Darurat BBM di Sumut, Pengendara Antre hingga Dini Hari di Tengah Hujan Deras

kompas.id
13 jam lalu
Cover Berita

Suasana lalu-lintas di berbagai penjuru Kota Medan, Sumatera Utara, tampak kacau selama dua hari terakhir. Lalu-lintas macet parah dimana-mana. Musababnya, sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) kehabisan stok hampir semua jenis bahan bakar minyak (BBM).

Di SPBU yang masih punya stok BBM, antrean pengendara memanjang hingga beberapa kilometer. BBM eceran, kalau pun ada, harganya meroket hingga Rp 25.000 per liter.

Donny (35) tak bisa menyembunyikan rasa kesal di wajahnya setelah hampir tiga jam mengantre di SPBU di Jalan Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, Kota Medan, Selasa (14/7/2026) dini hari. Dia belum bisa melepas lelah setelah bekerja seharian sebagai tukang bangunan dari Senin (13/7) pagi hingga sore.

“Setelah pulang kerja tadi sore, saya keliling ke mana-mana mencari bensin ke berbagai tempat. Tapi, semuanya habis. Jangankan Pertalite, Pertamax pun tak ada. Saat mendengar ada BBM di SPBU ini, saya langsung ikut mengantre,” kata Donny.

Bagi Donny, ketersediaan BBM sangat vital agar bisa tetap bekerja. Setiap hari, dia berangkat bekerja dengan sepeda motor dari rumahnya di kawasan Medan Polonia, Kota Medan, ke proyek bangunan di Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang. Tak ada angkutan umum ke kawasan suburban Kota Medan itu.

“Kalau enggak ada BBM, saya enggak bisa bekerja. Anak istri saya mau makan apa. Kami ini orang kecil, bekerja sehari untuk makan sehari,” tuturnya.

Baca JugaKelangkaan Biosolar Meluas ke Kawasan Industri Medan, Logistik Ekspor Tersendat

Donny pun mengantre di SPBU itu sejak Senin pukul 21.00 hingga Selasa dini hari. Di SPBU itu, sepeda motor mengantre dua banjar hingga 1 km. Hal serupa juga terjadi di sejumlah SPBU di Kota Medan, Deli Serdang, Binjai, hingga Langkat. Banyak SPBU tutup total dan memasang pengumuman semua jenis BBM habis, mulai dari Biosolar, Pertalite, hingga Pertamax.

Di SPBU Jalan Willem Iskandar, Medan, hujan deras turun saat tengah malam tiba. Roy Lumban Gaol (30) buru-buru mengeluarkan mantel hujan dari laci penyimpanan sepeda motornya lalu mengenakannya. Sopir ojek daring itu tetap mengantre meskipun hujan mengguyur. “Saya ini driver ojol. Kalau enggak ada BBM, kami enggak bisa cari makan,” kata Roy.

Kisah Roy dan Donny adalah gambaran penderitaan warga Sumatera dalam beberapa hari ini. Mereka melengkapi penderitaan sopir truk, bus, dan kendaraan lain yang sudah berbulan-bulan tersiksa akibat kelangkaan solar bersubsidi. Ekonomi daerah juga terpukul akibat krisis BBM.

Para sopir harus antre berjam-jam, kadang berhari-hari, untuk mendapat bahan bakar. Di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, seorang sopir truk, Amri (50), bahkan meninggal di bangku sopir saat antre berjam-jam membeli solar di SPBU Limau, Senin (29/6/2026).

Baca JugaKetika Sopir Truk Meninggal Saat Antre di SPBU, Alarm Kelangkaan Solar yang Tak Didengar

Saat itu, arus lalu lintas di Jalan Palembang-Pangkalan Balai macet parah. Antrean panjang di SPBU Limau mengular sampai ke badan jalan nasional itu. Di jalan urat nadi ekonomi Sumatera itu juga banyak truk yang mogok di jalan akibat kehabisan BBM.

Kepala Perwakilan Ombudsman Sumut Herdensi mengatakan, krisis BBM yang berlarut-larut sangat memukul kehidupan masyarakat. Krisis solar bersubsidi sudah berlangsung berbulan-bulan. Sementara itu, kelangkaan Pertalite maupun Pertamax sudah berulang kali terjadi.

“Ketersediaan BBM merupakan layanan dasar masyarakat yang harus dipenuhi pemerintah untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Gangguan yang terjadi harus segera diatasi pemerintah,” kata Herdensi.

Herdensi menyebut, keadaan di tengah masyarakat semakin parah karena warga tidak tahu secara pasti penyebab kelangkaan BBM. Pertamina menyebut stok aman, tetapi di lapangan tidak ada BBM. Akhirnya, kelangkaan BBM semakin parah karena terjadi pembelian dengan panik.

“Kami meminta pemerintah dan Pertamina menyampaikan informasi secara transparan dan berkala kepada masyarakat mengenai penyebab kendala distribusi, wilayah yang terdampak, serta target waktu normalisasi pasokan. Keterbukaan informasi dinilai penting untuk mencegah kepanikan masyarakat,” ungkap Herdensi.

Baca JugaTragedi Antrean Solar di SPBU Berulang, Sopir Truk Tewas Dikeroyok

Dia menambahkan, Ombudsman akan terus memantau perkembangan penanganan gangguan distribusi BBM di Sumut. Apabila ditemukan dugaan maladministrasi dalam penyelenggaraan pelayanan, Ombudsman akan melakukan pemeriksaan dan meminta tindakan korektif.

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, Wahyu Ario Pratomo, mengatakan, pemerintah harus mengambil langkah cepat untuk mengatasi kelangkaan BBM di Sumut.

Agar bisa melakukan itu, menurut Wahyu, pemerintah sebaiknya terlebih dahulu mengakui adanya persoalan pasokan BBM. "Jangan bilang pasokan BBM aman, tetapi di lapangan stok sangat langka. Di hampir semua SPBU kendaraan mengantre untuk mengisi BBM," katanya.

Wahyu menilai, krisis layanan publik yang terjadi saat ini merupakan gambaran nyata dari tekanan fiskal yang dihadapi pemerintah akibat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Persoalan itu semakin pelik karena terjadi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan harga minyak dunia sejak konflik di Timur Tengah pecah pada Februari lalu. Akibatnya, beban subsidi energi meningkat tajam.

Kami meminta pemerintah dan Pertamina menyampaikan informasi secara transparan dan berkala kepada masyarakat mengenai penyebab kendala distribusi, wilayah yang terdampak, serta target waktu normalisasi pasokan

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Angkutan Darat Kurnia Lesani Adnan menyebut, sejak terjadi kelangkaan BBM, sopir kendaraan harus mengantre berjam-jam, bahkan lebih dari satu malam. Akibatnya, waktu istirahat para sopir pun tersita. Para sopir mengalami kelelahan yang sangat parah karena harus antre setiap hari.

Meninggalnya seorang sopir angkutan saat mengantre mengisi solar adalah puncak dari krisis solar yang sudah berbulan-bulan melanda Sumatera.

“Ini fakta yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah pada permasalahan kelangkaan BBM bersubsidi di daerah-daerah seluruh Indonesia,” kata Kurnia.

Area Manager Communication, Relations, and CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan, dalam beberapa hari terakhir, distribusi BBM di sejumlah wilayah Sumut menghadapi kendala karena penyesuaian operasional armada distribusi.

“Untuk memastikan penyaluran tetap berjalan optimal, Pertamina menambah 15 unit mobil tangki bantuan sehingga kapasitas distribusi memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Fahrougi.

Pertamina juga menambah 30 awak mobil tangki bantuan untuk mendukung kelancaran proses distribusi dari Terminal BBM Medan menuju SPBU di berbagai wilayah Sumut. Pertamina mengimbauwarga tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan.

Sementara itu, Gubernur Sumut Bobby Nasution meminta agar Pertamina segera mencari solusi untuk mengatasi kelangkaan BBM. “Kami akan berkoordinasi dengan Pertamina untuk mengetahui kendalanya, apakah stoknya atau distribusinya,” katanya.  


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menkeu Purbaya Pastikan Anggaran Pendidikan Tetap 20% APBN
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bekas Ledakan Bom Rakitan di MAN 3 Padang Dibersihkan
• 1 jam laludetik.com
thumb
RI-Vietnam Gaspol, Target Dagang Rp324 T Bisa Tercapai Tahun Ini
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
TransJ Pastikan Layanan Tetap Normal Meski Ada Truk Nyangkut di JPO Tendean
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Kondisi Tio Pakusadewo Pasca Operasi Jantung dan Ginjal Diungkap Anak: Mohon Doanya
• 16 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.