Bisnis.com, JAKARTA — Institute For Development of Economics and Finance (Indef) menilai publik perlu berhati-hati menafsirkan pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai gunung emas di Papua. Keberadaan dari harta berharga tersebut perlu pembuktian.
Diketahui, Prabowo sempat mengatakan bahwa ada temuan cadangan emas dan mineral "sangat besar" di Pegunungan Papua. Hal ini sempat memunculkan optimisme baru terhadap masa depan sektor pertambangan nasional.
Namun, di balik prospek tersebut, mengingatkan bahwa temuan awal hasil ekspedisi ilmiah belum dapat dikategorikan sebagai cadangan yang siap ditambang.
Bagi industri pertambangan, perjalanan dari indikasi mineral hingga menjadi tambang yang beroperasi secara komersial merupakan proses panjang yang membutuhkan eksplorasi intensif, investasi jumbo, kepastian regulasi, hingga penyelesaian persoalan lingkungan dan sosial.
Head of Center of Industry, Trade and Investment Indef Andry Satrio Nugroho mengatakan, istilah "cadangan" memiliki definisi teknis dalam industri pertambangan yang tidak bisa disimpulkan hanya berdasarkan hasil survei awal.
Menurutnya, informasi yang disampaikan pemerintah lebih tepat disebut sebagai indikasi atau potensi mineral karena masih memerlukan tahapan eksplorasi dan pembuktian teknis.
Baca Juga
- Harga Buyback Emas Antam Hari Ini Senin 13 Juli 2026 & Besaran Pajaknya
- Harga Emas Perhiasan Hari Ini Senin 13 Juli 2026
- Harga Buyback Emas Antam, UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini Senin 13 Juli 2026
"Menurut saya klaimnya perlu diuji. Sepertinya bukan cadangan tetapi ada indikasi atau potensi karena informasi yang didapat berdasarkan survei. Kalau cadangan, maka harus dilakukan kegiatan eksplorasi yang teruji baru bisa disebut sebagai cadangan," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (12/7/2026).
Andry menjelaskan, Papua memang sejak lama dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan mineral terbesar di dunia. Sabuk tembaga dan emas Pegunungan Tengah membentang dari Papua Tengah hingga Papua Pegunungan dan berlanjut ke Papua Nugini.
Di luar kawasan tersebut, Papua juga memiliki potensi nikel laterit di sekitar Raja Ampat dan Pulau Gag, serta cadangan gas besar melalui proyek LNG Tangguh.
Selain itu, masih terdapat sejumlah wilayah prospektif yang belum dikembangkan secara optimal, salah satunya Blok Wabu yang sebelumnya dilepas PT Freeport Indonesia pada 2018.
Artinya, keberadaan potensi mineral di Papua bukanlah informasi baru. Tantangan sesungguhnya justru terletak pada bagaimana potensi tersebut dapat dikonversi menjadi produksi yang memberikan nilai tambah bagi negara.
"Masalah sebetulnya itu bukan di cadangan, tapi jika kita tambang di situ, dibutuhkan investasi besar," tutur Andry.
Investasi Jumbo dan Risiko TinggiMenurut Andry, membangun tambang baru di Papua bukan perkara sederhana.
Selain membutuhkan investasi bernilai miliaran dolar AS, pengembangan tambang di kawasan pegunungan menghadapi tantangan berupa kondisi geografis ekstrem, keterbatasan infrastruktur, persoalan keamanan, hingga potensi konflik dengan kawasan konservasi.
Belum lagi persoalan pengelolaan tailing atau limbah tambang yang menjadi isu sensitif dalam setiap proyek pertambangan skala besar.
"Terdapat masalah lain, misalnya persinggungan dgn kawasan konservasi, keamanan karena sering konflik, infrastruktur di kondisi wilayah ekstrem, terakhir tailing atau limbah?" katanya," kata Andry.
Dia juga mempertanyakan kesiapan badan usaha milik negara apabila pemerintah ingin menjadikan perusahaan pelat merah sebagai pengelola utama.
Sebagai contoh, PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) selama ini lebih banyak memperoleh pendapatan dari bisnis pemurnian dan perdagangan emas melalui Logam Mulia dibandingkan produksi tambang emas primer.
Produksi emas Antam yang berkisar sekitar 166.000 ounce per tahun dinilai masih jauh apabila dibandingkan dengan potensi Blok Wabu yang diperkirakan memiliki sumber daya mencapai sekitar 8,1 juta ounce.
Menurut Andry, pengalaman Antam selama ini lebih banyak berkembang melalui akuisisi tambang yang sudah beroperasi dibandingkan membuka proyek eksplorasi baru atau greenfield yang memiliki tingkat kegagalan tinggi.
"Jadi kembali lagi, pun kita sudah punya informasi terkait cadangan, bisa tidak kita menambang dan mengelolanya?" ujarnya.





