Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan serangan rudal dan drone sejak Minggu (12/7). Iran menyebut serangannya menargetkan fasilitas militer milik AS di sejumlah negara di Timur Tengah.
Di saat bersamaan, Iran kembali menutup Selat Hormuz. Langkah tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Garda Revolusi Iran pada Senin (13/7) mengeklaim serangan berhasil menghantam fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Selain itu, sistem radar AS di Oman juga disebut menjadi sasaran.
Mereka menambahkan, gudang amunisi dan fasilitas pengisian bahan bakar AS di Pangkalan Udara Prince Hassan, Yordania, turut diserang.
Sementara itu, AS menyatakan operasi militernya menghantam sistem pertahanan udara, situs radar pantai, rudal, kemampuan drone tempur, serta kapal-kapal kecil milik Iran.
Aksi saling serang ini membuat prospek negosiasi menuju kesepakatan damai permanen kedua negara semakin suram. Presiden AS Donald Trump bahkan memuji serangan terbaru AS terhadap Iran.
"Kami menghajar mereka," ujar Trump seperti dikutip dari Reuters.
Pada pekan lalu, Trump mengumumkan gencatan senjata AS-Iran resmi berakhir. Meski demikian, ia menegaskan tetap membuka peluang untuk perundingan gencatan senjata yang baru.
Sementara itu, negosiator Iran yang juga Ketua DPR, Mohammad Baqer Ghalibaf, menegaskan negaranya siap menghadapi serangan AS.
Dalam pernyataannya pada Senin, Garda Revolusi Iran menegaskan satu-satunya cara memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz adalah dengan mengakhiri intervensi AS di perairan tersebut.
"Kami peringatkan intervensi yang berlanjut dapat memicu insiden besar terhadap sektor minyak dan gas global," kata Garda Revolusi Iran.





