Siasat Taman Rekreasi Berebut Dompet Warga

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Para pelaku usaha taman rekreasi melakukan ragam siasat untuk bertahan di tengah situasi ekonomi yang tak pasti. Terobosan dilakukan untuk merebut anggaran tersier masyarakat, walau berbeda dari inti bisnis yang selama ini dijalankan agar tetap relevan dengan minat pelanggan.

Masa libur sekolah sudah berakhir. Namun, kondisi ekonomi yang menantang, termasuk masih lemahnya daya beli masyarakat turut mempengaruhi kinerja taman rekreasi sebagai salah satu tujuan utama pada masa libur panjang. Penyesuaian harga tiket disesuaikan, meski tak dilakukan seluruh pelaku usaha taman rekreasi.

Chief Marketing Officer of Taman Safari Indonesia Group Alexander Zulkarnain mengatakan pada Senin (13/7/2026), animo pelanggan tak menyusut meski ada kenaikan harga tiket di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini. Kenaikan harga dilakukan guna menyesuaikan dengan kondisi saat ini.

Baca JugaBagaimana Siasat Warga Menikmati Libur di Tengah Tekanan Ekonomi?

Masyarakat tetap menyambut baik karena pengalaman dan nilai sebanding dengan harga yang dikenakan. Taman Safari Bogor, misalnya, paket premium naik dari Rp 255.000 menjadi Rp 270.000 per orang.

Jumlah kedatangan juga tetap meningkat untuk Taman Safari Bogor yang rata-rata mencapai 13.000 kunjungan. Pada hari normal atau hari kerja, angka kedatangan hanya berkisar sekitar 6.000-7.000 kunjungan.

Alexander mengatakan, pertumbuhan bisnis tetap terjadi, meningkat dibanding tahun lalu dalam periode yang sama, walau tak sesuai harapan. Pertumbuhan masih ditunjang kelompok ekonomi atau socioeconomic status (SES) kelas A dan B.

Dengan kondisi perekonomian saat ini, sebagian kelompok kelas menengah (middle class) turun kelas menjadi kelompok calon kelas menengah (aspiring middle class). Alhasil, pola konsumsi lebih cermat.

“Mereka akan tetap datang berwisata, tetapi frekuensi akan dikurangi dan diubah. Kompetitor kami juga lebih banyak. Tempat spending makin banyak untuk memprebutkan uang yang beredar di masyarakat yang tidak banyak karena pendapatan masyarakat enggak meningkat,” tutur Alexander saat dihubungi di Jakarta.

Baca JugaPengusaha: Okupansi Hotel Naik dengan ”Rate” Kamar Lebih Rendah

Merujuk riset Office of Chief Economist (OCE) Bank Mandiri, populasi kelas menengah secara nasional menyusut pada 2025. Jumlah penduduk kelas menengah mencapai 46,7 juta orang pada 2025 atau turun 1,1 persen dibandingkan 2024. Sebaliknya, jumlah calon kelas menengah justru meningkat 4,5 persen menjadi 142 juta orang (Kompas.id, 28/2/2026).

Pelaku usaha, termasuk pihak Taman Safari Indonesia Group pun berupaya terus menggaet pelanggan agar tetap relevan. Ragam hal dilakukan yang sebelumnya tak terpikirkan, berbeda dari inti bisnis perusahaan.

Saat ini sedang tren olahraga yoga dan pilates, misalnya, kedua jenis aktivitas kebugaran itu lantas dilakukan di Jakarta Aquarium. Ada pula gelaran konser musik yang dilakukan di Enchanting Valley, salah satu wisata alam Puncak Taman Safari.

“Yang disiapkan saat ini bagaimana kami bisa tetap dekat dengan pelanggan. Perspektifnya selalu ke customer. Kalau perspektif selalu khawatir dengan kondisi di luar (eksternal) yang tidak bisa dikontrol akan menyulitkan kreativitas bisnis,” ujar Alexander.

Sebagai Sekretaris Jenderal Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI), Alexander mengatakan, kelompok SES C makin membesar seiring bertambahnya jumlah aspiring middle class. Pelanggan yang makin banyak justru makin menguntungkan bagi taman-taman rekreasi yang menargetkan pangsa pasar tersebut.

Baca JugaMengapa Masyarakat Tetap Antusias Berlibur meski Isi Dompet Tipis?

Selain itu, nilai tukar rupiah yang melemah mendatangkan banyak wisatawan Malaysia yang membanjiri Jakarta dan Bandung, Jawa Barat. Mereka membelanjakan uangnya untuk rekreasi serta menjajal ragam kuliner khas Indonesia.

Guna mendorong geliat berbelanja masyarakat di taman rekreasi, pemerintah perlu memiliki standar khusus sejauh apa inisiatif pemerintah berdampak pada wisatawan atau para pebisnis terkait. Kebijakan pemerintah perlu mendorong gairah industri, alih-alih mengeluarkan regulasi yang menekan margin saat musim puncak. Sebab, hari biasa justru diskon dan ragam promosi digelontorkan untuk menarik pengunjung pada masa sepi.

Makin selektif

Meski demikian, tak semua pelaku usaha menaikkan harga tiket masuk ke taman rekreasi. Hal ini dilakukan agar volume kunjungan tetap terjaga.

“Harga tiket masih sama, tidak ada perubahan, baik low season (musim normal) maupun high season (musim puncak). Hanya untuk memberikan kemudahan-kemudahan bagi masyarakat, kami suguhkan promosi-promosi menarik,” ujar Corporate Communication PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk Daniel Widriatmoko.

Kondisi global yang saat ini belum sepenuhnya membaik, termasuk daya beli masyarakat yang belum pulih dalam dua tahun terakhir masih menjadi tantangan. Volume kunjungan pun perlu dijaga, agar momentum libur sekolah dapat dinikmati seluruh masyarakat.

Baca JugaDompet Mepet Tak Halangi Hasrat Berlibur Masyarakat

Harga tiket masuk ke kawasan taman rekreasi Ancol masih ditetapkan Rp 35.000 per orang sama dengan tiket kendaraan mobil senilai Rp 35.000 per unit. Tiket kendaraan sepeda motor dikenakan Rp 25.000 per unit. Harga untuk tiket kendaraan listrik, baik mobil maupun sepeda motor tidak dikenai biaya atau gratis.

Secara umum, Taman Rekreasi Ancol menargetkan 720.000 kunjungan selama periode libur sekolah yang ditetapkan pada 20 Juni 2026 hingga 12 Juli 2026. Berdasarkan data terakhir hingga 6 Juli 2026, jumlahnya mencapai 689.555 pengunjung. Angka itu disebut meningkat lebih dari 10 persen dibandingkan tahun lalu dalam periode yang sama.

Geliat serupa ditunjukkan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang mencatat lebih dari 202.000 pengunjung selama libur sekolah 2026. Dibandingkan tahun lalu dalam periode yang sama, TMII menunjukkan kinerja positif dengan rata-rata kunjungan harian naik sekitar 12 persen sepanjang libur sekolah kali ini.

Corporate Communication TMII Ken Elsa mengemukakan, peningkatan itu ditengarai pada ragam program aktivasi selama libur sekolah bekerja sama dengan pemangku kepentingan lain. Beberapa di antaranya kelas bermain, kampung bermain, serta lokakarya kebudayaan.  

“Kami memahami bahwa kondisi ekonomi menjadi salah satu pertimbangan masyarakat dalam menentukan destinasi wisata. Namun, kondisi tersebut juga mendorong masyarakat untuk semakin selektif dan mencari destinasi yang memberikan nilai lebih,” tutur Elsa.

Baca JugaLibur Panjang, Dampak Minimalis

Pihaknya menilai, minat masyarakat makin bergeser pada destinasi berbasis pengalaman, tak sekadar hiburan semata. Ada nilai tambah yang ditawarkan melalui unsur budaya, edukasi, dan interaksi.

“Masyarakat semakin menghargai value for money. Mereka cenderung memilih destinasi yang menawarkan banyak aktivitas dalam satu kali kunjungan,” ucap Elsa.

Bukan sekadar destinasi

Menurut Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia Azril Azhari, rekreasi tak selalu berupa taman bertema (theme park), taman bermain (amusement park), taman air (waterpark), kebun raya, dan taman edukasi. Destinasi bukan satu-satunya cara orang untuk berekreasi.

Event rekreasi bagi siswa itu terlupakan, terabaikan. Untuk hiburan pada masa liburan, sebaiknya bukan hanya destinasi, tetapi juga event. Kelemahan kita, edukasi itu tidak ada,” ucap Azril.

Pemerintah, baik pusat maupun daerah semestinya menyiasati libur sekolah dengan kegiatan-kegiatan edukasi semacam ini. Hal ini juga menyiasati daya beli masyarakat yang lemah, karena kegiatan edukasi dapat dijangkau dengan harga yang relatif lebih murah ketimbang hanya bergantung pada taman rekreasi.

“Kenapa enggak berikan permainan berunsur edukasi yang ada aspek perlombaan? Ini jadi daya tarik juga,” kata Azril.

Rencana ini semestinya bisa dikoordinasikan pula oleh Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) dengan mengembangkan banyak produk kreatif. Salah satunya dengan membuat lomba memasak khusus anak-anak yang mendorong keterampilan dan belajar anak-anak pula. Ini sekaligus mempromosikan makanan alami, alih-alih makanan cepat saji.

Idealnya, perlau ada acara yang telah terprogram yang menyasar anak-anak. Tak hanya pada aspek rekreasi, tetapi pada edukasi. Pelaku usaha juga dapat mengemas ragam acara dengan mempelajari gaya perilaku, termasuk perubahan-perubahannya, dari para pengunjung.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
SIM keliling melayani di lima lokasi Jakarta pada Senin
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Polisi Kantongi Identitas Terduga Pelaku Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15 Saat MPLS
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Mengenal Pemain Asing yang Putuskan Mualaf dan Menikahi Anak dari Eks Timnas Indonesia
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Di Balik Langkah Grup Lippo, Sinarmas hingga Agung Sedayu Perkuat Anak Usaha
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
Hadapi Risiko Kemarau dan El Nino, Indef Dorong Pemerintah Perkuat Cadangan Pangan
• 12 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.