Pantau - Pejabat kesehatan di Gaza pada Sabtu (11/7) memperingatkan sistem kesehatan di wilayah tersebut menghadapi krisis serius akibat kelangkaan obat-obatan, peralatan medis, dan layanan ambulans yang dinilai mengancam nyawa ratusan ribu pasien.
Direktur Organisasi Bantuan Medis (Medical Relief Organization) di Gaza, Mohammed Abu Afash, mengatakan sistem kesehatan belum menerima konvoi bantuan medis yang telah dijanjikan sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025.
Kelangkaan Obat dan Alat Medis Semakin ParahMenurut Abu Afash, belum masuknya bantuan medis menyebabkan kelangkaan kritis obat-obatan dan peralatan medis.
Ia menyebut defisit pasokan alat uji medis telah melampaui 87 persen.
Abu Afash mengatakan lebih dari 24.000 pasien penyakit kronis tidak memperoleh perawatan yang memadai.
Ia juga mengungkapkan lebih dari 300.000 pasien hipertensi menghadapi risiko komplikasi serius akibat terputusnya pengobatan.
Abu Afash memperingatkan meningkatnya suhu pada musim panas berpotensi mempercepat penyebaran penyakit menular di kamp-kamp pengungsian yang padat penduduk.
Sebagian Besar Ambulans Tidak BeroperasiOtoritas kesehatan Gaza menyatakan sekitar 70 persen armada ambulans tidak dapat beroperasi.
Menurut otoritas kesehatan, kondisi tersebut disebabkan serangan yang ditargetkan, kerusakan mesin, serta kelangkaan suku cadang.
Otoritas kesehatan Gaza juga memperingatkan larangan yang terus berlangsung terhadap masuknya ban dan suku cadang berpotensi melumpuhkan sistem transportasi ambulans.
Situasi tersebut mendapat kecaman dari pejabat Fatah, Munther al-Hayek.
Dalam wawancara radio, al-Hayek menggambarkan kondisi tersebut sebagai "perang skala penuh yang dipimpin oleh Amerika Serikat melalui Israel."




