Ringkasan Berita
- Sanggar Aji Laras menggelar Ruwatan Massal Murwakala di kawasan Petilasan Sri Aji Jayabaya, Dusun Kunir, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, yang diikuti sekitar 150 peserta.
- Prosesi ruwatan menjadi penutup rangkaian peringatan 1 Suro, dengan tujuan memohon keselamatan, kesehatan, kelancaran rezeki, dan kehidupan yang lebih baik melalui doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Ritual diawali pagelaran wayang, dilanjutkan doa bersama, kenduri, pelepasan burung, pemotongan rambut, hingga siraman menggunakan air dari 14 sumber, termasuk mata air di Kediri, Patirtan Gunung Padang, Tirta Empul Bali, dan Pantai Selatan.
- Selain memiliki makna spiritual, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi dan budaya Jawa agar tetap hidup serta diwariskan kepada generasi muda.
Kediri (beritajatim.com) – Sanggar Aji Laras, Dusun Kunir, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, kembali menggelar Ruwatan Massal Murwakala di kawasan Petilasan Sri Aji Jayabaya. Kegiatan yang menjadi penutup rangkaian peringatan 1 Suro tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri ratusan warga.
Ruwatan Massal Murwakala tahun ini diikuti sekitar 150 peserta yang datang dari berbagai daerah dengan harapan memperoleh keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan dalam menjalani kehidupan.
Ruwatan Massal Kedua di Petilasan Sri Aji Jayabaya
Dalang sekaligus pemilik Sanggar Aji Laras, Ki Browdianto, menjelaskan bahwa penyelenggaraan ruwatan massal tahun ini merupakan kali kedua. Sebelumnya, pada 2025, pihaknya menggelar ruwatan khusus untuk wayang.
“Dulu awalnya yang saya ruwat adalah wayang tahun 2025 dan tahun ini ruwatan massal yang diikuti kurang lebih 150 peserta ruwatan,” katanya.
Menurut Browdianto, Ruwatan Murwakala merupakan ikhtiar spiritual untuk membersihkan unsur sukerta yang dipercaya melekat pada manusia sejak lahir melalui doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Memohon Keselamatan, Rezeki, dan Kehidupan Lebih Baik
Ia menjelaskan seluruh prosesi memiliki makna permohonan keselamatan lahir dan batin, kesehatan, kelancaran rezeki, hingga kemudahan dalam berbagai urusan kehidupan.
“Keselamatan lah intinya diberi kelancaran, keselamatan lahir batin di dunia, keselamatan rezekinya, yang belum kerja biar cepat kerja, yang belum nikah supaya cepat nikah,” terangnya.
Para peserta diwajibkan membawa kain putih sepanjang satu meter, bubur beras merah, serta bubur beras putih sebagai bagian dari perlengkapan ritual adat.
Siraman Air dari 14 Sumber
Usai pagelaran wayang, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama, kenduri atau selamatan, serta pelepasan burung dan sejumlah hewan peliharaan sebagai simbol terbebas dari berbagai kesulitan hidup.
Prosesi inti berupa pemotongan rambut dan siraman dilakukan menggunakan air yang berasal dari 11 mata air di Kabupaten dan Kota Kediri, ditambah air dari Patirtan Situs Gunung Padang di Jawa Barat, Tirta Empul di Bali, serta air laut Pantai Selatan.
Air tersebut dimaknai sebagai simbol permohonan berkah, keselamatan, dan kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa.
Selain itu, prosesi juga dilengkapi sesaji berupa tumpeng, jajanan pasar, kembang setaman, pisang raja, hingga berbagai bumbu dapur yang menjadi bagian dari tradisi ruwatan.
“Kita sesajen atau penyajian kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi kelancaran, kesehatan, rezeki, dan keselamatan,” jelas Browdianto.
Memberikan Ketenangan Batin
Salah seorang peserta, Zevita Vallen (43) asal Kecamatan Banyakan, mengaku telah beberapa kali mengikuti ruwatan karena merasakan ketenangan batin setelah mengikuti prosesi tersebut.
Ia berharap kehidupan keluarganya semakin baik dan penuh keberkahan.
“Yang saya harapkan tahun ini kehidupan saya lebih baik lagi, keluarga lebih tenteram, mendapatkan berkah dan hidayah dari Allah SWT. Alhamdulillah setelah mengikuti ruwatan tahun lalu saya mendapat hidayah menjadi mualaf,” ungkapnya.
Melestarikan Warisan Budaya Jawa
Selain menjadi ritual spiritual, Ruwatan Massal Murwakala juga menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian budaya Jawa agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak tidak hanya memaknai tradisi sebagai warisan leluhur, tetapi juga menjaga nilai-nilai kebersamaan, spiritualitas, dan kearifan lokal agar terus diwariskan kepada generasi mendatang. [nm/kun]




