga emas masih cenderung bearish dalam jangka pendek. Selama harga belum mampu menembus area Moving Average 21 dan 34, tekanan jual diperkirakan masih mendominasi.

"Dengan dukungan sentimen fundamental berupa kuatnya dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi, Dupoin Futures memproyeksikan emas masih berpeluang melanjutkan pelemahan menuju area support USD4.018 hingga USD3.972, sembari menunggu katalis baru yang mampu mengubah arah pergerakan pasar," ungkap Geraldo.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Seorang Mahasiswa UAD Yogyakarta Diduga Lecehkan Mahasiswi saat KKN
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Logo Norwegian Kembali, Kolom Komentar Jadi Panggung Sportivitas Antarmerek
• 1 jam lalukompas.id
thumb
Armada Raksasa Militer AS Terparkir di Bandara Ben Gurion Israel
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Program B50 Diyakini akan Perkuat Ketahanan Energi Indonesia
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ekonom: KDKMP selaras dengan gagasan ekonomi pendiri bangsa
• 18 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.