Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) menyebut produsen bahan baku plastik mulai menurunkan harga secara bertahap seiring masuknya pasokan nafta impor dari Amerika Serikat (AS).
Ketua Umum Gapmmi Adhi Lukman mengatakan nafta yang telah masuk ke Indonesia digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia untuk memproduksi bijih plastik. Dengan pasokan yang semakin lancar, produsen bahan baku plastik mulai melakukan penyesuaian harga.
Menurut Adhi, penurunan harga bahan baku tersebut diharapkan dapat menjaga daya saing industri makanan dan minuman (mamin) sekaligus mengurangi tekanan biaya yang pada akhirnya berisiko dibebankan kepada konsumen.
“Sudah masuk [nafta], itu kan untuk bahan baku plastik. Jadi saya kira sekarang dari produsen juga sudah mulai bertahap memberikan turun harga karena memang ini sangat dibutuhkan, karena kalau tidak harga terlalu tinggi, otomatis bebannya menjadi beban masyarakat, sehingga harga produk kita semakin tidak kompetitif dan juga semakin daerah beli masyarakat semakin berat,” kata Adhi saat ditemui Bisnis di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026).
Adhi juga mengapresiasi langkah pemerintah yang menurunkan bea masuk nafta. Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu menekan biaya bahan baku sekaligus diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan mendorong pertumbuhan industri manufaktur, khususnya sektor mamin.
Meski demikian, dia menegaskan membaiknya harga bahan baku plastik tidak serta-merta membuat harga produk makanan dan minuman turun pada semester II/2026.
Baca Juga
- Impor Nafta dari AS Meningkat, Pasokan Bahan Baku Plastik Diklaim Kembali Normal
- Industri Mamin Tingkatkan Buffer Stock Sebulan Antisipasi Konflik Timur Tengah
- Produsen Mamin Dapat Alternatif Sumber Bahan Baku Usai Kesepakatan Dagang RI-AS
Pasalnya, ketika harga nafta dan plastik melonjak, sebagian besar pelaku industri memilih menyerap kenaikan biaya produksi alih-alih menaikkan harga jual secara signifikan. Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga daya beli masyarakat yang masih menghadapi tekanan.
"Nggak juga, karena kita waktu naik nafta, plastik naik tinggi, kita tidak sempat naikkan harga. Kebanyakan ada yang naik, tapi kecil sekali. Tidak sebesar kenaikan plastik dan lain sebagainya,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan sumber impor nafta Indonesia kini bergeser dari Timur Tengah ke AS setelah pasokan dari kawasan tersebut terganggu akibat konflik geopolitik.
Menurut Budi, pasokan nafta dari Negara Paman Sam kini mulai mengalir deras ke Indonesia dan telah mendukung industri petrokimia dalam memproduksi bijih plastik sebagai bahan baku industri hilir.
“Jadi kan dulu kan impor nafta itu kebanyakan dari Timur Tengah, karena dampak perang, sebenarnya sekarang yang paling banyak kita impor dari Amerika. Dan naftanya sudah mulai banyak masuk [ke Indonesia]. Jadi sekarang alhamdulillah, industri kita penghasil bijih plastik kan sudah mulai berjalan dengan bagus,” kata Budi saat ditemui di Trans Studio Mall Cibubur, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).
Dia menjelaskan bijih plastik tersebut kemudian diolah oleh industri hilir menjadi berbagai produk plastik sehingga pasokan bahan baku mulai kembali membaik.
Selain AS, pemerintah juga telah membuka jalur impor dari India dan Afrika sebagai alternatif pasokan. Namun, Budi menyebut hingga saat ini volume terbesar masih berasal dari AS.
“Sudah masuk, jadi kebanyakan memang dari Amerika. Kan dulu saya sampaikan dari Amerika, dari India, dari Afrika kan. Itu yang sekarang mulai banyak masuk dari Amerika, naftanya,” imbuhnya.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), impor nafta (HS 2710.12.80) Indonesia sepanjang 2025 mencapai US$2,34 miliar atau sekitar Rp42,12 triliun (dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS). Dari sisi volume, impor komoditas yang menjadi bahan baku utama industri petrokimia tersebut tercatat mencapai 3,86 juta ton secara kumulatif.
Jika ditinjau pada semester II/2025, nilai impor nafta mencapai US$1,52 miliar atau sekitar Rp27,4 triliun, dengan volume sebesar 2,57 juta ton. Pasokan nafta Indonesia saat itu masih didominasi oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah, yakni Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar. Selain itu, Indonesia juga mengimpor nafta dari Pakistan, India, Malaysia, Singapura, dan China, yang turut menjadi pemasok utama komoditas tersebut.
Memasuki 2026, nilai impor nafta tercatat sebesar US$1,25 miliar atau sekitar Rp22,5 triliun, dengan volume mencapai 1,62 juta ton. Pada periode ini, Indonesia mulai melakukan diversifikasi sumber pasokan dengan mendatangkan nafta dari India dan Vietnam, sebagai bagian dari upaya memperluas negara pemasok.





