Dua pemain besar tembaga Indonesia, PT Freeport Indonesia (PTFI) dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), kini sama-sama memasuki babak baru hilirisasi melalui pembangunan fasilitas pemurnian di dalam negeri.
Keduanya memiliki strategi serupa, yakni mengolah konsentrat tembaga menjadi produk bernilai tambah seperti katoda tembaga, emas, perak, hingga produk samping industri. Namun, dari sisi skala operasi, kapasitas pengolahan, dan ragam produk, masing-masing memiliki keunggulan berbeda.
Dari sisi kapasitas pemurnian, Freeport masih berada di posisi teratas. Perusahaan mengoperasikan dua fasilitas pemurnian di kawasan Gresik dengan total kapasitas pengolahan mencapai sekitar 3 juta ton konsentrat per tahun.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan kapasitas tersebut berasal dari smelter baru yang memiliki kapasitas 1,7 juta ton konsentrat per tahun serta PT Smelting yang telah ditingkatkan kapasitasnya menjadi 1,3 juta ton per tahun.
"Dengan demikian, total konsentrat yang dapat dimurnikan di dalam negeri oleh Freeport Indonesia mencapai 3 juta ton per tahun," ujar Tony Wenas dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (14/7/2026).
Sementara itu, Amman Mineral mengoperasikan smelter di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dengan kapasitas desain pengolahan mencapai 900.000 ton konsentrat per tahun.
Presiden Direktur PT Amman Mineral Nusa Tenggara Rachmat Makkasau mengatakan fasilitas tersebut dibangun untuk mengolah konsentrat dari tambang Batu Hijau dengan teknologi double flash technology.
"Teknologi yang digunakan adalah double flash technology, sama dengan teknologi yang digunakan oleh PT Freeport Indonesia. Kapasitas feed atau masukan berdasarkan desain mencapai 900.000 ton per tahun," ujar Rachmat.
Produksi Katoda Tembaga: Freeport Masih Lebih Besar
Dari sisi produksi katoda tembaga, Freeport masih memiliki skala lebih besar. Smelter baru Freeport dirancang menghasilkan sekitar 600.000 ton katoda tembaga per tahun.
Jika digabungkan dengan produksi PT Smelting, total produksi katoda tembaga Freeport diproyeksikan mencapai sekitar 800.000 ton per tahun.
Sementara itu, Amman memproyeksikan produksi katoda tembaga dari smelternya mencapai sekitar 220.000 ton per tahun.
Baca Juga: Freeport Punya 'Harta Karun' Baru, Isinya Bukan Cuma Emas
Baca Juga: Smelter Tembaga Freeport Senilai US$4,2 Miliar Siap Beroperasi Kembali pada September 2026
Rachmat menjelaskan, selain katoda tembaga, smelter Amman juga menghasilkan sejumlah produk logam lainnya.
"Dalam prosesnya, smelter akan menghasilkan sekitar 220.000 ton katoda tembaga, 18 ton emas, 55 ton perak, dan 77 ton selenium. Proses tersebut juga akan menghasilkan by-product berupa asam sulfat yang diperkirakan mencapai sekitar 830.000 ton per tahun," ujar Rachmat.
Produk Emas dan Logam Ikutan Jadi Pembeda
Perbedaan lain terlihat dari produk turunan yang dihasilkan. Freeport memiliki fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) yang memungkinkan perusahaan memurnikan lumpur anoda menjadi logam bernilai tinggi.
Dari fasilitas tersebut, Freeport memproyeksikan produksi emas mencapai 50 ton per tahun dan perak sekitar 200 ton per tahun. Selain itu, perusahaan juga menghasilkan logam kelompok platinum atau Platinum Group Metals (PGM).
Produksi tersebut mencakup platina sekitar 30 kilogram per tahun, paladium sekitar 375 kilogram, selenium 285 ton, bismut 220 ton, dan timbal sekitar 2.200 ton per tahun.
Sementara itu, Amman memproyeksikan produksi emas mencapai 18 ton per tahun dan perak sekitar 55 ton per tahun dari fasilitas pemurniannya.
Dari sisi volume, Freeport masih unggul karena memiliki basis tambang dan kapasitas pengolahan yang lebih besar. Namun, kehadiran smelter Amman memperluas kapasitas nasional dalam mengolah mineral tembaga di dalam negeri.
Asam Sulfat Jadi Produk Tambahan Bernilai
Selain menghasilkan logam utama, kedua perusahaan juga menghasilkan produk samping dari proses peleburan.
Freeport memproyeksikan produksi asam sulfat sekitar 1,5 juta ton per tahun dari smelter Gresik.
Tony Wenas mengatakan produk tersebut akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
"Di samping itu, smelter akan memproduksi asam sulfat sekitar 1,5 juta ton per tahun yang direncanakan untuk dijual di dalam negeri," ujar Tony.
Sementara itu, Amman memproyeksikan produksi asam sulfat sekitar 830.000 ton per tahun dari smelter Batu Hijau.
Siapa Unggul?
Jika ukurannya adalah kapasitas pengolahan dan volume produksi, Freeport masih menjadi pemain terbesar dalam hilirisasi tembaga Indonesia.
Namun, Amman menjadi tambahan kekuatan baru dengan hadirnya fasilitas pemurnian terintegrasi di Sumbawa. Kehadiran dua perusahaan tersebut membuat Indonesia memiliki kapasitas lebih besar untuk mengolah mineral menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri.
Pada akhirnya, persaingan Freeport dan Amman bukan hanya soal siapa menghasilkan tembaga lebih banyak, tetapi bagaimana keduanya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai industri mineral global.





