Memasuki puncak musim kemarau, cuaca panas dan kering terjadi di banyak daerah. Kebakaran skala kecil dengan luasan 1-2 hektar terjadi di sejumlah daerah. Oleh karena itu kewaspadaan akan aktivitas yang bisa menimbulkan kebakaran lahan dan hutan perlu ditingkatkan.
Lahan warga seluas 3,5 hektar milik warga di wilayah RT 07 RW 03, Dusun Krajan, Desa Gayam, Panggul, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Senin (13/7/2026) terbakar. Di tempat itu terdapat beberapa jenis pohon, mulai dari durian, cengkeh, sengon, kelapa, dan bambu, milik Musono (57), Kun (50), dan Slamet (54). Kerugian ditaksir mencapai Rp 25 juta.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek Stefanus Triadi Atmono menuturkan, awal kebakaran diketahui saat Sriatun, salah satu warga, melihat api membumbung tinggi di lahan itu, sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu juga dia menghubungi aparatur desa.
Tak berselang lama, petugas pemadam kebakaran bersama BPBD dan lainnya datang ke lokasi untuk menjinakkan api. “Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 12.30,” ujar Triadi yang menduga puntung rokok dibuang sembarangan menjadi penyebab kebakaran. Dia pun mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan waspada saat kemarau.
Di Trenggalek, sehari sebelumnya, lahan di kawasan Hutan Orak-arik di Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan juga terbakar. Beruntung, api bisa dipadamkan beberapa jam kemudian. Luas lahan berupa ilalang yang terbakar kurang dari 3 hektar.
Di Jatim sendiri, dalam sepekan terakhir, setidaknya terjadi beberapa kali kebakaran lahan berskala kecil, hanya berupa spot-spot dan berhasil dipadamkan oleh tim gabungan sebelum merembet ke lokasi lain.
Pada Jumat (10/7/2026), kebakaran melanda Petak 15A dan 15B2 Resor Pengelolaan Hutan Bago, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Pasirian, Blok Gunung Pucang Rangga, Desa Condro, Kabupaten Lumajang, juga terbakar. Kebakaran diperkirakan menghanguskan 2 hektar belukar, ilalang, dan daun kering yang berada di bawah tegakan jati dan johar.
Menurut BPBD Lumajang, kebakaran dipicu oleh gesekan bebatuan yang jatuh ke ilalang kering ditambah kondisi cuaca panas. Beruntung, titik api berjarak sekitar 1,5 kilometer dari permukiman warga sehingga tidak menumbulkan korban jiwa dan dampak terhadap masyarakat.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, kebakaran lahan juga terjadi, antara lain di Kabupaten Bojonegoro, Kamis (9/7/2026), yang menghanguskan 4 hektar lahan. Api menyala di dua desa, yakni Banjarsari, Kecamatan Trucuk, dan Belun di Kecamatan Temayang. Bojonegoro sendiri telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan sejak 26 Mei-6 Oktober.
Sehari sebelumnya, Rabu (8/7/2026), kebakaran lahan juga terjadi di Desa Karangjoho, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo. Luas lahan yang terbakar 2,5 hektar. Masih pada hari yang sama, kebakaran lahan juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Situbondo. Lokasi api di Kelurahan Mimbaan dan Juglangan, Kecamatan Panji, dengan luas 2 hektar.
Di luar Jatim, kebakaran hutan dan lahan juga sempat terjadi di beberapa daerah, seperti Lhoksumawe, Aceh, Sabtu (11/7/2026); Aceh Tengah, hingga Bandung, Jawa Barat, Minggu (12/7/2026). Namun, luasan yang terbakar kecil-kecil, hanya 1-1,5 hektar dan dapat dipadamkan oleh tim gabungan.
Lahan seluas 3 hektar di Desa Pamijen, Kecamatan Sokaraja, dan Karangtalun Kidul di Kecamatan Purwojati, Banyumas, Jawa Tengah, juga terbakar. Selain itu, lahan seluas 11,5 hektar di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, juga tak luput dari amukan api.
Kebakaran juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Kutai Barat dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Sedikitnya, 60 hektar lahan terbakar di Kutai Barat, Jumat (10/7/2026), tepatnya di Kampung Dingin, Kecamatan Lawa, dan Kampung Emas, Kecamatan Empas.
Akibat peristiwa ini, BPBD Kutai Barat musti melarikan satu orang ke fasilitas kesehatan lantaran pinsang menghirup asap. Api berhasil dipadamkan satu hari kemudian. Sedangkan kebakaran di Kutai Kartanegara, masih berdasarkan data BNPB, ada 4 hektar lahan terbakar.
Melihat masih adanya potensi kebakaran hutan dan lahan yang dipicu oleh berbagai faktor, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, dalam keterangan pers, kembali mengingatkan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Mengingat saat ini masih berada di puncak musim kemarau. Langkah pencegahan, seperti sosialisasi bahaya kebakaran, kesiapsiagaan personel dan peralatan, serta patroli hotspot secara rutin dinilai sangat penting. Penegakan hukum bagi pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan secara sengaja juga harus dilakukan,” katanya.
Muhari pun mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan di area dengan vegetasi kering. Pencegahan dini merupakan langkah efektif untuk menghindari meluasnya area lahan yang terbakar.
“Partisipasi aktif warga untuk menjaga hutan dan melakukan patroli bersama aparat desa menjadi faktor penting dalam pengendalian dan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Senin malam, kebakaran juga melanda tempat pembuangan sampah di Pasar Turen, Kabupaten Malang. Meski bukan kebakaran lahan, karena yang ikut terbakar adalah rumpun bambu sehingga membuat nyala api membumbung tinggi, menarik perhatian publik. Satu unit kios dan kamar kecil itu dilalap si jago merah dalam peristiwa itu.
Kepala Seksi Humas Polres Malang Ajun Komisaris M Budiono mengatakan, kebakaran berlangsung pukul 17.30-20.00. Tiga unit mobil pemadam kebakaran (damkar) milik Pemerintah Kabupaten Malang dan satu unit milik PT Pindad diterjunkan untuk menjinakkan api agar tidak menjalar ke kios lain di pasar itu.
Tidak ada korban dalam peristiwa di Malang. Polisi masih menyelidiki asal api. “Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Petugas Satuan Reserse Kriminal dan Tim Inafis melakukan olah tempat kejadian perkara dan penyelidikan,” ujarnya.





