Tangis Ibu Santri yang Dibakar Senior ke DPR: Nyawa Anak Saya Tak Bisa Dibeli

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Tangis seorang ibu memecah ruangan rapat dengar pendapat umum (RDPU) Komisi III DPR, saat membahas kasus pembakaran santri di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Ibu dari Sahril Sobirin (korban yang meninggal dunia), Rumah, tak kuasa menahan tangisnya saat hadir di DPR. Anggota tim Hotman 911 Titi Tantry lalu meneruskan keterangan Rumah, yang tak bisa menghentikan tangisnya.

“Izin pimpinan, karena kebetulan beliau ini ada tekanan psikologis. Di satu sisi dia tidak bisa menyampaikan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar karena beliau ini berasal dari kampung, di Pulau Lombok, dan berada di dalam kemiskinan. Jadi berkomunikasi pun dengan tim kami yang di Hotman 911 itu menggunakan penerjemah. Kebetulan kami ini adalah tim dari Pulau Lombok,” ujar Titi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/7).

Ia kemudian mengungkapkan tiga hari sebelum peristiwa pembakaran terjadi, korban sempat bercerita kepada ibunya bahwa dirinya mendapat ancaman dari anak pimpinan pondok pesantren.

“Jadi apa yang disampaikan oleh beliau ini memang almarhum anak korban, Sobirin ini, pernah menceritakan tiga hari sebelum pembakaran itu menyampaikan bahwa dia pernah diancam oleh anak pimpinan Ponpes akan dibakar kalau tidak menuruti kemauan dari si pelaku,” katanya.

Menurut Titi, sang ibu sempat menanyakan kepada anaknya apakah selama di pondok pesantren pernah mengalami perundungan maupun kekerasan. Namun saat itu korban memilih diam lantaran takut terhadap ancaman yang diterimanya.

“Kemudian pernah ditanyakan oleh ibunya si korban, ‘Sanak, wah mende tebully atau wah mende tepantok le’ sekolah?’ Atau dalam bahasa Indonesianya, ‘Apakah kamu pernah dibully, dipukul di sekolah?’ Si anak ini tidak berani bercerita, pimpinan, karena selalu diancam sama anak pimpinan Ponpesnya,” ucapnya.

Korban baru menceritakan kejadian yang sebenarnya tiga hari setelah peristiwa pembakaran. Berdasarkan cerita korban kepada ibunya, pembakaran terjadi di sebuah ruangan kosong.

“Akhirnya begitu terjadi pembakaran, tiga hari setelah terjadi pembakaran, baru bisa berbicara si anak. Baru menyampaikan bahwa dia itu dibakar di dalam ruangan itu adalah ruangan kosong, pimpinan. Kemudian api terisi bensin itu menyebar di situ sehingga mulai dari wajah sampai sekujur tubuh, kaki korban itu kena luka bakar yang sangat drastis 80%. Hanya bagian perut dan paha sedikit yang tidak kena bakar,” tutur Titi.

Melihat kondisi ibu korban yang terus menangis, Ketua Komisi III DPR Habiburokhman memastikan pihaknya akan mengawal penanganan perkara tersebut.

“Iya, mungkin bisa disampaikan, Bu. Insyaallah kami, ini Komisi III akan berupaya maksimal untuk memberikan ya agar korban almarhum bisa mendapatkan keadilan,” kata Habiburokhman.

Tak lama kemudian, ibu korban kembali menangis sehingga Habiburokhman meminta tim pendamping menyampaikan kepada keluarga bahwa rapat tersebut digelar untuk mencari kejelasan kasus sekaligus memperjuangkan keadilan.

“Iya bisa dipahami, bisa kita memahami ya. Nanti disampaikan ke beliau ya bahwa forum ini kita selenggarakan dalam rangka mencari masalah seperti apa dan memberikan keadilan kepada korban,” ujarnya.

Dalam rapat itu, Titi juga membacakan pernyataan sikap dari Rumah selaku ibu korban yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto dan Komisi III DPR.

Rumah menggambarkan dirinya sebagai seorang ibu dari keluarga miskin yang kini harus kehilangan anak akibat dugaan pembakaran di lingkungan pondok pesantren.

“Kepada Bapak Presiden Republik Indonesia yang saya hormati dan saya cintai. Kami, saya, hanyalah seorang ibu kampung yang miskin yang tidak punya harta dan sekarang tubuh sudah sakit-sakitan, jalan pun sudah tidak normal lagi karena hancurnya hati saya melihat anak saya Sahril Sobirin dibakar hidup-hidup sampai meninggal dunia,” katanya.

Ia kemudian menyampaikan bahwa tujuan anaknya masuk pondok pesantren adalah untuk menuntut ilmu agama, bukan menjadi korban kekerasan.

“Sebagai rakyat kecil, saya mengetuk pintu hati Bapak Presiden sebagai bapak dari seluruh anak di Indonesia. Anak saya ke pondok pesantren untuk belajar agama agar jadi anak yang baik, bukan untuk disiksa, ditelanjangi oleh anak pemilik ponpes lalu dibakar sampai mati,” ujar Rumah.

Rumah juga mengaku menolak penyelesaian damai yang ditawarkan. Menurutnya, setelah menolak surat damai, keluarganya justru disingkirkan.

“Ketika saya menolak surat damai, mereka membuang kami. Bapak Presiden, orang miskin seperti saya ini tidak tahu harus mengadu ke mana lagi karena pihak kepolisian dan orang Departemen Agama di Lombok Tengah justru ikut mengarahkan pondok pesantren untuk menyodorkan surat damai demi menutupi kejahatan ini,” ujarnya.

Ia meminta Presiden Prabowo mengirim tim dari Jakarta untuk memeriksa dugaan keterlibatan oknum aparat maupun pejabat daerah.

“Saya memohon kepada Bapak Presiden, tolong turunkan orang-orang kepercayaan Bapak dari Jakarta untuk memeriksa oknum-oknum polisi dan pejabat di daerah yang ikut membungkam darah anak saya. Tolong pastikan hukum tidak pandang bulu meskipun pelakunya adalah anak tuan guru atau pemilik pondok pesantren. Nyawa anak saya tidak bisa dibeli dengan selembar kertas damai,” ucap Rumah.

Kepada Komisi III DPR, Rumah mengaku datang dari Lombok dalam kondisi fisik yang tidak sehat demi mencari keadilan bagi putranya.

“Para wakil rakyat yang terhormat di DPR RI, khususnya Bapak dan Ibu di Komisi III. Saya datang jauh-jauh dari Lombok dengan langkah kaki yang tertatih-tatih dan fisik yang sakit karena saya percaya di ruangan ini masih ada hati nurani yang tersisa untuk membela orang kecil seperti saya,” tutur dia.

Ia berharap kasus kematian anaknya tidak berhenti begitu saja hanya karena keluarganya berasal dari kalangan tidak mampu.

“Harapan saya sangat sederhana jangan biarkan kasus kematian anak saya, Sahril Sobirin, menguap dan dilupakan hanya karena kami orang miskin yang tidak punya uang dan kekuasaan. Saya memohon kepada Komisi III untuk menggunakan wewenang besar yang Bapak dan Ibu miliki guna mendesak Kapolri mengusut tuntas skandal pembungkaman ini,” kata Rumah.

“Tolong awasi polisi-polisi di daerah kami yang tega-teganya menyuruh pihak pesantren meminta tanda tangan damai di atas luka bakar 80% anak saya. Saya meminta keadilan yang seadil-adilnya. Seret semua pelaku penganiayaan, pelaku pembakaran, dan orang-orang besar di dalam pesantrennya yang ikut menyembunyikan kejahatan ini ke dalam penjara,” sambungnya.

Rumah kemudian mempertanyakan kepada siapa lagi dirinya harus mencari keadilan apabila DPR tidak membantu memperjuangkan kasus tersebut.

“Jika DPR RI tidak membantu saya, ke mana lagi kami orang kampung yang pincang dan buta hukum seperti saya ini harus mencari keadilan di negeri ini?“ pungkas dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ponpes Al-Amien Jadi Tuan Rumah Idul Khotmi Nasional Tarekat Tijaniyah ke-234, Ribuan Jemaah Diprediksi Hadir
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Imigrasi Cegah Eks Jampidsus dan Pengusaha Keluar Negeri
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
Danantara Garap 26 Proyek Hilirisasi Rp 225 Triliun, Serap 37.833 Tenaga Kerja
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kebakaran Ruko di Pulogadung Jaktim, 3 Orang Tewas dan 1 Terluka
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Startup India Siap Luncurkan Roket Vikram-1, Misi Swasta Pertama ke Orbit
• 15 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.