Bahaya Jebolnya Tanggul Lumpur Lapindo yang Terus Mengintai

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Di titik 10 D tanggul penahanan lumpur tiga ekskavator disiagakan. Sejak Jumat lalu ketiga alat berat tersebut bekerja untuk meninggikan bagian dari tanggul yang rembes dan menimbulkan kekhawatiran banyak pihak di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Namun, pada Senin (13/7/2026), rembesan telah tertangani.

Jejak rembesan air dan lumpur yang sempat keluar dari tanggul masih terlihat jelas. Sebagian sudah kering dan menimbulkan kerak lumpur yang pecah-pecah namun di bagian lainnya lumpur masih basah.

Rembesan pertama kali terlihat pada Jumat (10/7/2026), pukul 05.55 WIB. Air bercampur lumpur sempat meluap ke tanggul utama sebelum merembet hingga tanggul penahan kedua dan ketiga yang berada di dekat jalur rel kereta api.

Di tanggul tersebut rembesan yang dikhawatirkan akan menyebabkan tanggul jebol terus dipantau. Jika terjadi hal tersebut dipastikan akan memutus jalur kereta api.  Sebanyak 48 perjalanan kereta baik itu kereta penumpang maupun barang setiap hari melintas di jalur yang bersebelahan dengan tanggul.

Walau telah ditinggikan dengan mengambil lumpur yang ada di tanggul, kekhawatiran masih terus muncul. Akibat panas yang terik, lumpur yang sekiranya untuk meninggikan telah kering dan retak-retak.

Pipa pembuangan lumpur Lapindo. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Melintasi tanggul Lapindo. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Jalan raya Porong yang terancam lumpur Lapindo (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Hingga saat ini PT KAI Daop 8 terus berkoordinasi dengan Pusat Pengendali Lumpur Sidoarjo (PPLS) untuk memantau kondisi tanggul dan menjaga keselamatan perjalanan tanpa perubahan jadwal atau pembatasan kecepatan. Selama 20 tahun sudah  rel kereta yang melintasi kawasan terdampak lumpur Lapindo telah ditinggikan 3 meter. Hal tersebut dikarena terus terjadi penurunan tanah.

Kejadian jebolnya tanggul utama masih menjadi kekhawatiran hingga saat ini, apalagi lumpur masih terus menyembur walau intensitas volume semburan berkurang. Salah satu peristiwa paling penting terjadi pada 10 Agustus 2006, ketika tanggul penahan lumpur di kawasan Porong jebol sekitar pukul 08.30 WIB.

Dampaknya antara lain, lumpur bercampur air menggenangi ratusan rumah, sekitar 400 meter rel kereta api terendam, begitu juga Kantor Koramil Porong dan memaksa PLN memadamkan sebagian jaringan listrik sebagai langkah pengamanan.  

Beberapa jam kemudian, tanggul berhasil ditutup kembali melalui pengerahan alat berat, truk pengangkut pasir dan batu, serta bantuan TNI, Polri, dan pihak Lapindo. Salah satu penyebab yang disebut saat itu adalah keterlambatan pasokan material untuk memperkuat tanggul.

Setelah tahun 2010, terdapat beberapa peristiwa Jebol atau meluapnya tanggul penahan lumpur Lapindo . Pada 28 April 2011 tanggul terluar penahan lumpur Lapindo di Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur jebol. Penurunan tanah atau subsidence di tanggul terluar membuat tanggul tidak kuat menahan lumpur di penampungan.  

Material lumpur kering bercampur air mengalir ke perkampungan warga. Tanggul yang jebol berada di titik 68 di Desa Kedungbendo sepanjang 200 meter.  
Selain itu, tanggul jebol juga disebabkan longsornya gunung lumpur yang berada di sekitar pusat semburan. Kondisi ini menyebabkan lumpur kering dan air terus mendesak tanggul terluar

Tingginya curah hujan juga memicu sebagian besar kasus jebolnya tanggul seperti yang terjadi pada 11 September dan 16 Desember 2014.

Pada 11 September 2014, tanggul penahan lumpur di titik 68 dilaporkan jebol sehingga lumpur meluas ke area Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin. Tidak lama kemudian pada 16 Desember 2014, tingginya curah hujan juga membuat tanggul lumpur Lapindo di titik 73 kembali jebol  sepanjang lima meter dan menyebabkan air bercampur lumpur mengalir deras ke arah pemukiman warga di Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin.

Kejadian tersebut membuat ratusan warga mengungsi di balai desa untuk menghindari jebolnya tanggul bertambah besar dan mengancam jiwa mereka.  

Kejadian yang dikhawatirkan  baru terjadi pada  10 Juli lalu di titik 10 D, dan penanganan telah dilakukan dengan peninggian dengan lumpur sebanyak kurang lebih satu meter. Walau baru rembesan, hal tersebut menandakan bahwa tanggul dalam posisi kritis dan perlu perhatian serius.

Sejumlah skenario terburuk perlu disiapkan oleh banyak pihak terkait untuk menghindari jatuhnya korban jiwa, selain pengawasan yang ketat termasuk bersiap mengalihkan jalur utama kereta api.

Baca JugaLumpur Lapindo yang Belum Juga Berhenti Menyembur
Baca JugaSaat Naik Helikopter seperti Naik Taksi


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Hari Ini Berpotensi Lanjut Menguat, Simak Analisa 4 Saham Berikut
• 10 jam laluidxchannel.com
thumb
Avengers: Doomsday Jadi Film dengan Durasi Terpanjang Kedua di MCU
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Bantah Kabar DPR Tolak RUU Perampasan Aset, Sari: Sudah Masuk Prolegnas Prioritas
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Rooney Remehkan Timnas Argentina, Sebut Swiss Lebih Merepotkan bagi Inggris
• 23 jam laluharianfajar
thumb
Menteri PU: Bendungan strategis dukung swasembada pangan dan EBT
• 11 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.