KUPANG, KOMPAS — Sebanyak 23.692 murid mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS jenjang SMA dan SMK di Nusa Tenggara Timur pada tahun ajaran ini. Mengusung tema "Ramah", MPLS mengingatkan bahwa pendidikan karakter sama pentingnya dengan penguasaan ilmu pengetahuan.
Berdasarkan pantauan Kompas di SMA Negeri 6 Kota Kupang, Senin (13/7/2026), sebanyak 360 murid baru mengikuti MPLS yang diselenggarakan sekolah. Mereka berasal dari berbagai sekolah menengah pertama di Kota Kupang maupun daerah lain di Nusa Tenggara Timur.
Kepala SMA Negeri 6 Kota Kupang Hendrikus Hati mengatakan, tema "Ramah" sengaja diangkat karena pendidikan karakter menjadi fondasi penting bagi peserta didik. Ramah yang dimaksud bukan sekadar sikap sopan, melainkan perilaku yang tercermin dalam kehidupan pribadi maupun pergaulan di lingkungan sekolah.
"Baik hati dan santun budi bahasanya, manis tutur kata dan sikapnya, serta mampu bergaul dengan baik dan menyenangkan. Itulah karakter yang kami tekankan dalam MPLS kali ini," kata Hendrikus.
Menurut Hendrikus, perilaku sebagian pelajar belakangan semakin mengkhawatirkan, terutama di ruang digital. Banyak unggahan maupun komentar di media sosial yang tidak mencerminkan sikap seorang pelajar.
Bahkan, ada yang harus berhadapan dengan hukum karena dianggap telah melampaui batas. Menurut dia, perilaku semacam itu sangat membahayakan sehingga sekolah memiliki tanggung jawab menanamkan nilai-nilai karakter sejak dini, dimulai melalui MPLS.
Serial Artikel
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang Diusahakan Berfaedah
Waktu penyelenggaraan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) diperpanjang agar semakin berfaedah bagi murid baru dan guru.
Beragam materi diberikan selama MPLS. Salah satunya mengenai etika dan keamanan digital yang disampaikan Maria Selviati Daros dari Yayasan Cita Madani.
Maria memaparkan bahwa sebagian besar anak telah aktif di ruang digital dengan durasi penggunaan internet sekitar empat hingga enam jam per hari.
Di dunia digital, lanjutnya, pelajar rentan menjadi korban perundungan, penipuan, maupun kekerasan seksual. Karena itu, mereka perlu dibekali pengetahuan untuk mengenali berbagai modus yang digunakan pelaku. Pengawasan dari guru dan orang tua juga tetap diperlukan.
Ia menganjurkan peserta didik untuk menyimpan bukti, menceritakan, dan melaporkan apabila menemukan atau mengalami dugaan kekerasan di media sosial. "Jangan ragu memblokir akun pelaku dan melaporkannya kepada pihak berwenang," ujarnya.
Maria juga mengimbau para pelajar agar bijak menggunakan media sosial. Mereka diminta tidak mengunggah konten yang tidak pantas maupun menyebarkan informasi bohong karena ada konsekuensi hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Selain itu, pelajar diingatkan untuk tidak membagikan informasi pribadi di media sosial, seperti nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, alamat rumah, maupun alamat surat elektronik (e-mail). Mereka juga diminta tidak mengirimkan foto atau video pribadi kepada siapa pun.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur Ambrosius Kodo melaporkan, sebanyak 23.692 murid mengikuti MPLS tahun ini. Rinciannya, 14.641 murid SMA dan 9.051 murid SMK. Data tersebut berasal dari sekolah yang melaksanakan penerimaan murid secara daring.
Ambrosius juga menekankan pentingnya penanaman karakter kepada peserta didik. Menurut dia, peserta didik saat ini berada pada fase transisi menuju kedewasaan. "Pintar saja tidak cukup. Mereka juga harus memiliki karakter dan budi pekerti yang luhur," ujarnya.
Ia kembali mengingatkan bahwa tidak boleh ada pungutan selama pelaksanaan MPLS. "Gubernur meminta seluruh aparatur sipil negara (ASN) melakukan pengawasan agar tidak ada satuan pendidikan yang memungut kontribusi dari peserta didik di luar ketentuan," katanya.
Serial Artikel
NTT Masih Berkutat dengan Baca Tulis
Dulu, NTT mengirim guru-guru ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan sampai ke Malaysia.





