Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memandang keputusan S&P Global Ratings, yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil menunjukkan bahwa pasar internasional mulai mengapresiasi perbaikan kebijakan Pemerintah Indonesia.
Menurutnya, dibandingkan hasil penilaian Moody's dan Fitch beberapa bulan sebelumnya, yang sama-sama memberikan outlook negatif, laporan S&P menunjukkan adanya perubahan persepsi terhadap kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal dan eksternal di tengah tekanan global.
"Keputusan S&P menunjukkan bahwa pasar internasional mulai mengapresiasi adanya perbaikan koordinasi dan komunikasi kebijakan pemerintah dalam beberapa bulan terakhir. Ini merupakan perkembangan yang positif, terutama setelah periode awal tahun yang dipenuhi ketidakpastian kebijakan fiskal maupun kelembagaan," kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan bahwa ketika Moody's dan Fitch melakukan proses review pada awal tahun, komunikasi kebijakan Indonesia masih menghadapi banyak tantangan.
Berbagai kebijakan fiskal, implementasi Danantara, hingga arah pengelolaan sektor sumber daya alam masih menyisakan banyak pertanyaan di mata investor global.
"Harus diakui, pada saat proses review Moody's dan Fitch berlangsung, komunikasi kebijakan masih sangat tidak pasti. Banyak kebijakan yang belum dijelaskan secara utuh sehingga memunculkan berbagai interpretasi di pasar. Ketidakpastian seperti ini selalu menjadi faktor yang diperhatikan lembaga pemeringkat karena pada akhirnya memengaruhi persepsi terhadap kredibilitas kebijakan ekonomi," jelas Fakhrul.
Lebih lanjut, Fakhrul menilai laporan S&P juga memberikan pesan yang cukup konstruktif.
Di satu sisi, S&P mengakui kenaikan pendapatan negara yang kuat pada Semester I 2026, komitmen pemerintah menjaga defisit APBN tetap di bawah batas 3 persen PDB, serta langkah penyesuaian belanja negara untuk menjaga disiplin fiskal.
S&P juga mulai memberikan penilaian yang lebih positif terhadap reformasi Danantara serta inisiatif Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam meningkatkan penerimaan negara dan kualitas ekspor apabila implementasinya berjalan baik.
"Ini merupakan pengakuan bahwa reformasi yang sedang dilakukan mulai dipahami oleh investor global. Namun, yang diapresiasi S&P bukan hanya idenya, melainkan keyakinan bahwa implementasinya akan semakin baik," jelas Fakhrul.
Meski demikian, Fakhrul mengingatkan bahwa hasil ini sama sekali tidak boleh menjadi alasan untuk berpuas diri.
"Justru sekarang kita memasuki fase pembuktian. Setelah komunikasi mulai membaik, fokus berikutnya adalah implementasi. Pemerintah harus memastikan setiap reformasi benar-benar berjalan sesuai yang telah dikomunikasikan kepada pasar," kata dia.
Menurutnya, salah satu agenda terpenting ke depan adalah memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai desain dan implementasi Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), termasuk mekanisme operasional, tata kelola, hubungan dengan neraca pembayaran, dampaknya terhadap penerimaan negara, hingga koordinasinya dengan kebijakan fiskal dan moneter.
"DSI berpotensi menjadi salah satu reformasi struktural terbesar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, transparansi dan komunikasi menjadi sangat penting agar investor memahami bagaimana kebijakan ini bekerja dan bagaimana manfaatnya terhadap penerimaan negara serta ketahanan eksternal Indonesia," kata Fakhrul.
Ia menambahkan bahwa pengalaman beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa komunikasi yang jelas dapat mengurangi ketidakpastian, menurunkan premi risiko, serta memperkuat kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
"Rating investment grade bukanlah garis akhir. Ini adalah modal untuk melangkah ke tahap berikutnya. Pemerintah perlu menjaga disiplin fiskal, melanjutkan reformasi struktural, memperkuat koordinasi kebijakan, serta memastikan komunikasi tetap konsisten. Dengan demikian, ruang untuk memperoleh peningkatan kualitas kredit Indonesia di masa mendatang akan semakin terbuka," sebut Fakhrul.
Baca juga: S&P pertahankan peringkat kredit RI pada level BBB, prospek stabil
Baca juga: IHSG menguat seiring respon positif S&P Global pertahankan rating RI
Baca juga: Danantara: Peringkat Moody’s tegaskan kekuatan fondasi institusi
Menurutnya, dibandingkan hasil penilaian Moody's dan Fitch beberapa bulan sebelumnya, yang sama-sama memberikan outlook negatif, laporan S&P menunjukkan adanya perubahan persepsi terhadap kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal dan eksternal di tengah tekanan global.
"Keputusan S&P menunjukkan bahwa pasar internasional mulai mengapresiasi adanya perbaikan koordinasi dan komunikasi kebijakan pemerintah dalam beberapa bulan terakhir. Ini merupakan perkembangan yang positif, terutama setelah periode awal tahun yang dipenuhi ketidakpastian kebijakan fiskal maupun kelembagaan," kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan bahwa ketika Moody's dan Fitch melakukan proses review pada awal tahun, komunikasi kebijakan Indonesia masih menghadapi banyak tantangan.
Berbagai kebijakan fiskal, implementasi Danantara, hingga arah pengelolaan sektor sumber daya alam masih menyisakan banyak pertanyaan di mata investor global.
"Harus diakui, pada saat proses review Moody's dan Fitch berlangsung, komunikasi kebijakan masih sangat tidak pasti. Banyak kebijakan yang belum dijelaskan secara utuh sehingga memunculkan berbagai interpretasi di pasar. Ketidakpastian seperti ini selalu menjadi faktor yang diperhatikan lembaga pemeringkat karena pada akhirnya memengaruhi persepsi terhadap kredibilitas kebijakan ekonomi," jelas Fakhrul.
Lebih lanjut, Fakhrul menilai laporan S&P juga memberikan pesan yang cukup konstruktif.
Di satu sisi, S&P mengakui kenaikan pendapatan negara yang kuat pada Semester I 2026, komitmen pemerintah menjaga defisit APBN tetap di bawah batas 3 persen PDB, serta langkah penyesuaian belanja negara untuk menjaga disiplin fiskal.
S&P juga mulai memberikan penilaian yang lebih positif terhadap reformasi Danantara serta inisiatif Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam meningkatkan penerimaan negara dan kualitas ekspor apabila implementasinya berjalan baik.
"Ini merupakan pengakuan bahwa reformasi yang sedang dilakukan mulai dipahami oleh investor global. Namun, yang diapresiasi S&P bukan hanya idenya, melainkan keyakinan bahwa implementasinya akan semakin baik," jelas Fakhrul.
Meski demikian, Fakhrul mengingatkan bahwa hasil ini sama sekali tidak boleh menjadi alasan untuk berpuas diri.
"Justru sekarang kita memasuki fase pembuktian. Setelah komunikasi mulai membaik, fokus berikutnya adalah implementasi. Pemerintah harus memastikan setiap reformasi benar-benar berjalan sesuai yang telah dikomunikasikan kepada pasar," kata dia.
Menurutnya, salah satu agenda terpenting ke depan adalah memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai desain dan implementasi Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), termasuk mekanisme operasional, tata kelola, hubungan dengan neraca pembayaran, dampaknya terhadap penerimaan negara, hingga koordinasinya dengan kebijakan fiskal dan moneter.
"DSI berpotensi menjadi salah satu reformasi struktural terbesar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, transparansi dan komunikasi menjadi sangat penting agar investor memahami bagaimana kebijakan ini bekerja dan bagaimana manfaatnya terhadap penerimaan negara serta ketahanan eksternal Indonesia," kata Fakhrul.
Ia menambahkan bahwa pengalaman beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa komunikasi yang jelas dapat mengurangi ketidakpastian, menurunkan premi risiko, serta memperkuat kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
"Rating investment grade bukanlah garis akhir. Ini adalah modal untuk melangkah ke tahap berikutnya. Pemerintah perlu menjaga disiplin fiskal, melanjutkan reformasi struktural, memperkuat koordinasi kebijakan, serta memastikan komunikasi tetap konsisten. Dengan demikian, ruang untuk memperoleh peningkatan kualitas kredit Indonesia di masa mendatang akan semakin terbuka," sebut Fakhrul.
Baca juga: S&P pertahankan peringkat kredit RI pada level BBB, prospek stabil
Baca juga: IHSG menguat seiring respon positif S&P Global pertahankan rating RI
Baca juga: Danantara: Peringkat Moody’s tegaskan kekuatan fondasi institusi





