Bisnis.com, SOLO - Tengah viral Koperasi Desa Merah Putih di wilayah Banjarsari, Solo, bisa meraih omset Rp300 juta dalam enam bulan.
Dilansir dari Antaranews, Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari, Kota Surakarta, mencatat pertumbuhan yang signifikan sejak mulai beroperasi pada September 2025.
Dalam enam bulan pertama 2026, koperasi tersebut berhasil membukukan omzet lebih dari Rp300 juta, sekaligus memperluas jumlah anggotanya dari semula 32 orang menjadi sekitar 130 orang.
Ketua KKMP Banjarsari, Budi Agung Setyowicoyo, mengatakan koperasi didirikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjadi wadah yang memperkuat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah Banjarsari.
"Koperasi kami berdiri dan bergerak untuk melayani masyarakat dalam penyediaan gerai sembako. Kemudian kita juga bekerja sama dengan UMKM di Kota Surakarta," kata Budi, Minggu (12/7), seperti dilansir dari Antaranews.
Berawal dari sebuah garasi, koperasi kini berkembang menjadi pusat penyedia kebutuhan pokok sekaligus mitra pemasaran bagi produk-produk UMKM lokal.
Baca Juga
- Prabowo Sebut KopDes Merah Putih Akan Salurkan Kredit Bunga Murah 8%
- Presiden Prabowo Klaim KopDes Bisa Dongkrak Kesejahteraan Rakyat Rp223 Triliun Per Tahun
- Prabowo Sebut Ide Program KopDes Merah Putih Ada Di Benaknya Selama Puluhan Tahun
Selain menjual sembako, KKMP Banjarsari juga menjalankan fungsi sebagai off taker, yaitu menyerap dan membantu memasarkan hasil produksi UMKM sehingga pelaku usaha memiliki kepastian pasar.
Di sisi lain, koperasi juga berperan sebagai hub distribusi kebutuhan pokok dengan menggandeng Bulog, ID Food, serta sejumlah distributor.
Skema tersebut diharapkan mampu menjaga ketersediaan pasokan, memperpendek rantai distribusi, dan menghadirkan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
"Kami berperan sebagai off taker dari Koperasi Merah Putih terhadap UMKM dan kami juga akan memerankan diri sebagai hub untuk produk-produk kebutuhan sembako bagi warga kita," ujarnya.
Kinerja koperasi terus menunjukkan tren positif. Setelah mencatat sisa hasil usaha (SHU) sebesar Rp2 juta pada akhir 2025, nilai transaksi meningkat pesat sepanjang Januari hingga Juni 2026 dengan omzet menembus Rp300 juta.
Budi optimistis pencapaian tersebut masih akan terus bertambah hingga akhir tahun.
"Saya meyakini ke depan, dari di akhir tahun (omzet) kami akan meningkat tajam terkait dengan pembukuan SHU-nya," katanya.
Keberhasilan KKMP Banjarsari menjadi salah satu contoh awal implementasi Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang tengah dikembangkan pemerintah untuk memperkuat ekonomi berbasis masyarakat.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan program tersebut dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan melalui penguatan koperasi di tingkat desa dan kelurahan.
"Pemerintah Republik Indonesia punya gawe yang cukup besar, bagaimana menumbuhkembangkan ekonomi kerakyatan dengan membangun Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP)," kata Sumarno.
Untuk mendukung keberlanjutan program tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mengintegrasikan materi perkoperasian ke dalam dunia pendidikan melalui Program Insersi Pendidikan Perkoperasian.
Program ini menjadikan Jawa Tengah sebagai provinsi pertama yang menerapkan pendidikan koperasi secara sistematis bagi sekitar 6,38 juta peserta didik, mulai dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA hingga SLB.
Menurut Sumarno, langkah tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai konsep koperasi sejak dini.
"Kami punya konsep untuk insersi pendidikan koperasi, karena apa? pemahaman terhadap konsep koperasi mungkin belum dipahami secara utuh," tuturnya.





