Harga minyak acuan dunia naik ke angka US$ 84 per barel pagi ini, Selasa (14/7). Hal ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran yang melintasi Selat Hormuz.
Harga Brent naik menjadi US$ 84,12 per barel pada pukul 09.24 waktu Singapura. Sementara itu minyak West Texas Intermediate naik menjadi US$ 79,30 per barel.
Harga minyak kini kembali ke level tertinggi dalam satu bulan terakhir. Lonjakan tersebut telah memangkas penurunan harga sekitar 30% pada kuartal kedua, seiring meningkatnya perang yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan dari kawasan Teluk Persia.
AS sempat melonggarkan akses ekspor minyak Iran, membuat negara tersebut bisa melepas 57 juta barel minyak mentah ke pasar global.
"Menurut kami harga akan bertahan di kisaran US$ 80, kecuali ada perkembangan tertentu terkait Selat Hormuz. Tapi saya tidak melihat harga akan naik ke US$ 90 atau US$ 100. Sebaliknya, jika selat kembali dibuka, harga bisa turun ke US$ 60 dengan sangat cepat,” kata Chief Executive Officer Infrastructure Capital Management Jay Hatfield, dikutip dari Bloomberg, Selasa (14/7).
Tak hanya minyak, harga gas alam Eropa juga melonjak hingga 3,3%, mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. Sebelum konflik memanas, sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz.
Selain blokade akses, Trump juga menuntut penggantian biaya sebesar 20% dari nilai muatan, atau sekitar US$ 30 juta untuk kapal tanker super penuh yang mengangkut minyak. Hal ini diterapkan saat militer AS melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran yang diperkirakan dapat berlangsung beberapa hari lagi.
Joint Maritime Information Center mengatakan Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) akan mulai menegakkan blokade terhadap seluruh pelabuhan dan wilayah pesisir Iran mulai pukul 16.00 waktu New York pada Selasa.
Trump mengatakan Amerika Serikat akan menerima pembayaran dari negara-negara yang dibantunya menjaga keamanan di Selat Hormuz, yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
Sementara itu militer Iran menargetkan aset-aset Amerika Serikat di Kuwait menggunakan drone serta menyerang sebuah kapal musuh dengan rudal jelajah. Di saat yang sama, UEA melaporkan dua kapal tankernya diserang di perairan Oman ketika melintasi jalur selatan Selat Hormuz.
Sebelum serangan kembali terjadi, produsen minyak di kawasan Teluk Persia telah memasarkan tambahan produksi minyak mentah. Kondisi ini dilakukan mereka setelah adanya kesepakatan sementara antara AS-Iran yang meredakan kekhawatiran terhadap ekspor.




