Konsolidasi Tjokro Group Kian Solid, GPSO Siap Akselerasi Transformasi Industri

wartaekonomi.co.id
7 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Transformasi PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) di bawah kepemilikan pengendali baru, PT PIMSF yang merupakan bagian dari Tjokro Group, mulai menunjukkan perkembangan positif. Setelah menuntaskan tahap awal aksi korporasi, emiten yang sebelumnya dikenal sebagai penyedia solusi geospasial ini kini bersiap memperluas bisnis ke sektor komponen mekanikal dan permesinan.

Pada perdagangan saat ini, saham GPSO berada di level Rp284 per saham. Harga tersebut masih berada di bawah harga pelaksanaan private placement sebesar Rp427 per saham. Melalui aksi korporasi tersebut, Tjokro Group telah menggelontorkan dana sebesar Rp28,46 miliar sebagai bentuk komitmen investasi terhadap pengembangan perusahaan.

Dari sisi pasar modal, minat investor juga menunjukkan peningkatan. Berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek, jumlah investor yang memiliki saham GPSO melalui Single Investor Identification (SID) bertambah menjadi 4.470 per Juni 2026, naik 43 investor dibandingkan 4.427 investor pada Mei 2026. Meski kenaikannya relatif terbatas, tren tersebut menunjukkan basis pemegang saham ritel tetap bertumbuh.

GPSO juga memastikan telah memenuhi ketentuan Bursa Efek Indonesia terkait kepemilikan saham publik (free float). Saat ini, porsi saham yang dimiliki publik mencapai 56,61%, jauh di atas batas minimum yang dipersyaratkan. Dengan demikian, saham GPSO tidak masuk dalam kategori yang berpotensi terkena notifikasi khusus terkait pemenuhan free float maupun Hypothetical Shares Collapse (HSC).

Manajemen GPSO menegaskan transformasi perusahaan akan terus berlanjut setelah proses akuisisi. Mengacu pada Keterbukaan Informasi mengenai Rencana Restrukturisasi yang dipublikasikan pada 21 Januari 2026 dan diperbarui pada 18 Juni 2026, perseroan akan melaksanakan sejumlah aksi korporasi lanjutan yang didukung melalui pendanaan ekuitas maupun instrumen utang.

Menurut manajemen, langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah perusahaan sekaligus memperluas lini usaha ke industri komponen mekanikal dan machining, sejalan dengan pengalaman dan kompetensi yang dimiliki Tjokro Group, dikutip Senin (13/7/2026).

"Langkah ini diambil demi meningkatkan nilai tambah (value added) bagi perseroan. Mengingat rekam jejak kuat Tjokro Group, GPSO akan bertransformasi masuk ke industri baru yang sangat strategis, yaitu bidang komponen mekanikal dan permesinan (machining)," tulis manajemen GPSO dalam jawaban resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).

Ke depan, perusahaan menargetkan terciptanya rantai pasok yang terintegrasi dari hulu hingga hilir sehingga mampu meningkatkan daya saing, baik di pasar domestik maupun internasional.

Seluruh rencana tersebut saat ini masih dalam proses kajian menyeluruh (due diligence) dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan usaha dan kepatuhan terhadap regulasi pasar modal.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menilai pergerakan saham GPSO yang berada di level Rp284 per saham saat ini masih berada dalam fase konsolidasi setelah sebelumnya mengalami akumulasi.

Untuk jangka pendek, ia melihat area support berada di kisaran Rp268-Rp276, sementara resistance berada pada level Rp300-Rp316. Apabila saham mampu bertahan di atas area support dan menembus Rp300, maka peluang menuju level Rp316 dinilai terbuka.

Baca Juga: GPSO Rampungkan Private Placement, Siapkan Ekspansi ke Real Estat

Baca Juga: Jelang Demutualisasi, BEI Akan Lelang 11 Saham Bursa pada 3 Agustus

Sementara itu, untuk jangka menengah, area support diperkirakan berada di kisaran Rp240-Rp250 per saham, sedangkan resistance berada pada rentang Rp360-Rp420 per saham. Level tersebut sekaligus mendekati harga pelaksanaan private placement sebesar Rp427 per saham.

Secara teknikal, harga GPSO saat ini masih berada di bawah harga masuk investor strategis dalam aksi private placement. Meski demikian, prospek pergerakan saham ke depan tetap akan bergantung pada realisasi rencana transformasi bisnis, kinerja fundamental perusahaan, serta sentimen pasar secara keseluruhan. Selama harga mampu bertahan di atas area support utama, peluang penguatan menuju level resistance berikutnya masih terbuka.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Presiden Prabowo Ibaratkan Koperasi seperti Sapu Lidi: Satu Lemah Kalau Digabung Jadi Kuat
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
Sinopsis Drama China Shine on Me, Kisah Cinta Song Wei Long dan Zhao Jin Mai yang Berlatar Dunia Korporat
• 12 jam lalugrid.id
thumb
Suka Menggetarkan Warganet, Kenapa Ruben Onsu Gencar Bikin Konten Bareng Ustaz dan Tokoh Agama?
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Lionel Messi Akhirnya Hadapi Timnas Inggris untuk Pertama Kalinya di Semifinal Piala Dunia 2026
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Gubernur Ahmad Luthfi Tunjuk Eko Sapto Purnomo Jadi Plt Bupati Sukoharjo
• 7 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.