Hutan hujan tropis merupakan salah satu penyerap karbon terbesar di Bumi. Hutan Amazon di Amerika Selatan, misalnya, menyimpan sekitar 123 miliar ton karbon, jumlah terbesar dibandingkan ekosistem daratan lainnya di dunia. Namun, kemampuan hutan tropis dalam menyerap karbon kini menghadapi ancaman serius akibat El Nino.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 2023 mengungkap bahwa hutan tropis di Amerika Selatan semakin rentan terhadap cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Penelitian yang melibatkan lebih dari 100 ilmuwan itu menemukan fakta bahwa selama fenomena El Nino, sebagian besar hutan tropis Amazon bahkan kehilangan kemampuannya dalam menyerap karbon (carbon sink).
Temuan ini relate dengan keadaan saat ini di mana fenomena El Nino yang sangat kuat terjadi lebih sering dibandingkan beberapa dekade lalu. Dalam 60 tahun terakhir, jumlah El Nino dengan kategori sangat kuat tercatat dua kali lebih banyak dibandingkan periode 60 tahun sebelumnya. Sementara itu, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat juga telah mengonfirmasi bahwa fenomena El Niño kembali terjadi.
El Nino Hambat Proses FotosintesisPada kondisi normal, hutan tropis menyerap karbon dioksida (CO₂) melalui proses fotosintesis, kemudian mengubahnya menjadi biomassa yang tersimpan di batang, daun, dan jaringan pohon. Namun, proses tersebut sangat bergantung pada suhu dan ketersediaan air.
Ketika suhu meningkat dan kondisi menjadi lebih kering, tumbuhan akan menutup pori-pori daun untuk mengurangi kehilangan air. Di sisi lain, pori-pori tersebut juga menjadi jalur utama masuknya karbon dioksida. Akibatnya, pohon kekurangan pasokan karbon yang dibutuhkan untuk melakukan fotosintesis dan tumbuh.
Selama tahun-tahun El Nino, suhu yang lebih tinggi dari biasanya membuat hutan mengalami tekanan iklim berkepanjangan. Dampaknya, pertumbuhan pohon melambat dan angka kematian pohon meningkat. Ketika pohon mati dan membusuk, karbon yang selama ini tersimpan kembali dilepaskan ke atmosfer. Dampaknya dapat berlangsung selama puluhan tahun.
Dalam studi tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa saat El Nino 2015–2016, ketika suhu daratan rata-rata meningkat lebih dari 1 derajat Celsius dibandingkan kondisi normal, sebagian hutan tropis di Amerika Selatan praktis berhenti menyerap karbon.
Temuan ini memunculkan kekhawatiran bahwa El Nino yang terjadi saat ini dapat memberikan dampak serupa terhadap Hutan Amazon dan iklim global. Para peneliti lantas mengamati lebih dari 500 ribu pohon dari lebih dari 4.000 spesies di enam negara Amerika Selatan selama lebih dari 30 tahun. Dengan menggunakan pita ukur, mereka memantau pertumbuhan diameter batang pohon secara berkala. Data tersebut kemudian digunakan untuk menghitung jumlah karbon yang tersimpan pada biomassa di atas permukaan tanah.
Studi menunjukkan tingkat kerentanan setiap hutan terhadap El Nino sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim dasar. Meski hutan hujan tropis identik dengan curah hujan tinggi, kenyataannya sebagian kawasan Amazon mengalami musim kemarau lebih panjang, terutama wilayah yang berada di tepian hutan.
Daerah-daerah tersebut cenderung memiliki suhu lebih panas dan kondisi lebih kering dibandingkan bagian tengah Amazon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan di wilayah pinggiran Amazon menjadi kawasan yang paling terdampak saat El Nino ekstrem terjadi.
Kenaikan suhu 0,5 derajat Celsius sudah cukup menyebabkan hutan kehilangan sekitar 0,5 persen cadangan karbon yang tersimpan di atas permukaan tanah. Pohon-pohon berukuran besar menjadi kelompok yang paling rentan.
Selama El Nino, tingkat kematian pohon di seluruh hutan tropis Amerika Selatan meningkat dari sekitar 1,8 persen menjadi 3 persen per tahun. Namun, pada pohon berukuran sedang dan besar—yang memiliki diameter batang lebih dari 20 sentimeter—angka kematiannya hampir dua kali lipat.
Menurut para peneliti, tingginya kematian pada pohon besar terutama yang memiliki kepadatan kayu lebih rendah, penyebab utamanya adalah kegagalan sistem hidrolik pohon (hydraulic failure).
Dalam kondisi udara yang sangat kering, kebutuhan air meningkat drastis sehingga aliran air di dalam jaringan pohon terputus. Kondisi ini dinilai lebih berperan dibandingkan sekadar kekurangan karbon akibat terganggunya fotosintesis.
Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan hutan tropis beradaptasi terhadap musim kemarau semakin mengkhawatirkan, mereka tak lagi mampu menghadapi iklim ekstrem yang semakin sering terjadi.
Para peneliti memperingatkan, hutan di tepian Amazon kini mungkin telah melampaui batas kemampuan adaptasinya sehingga berisiko mengalami kehilangan karbon dalam jumlah besar.
Kekhawatiran itu semakin meningkat setelah sejumlah ilmuwan memprediksi 2026 berpotensi kembali menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat. Kondisi ini diperburuk oleh fakta bahwa El Nino kali ini dimulai ketika suhu lautan dan suhu udara global sudah berada pada tingkat yang sangat tinggi.
Selain itu, selama tiga dekade terakhir, wilayah tepian Amazon mengalami salah satu laju pemanasan tercepat di kawasan tropis. Menurut para peneliti, struktur hutan akan semakin rapuh apabila fenomena iklim ekstrem datang sebelum ekosistem sempat pulih dari tekanan iklim yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Jika kondisi tersebut terus berulang, dunia berisiko menyaksikan kematian pohon dan hilangnya cadangan karbon dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Padahal, hutan tropis merupakan salah satu aset terpenting dalam upaya menekan laju perubahan iklim.
Karena itu, para peneliti menekankan bahwa perlindungan terhadap hutan tropis harus menjadi prioritas. Kemampuan hutan untuk terus berfungsi sebagai penyerap karbon sangat bergantung pada keberhasilan menjaga kelestariannya sekaligus membatasi kenaikan suhu global.
"Masa depan Amazon bergantung pada upaya tersebut. Begitu pula masa depan kita," tulis para peneliti.




