JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Fraksi Partai Golkar DPR sekaligus Sekjen Partai Golkar M Sarmuji mengajak generasi muda menumbuhkan kembali nilai-nilai Pancasila, bukan sekadar menghafal lima silanya.
Menurut dia, upaya tersebut dilakukan dengan merevitalisasi sumber nilai Pancasila yang berakar pada kearifan lokal, sekaligus menyesuaikan saluran penanamannya dengan perkembangan zaman digital dan kecerdasan buatan (AI).
“Kalau Bung Karno saja bilang begitu, ya berarti merawat Pancasila itu artinya merawat sumber galiannya, budaya dan kepercayaan asli yang hidup di berbagai daerah, bukan sekadar menghafalkan lima sila,” ujar Sarmuji dalam keterangannya, Rabu (15/7/2026).
Baca juga: Bahlil: Menteri Kependudukan Wihaji Sosok yang Tepat Pimpin Ormas MKGR Golkar
Awalnya Sarmuji mengingatkan bahwa Pancasila bukan nilai yang berasal dari luar Indonesia, melainkan digali dari tradisi dan budaya bangsa sendiri.
Karena itu, ia menilai istilah "membumikan kembali Pancasila" kurang tepat.
Ia mengutip pernyataan Presiden pertama RI Soekarno yang menyatakan, "Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami tradisi-tradisi kami sendiri dan aku menemukan lima butir mutiara indah."
Menurut Sarmuji, nilai-nilai tersebut tercermin dalam berbagai kearifan lokal, seperti ajaran aja adigang, adigung, lan adiguna dalam Serat Wulangreh karya Pakubuwono IV, siri' na pacce dari Bugis-Makassar, Tri Hita Karana dari Bali, hingga Dalihan Na Tolu dari Batak.
Selain menjaga sumber nilainya, Sarmuji juga menekankan pentingnya memperbarui cara menanamkan nilai-nilai Pancasila.
Baca juga: Fraksi Golkar Desak Polri Kejar Semua Aset Hasil Korupsi yang Disembunyikan Febrie Adriansyah
Jika dahulu dilakukan melalui dongeng, tembang, dan wayang, kini media sosial, AI, film, dan musik perlu dimanfaatkan sebagai sarana yang lebih relevan bagi generasi muda.
“Persoalannya bukan menolak teknologinya, tapi bagaimana nilai luhur kita bisa dikemas semenarik konten yang selama ini justru mengalahkannya,” katanya.
Maka dari itu, Sarmuji mendorong perumusan strategi kebudayaan baru yang melibatkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan lembaga negara terkait, dengan peran sebagai perumus arah dan fasilitator, bukan produsen tunggal narasi dari atas.
“Tugas negara idealnya memfasilitasi ekosistem: mendukung kreator, industri film dan musik, serta pengembang teknologi, supaya nilai luhur hidup lewat cerita yang dipilih sendiri oleh masyarakat,” jelas Sarmuji.
“Merevitalisasi Pancasila, pada akhirnya, berarti merevitalisasi sumber dan saluran-saluran itu sekaligus untuk konteks zaman sekarang,” imbuhnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




