Hadiri Hari Jadi Cianjur, Dedi Mulyadi Beri Kado Termahal untuk Masyarakat

grid.id
1 jam lalu
Cover Berita

Grid.IDHadiri hari jadi Cianjur, Dedi Mulyadi beri kado termahal untuk masyarakat. Apa itu?

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menghadiri Sidang Paripurna dalam rangka peringatan Hari Jadi Cianjur (HJC) ke-349 yang digelar di Gedung DPRD Cianjur pada Minggu (12/7/2026) sore.

Dalam sambutannya, Dedi menggunakan bahasa Sunda dengan lancar untuk menyampaikan pandangannya mengenai Kabupaten Cianjur di hadapan para anggota DPRD, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta tamu undangan.

Setelah sidang berakhir, Dedi mengungkapkan telah menyiapkan hadiah khusus bagi Cianjur yang kini memasuki usia hampir 350 tahun. Hadiah tersebut berupa pembangunan infrastruktur jalan di kawasan Kecamatan Cikadu.

“Hadiahnya pembangunan infrastruktur di Cikadu, kita tahu dulu di sana jalannya paling berat, dan sekarang sudah selesai. Itu hadiah paling mahal,” ujar Dedi, dikutip dari Kompas.com.

Selain jalur lintas selatan, Dedi juga bersiap menata kawasan Puncak setelah dilakukan penertiban besar-besaran terhadap keberadaan bangunan liar di sisi kanan dan kiri jalan, termasuk di bahu jalan sepanjang Jalur Puncak Cianjur.

“Nanti akan kita tata seperti Ciater (Subang). Soal relokasi pedagang, nanti kita pikirkan, tempat relokasinya di mana,” ujar Dedi.

Dedi berharap perbaikan infrastruktur yang dilakukan dapat diikuti dengan langkah pemerintah daerah untuk segera menyesuaikan tata ruang wilayah. Selain itu, ia juga mengingatkan Bupati Cianjur, Wahyu Ferdian, agar terus memperhatikan dan meningkatkan kebersihan lingkungan demi kenyamanan masyarakat.

“Karena itu kunci untuk mewujudkan kemajuan. Pak bupati juga harus terus mendorong masyarakatnya untuk sekolah,” imbuhnya.

Berita Lain

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi ikuti Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Kota Bandung, Sabtu (16/5/2026). Kirab dimulai dari Taman Kiara Artha Park melintasi Jalan Jakarta, Jalan Supratman, dan berakhir di Gedung Sate.

Kirab Mahkota Binokasih berlangsung dengan meriah. Dedi Mulyadi naik kuda putih. Penampilan Gubernur Jabar jadi sorotan.

 

Selama iring-iringan berlangsung, Dedi menyempatkan diri menyapa ribuan masyarakat Kota Bandung yang telah memenuhi rute kirab sejak sore sampai malam. Berdasarkan pantauan Kompas.com, rombongan Dedi Mulyadi tiba di Gedung Sate sekitar pukul 20.55 WIB.

Dalam kirab tersebut turut hadir Raja Karaton Sumedang Larang, Sri Radya HRI Lukman Soemadisoeria, bersama 27 kepala daerah se-Jawa Barat. Sejumlah pejabat yang terlihat mengikuti kegiatan itu di antaranya Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian, serta Bupati Indramayu Lucky Hakim.

Antusiasme warga tampak tinggi dengan memadati area kirab demi menyaksikan langsung pawai budaya sekaligus pengawalan Mahkota Binokasih.

Sementara itu, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Barat yang juga Ketua Panitia Milangkala Tatar Sunda, Dedi Supandi, menegaskan bahwa Mahkota Binokasih Sanghyang Pake yang dibawa dalam kirab budaya di Bandung merupakan mahkota asli.

"Itu asli, bukan replika. Meskipun di Sumedang ada replikanya, tetapi yang ini 100 persen asli," katanya dalam keterangan tertulis, dikutip dari Kompas.com.

Ia menerangkan bahwa Mahkota Binokasih dibawa dalam rangkaian kirab budaya Milangkala Tatar Sunda yang berlangsung dari Kiara Artha Park hingga Gedung Sate. Sebanyak 27 daerah kabupaten dan kota di Jawa Barat turut ambil bagian dengan menampilkan seni budaya khas masing-masing wilayah.

Tidak hanya peserta dari Jawa Barat, beberapa daerah dari luar provinsi juga turut berpartisipasi untuk menyemarakkan kirab budaya tersebut.

"Bukan hanya itu, beberapa perwakilan dari luar Jabar juga akan hadir, seperti dari Aceh, DKI Jakarta, Surakarta, Jogjakarta, Ponorogo, hingga Tegal dan Brebes," katanya.

Suasana di sepanjang Jalan Pusdai hingga Jalan Diponegoro, Kota Bandung, terlihat lebih ramai dari biasanya pada Sabtu malam (16/5/2026). Ratusan warga memadati tepi jalan untuk menyaksikan Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran dalam rangkaian acara “Binokasih Mulang Salaka” yang berakhir di Kota Bandung.

Mayoritas pengunjung yang datang bersama keluarga mulai berdatangan sejak sore. Mereka memenuhi trotoar dan sisi jalan demi memperoleh tempat terbaik untuk melihat langsung arak-arakan budaya yang melintas.

Semangat masyarakat semakin terasa ketika rombongan kirab memasuki kawasan Pusdai. Sorakan “Bapa Aing” terdengar menggema dari warga yang menyambut kedatangan rombongan, membuat suasana malam semakin meriah.

Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran menjadi puncak rangkaian peringatan Milangkala Tatar Sunda. Arak-arakan yang membawa Mahkota Binokasih tersebut sebelumnya telah menempuh perjalanan panjang dari Kabupaten Sumedang sejak 3 Mei 2026 dengan melintasi sejumlah wilayah, seperti Kawali di Ciamis, Kampung Naga di Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Bogor, Karawang, Depok, hingga Kabupaten Cirebon.

 

Saat tiba di Kota Bandung, kirab dimulai dari Kiara Artha Park lalu melintasi Jalan Jakarta dan Jalan Supratman sebelum berakhir di kawasan Gedung Sate.

Bagi masyarakat, kirab budaya ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga momentum untuk mengingat pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya. Salah seorang pengunjung asal kawasan Mohammad Toha bernama Zoya mengaku sengaja datang untuk menyaksikan langsung prosesi kirab tersebut.

“Menurut aku ini pengalaman yang terbaik. Soalnya kan seni tentang budaya-budaya jadi mengingatkan kita harus terus ingat sama budaya,” ujar Zoya, mahasiswa jurusan pendidikan seni tari di Universitas Pendidikan Indonesia, dikutip dari TribunJabar.id.

Ia menilai kegiatan seperti ini sangat positif karena mampu mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih dekat dengan kebudayaan daerah.

“Kalau ada acara seperti ini, jadi mengajak warga untuk menonton dan ada kegiatan positif,” tambahnya.

Hal serupa disampaikan Anisa, pengunjung lainnya yang juga turut menyaksikan kirab. Ia mengaku kegiatan ini menjadi alternatif hiburan sekaligus sarana pembelajaran budaya.

“Bagus sih, biar warga Jawa Barat punya kegiatan positif untuk melihat seni-seni budaya. Saya juga jadi bisa belajar hal baru,” ujarnya.

Kirab budaya ini sekaligus menjadi penutup rangkaian Napak Tilas Padjadjaran di Kota Bandung. Rencananya, peringatan akan berlanjut pada Minggu malam (17/5/2026) melalui acara “Peuting Munggaran Milangkala Tatar Sunda” yang akan menampilkan pertunjukan kolosal kebudayaan di Gedung Sate. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Momen Spanyol Kalahkan Prancis dalam Duel 9 Gol dan
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
Mojtaba, Aura dan Horison Imaji
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Profil dan Riwayat Karier Apri Apri Artoto Sekjen Kementerian PU Diduga Bakal Dimutasi Imbas Surat Dinas Bocor
• 7 jam laludisway.id
thumb
PKK Bantu Program Pemerintah Menjangkau Tingkat Keluarga
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Prabowo: Ekonomi Indonesia Dikuasai Neoliberal, Bertentangan dengan UUD
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.