Harga minyak acuan dunia naik untuk hari ketiga berturut-turut. Itu terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengancam untuk melancarkan serangan lanjutan ke Iran.
Ancaman tersebut dikeluarkan Trump beberapa jam setelah AS kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran melalui Selat Hormuz
Harga minyak Brent naik 1,1% menjadi US$ 85,65 per barel pada pukul 09.12 waktu Singapura. Sementara itu, harga West Texas Intermediate naik 0,8% menjadi US$ 79,99 per barel.
Harga minyak melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir seiring kembali memanasnya konflik di kawasan tersebut. Kondisi memburuk sebagai imbas dari serangan terhadap kapal-kapal pengangkut minyak mentah dan negara-negara Teluk seperti Kuwait, yang menyebabkan aktivitas pelayaran hampir terhenti.
Harga kini mencapai level tertinggi dalam sekitar satu bulan, memulihkan sebagian dari penurunan sekitar 30% pada kuartal kedua. Eskalasi konflik kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dari kawasan kaya minyak tersebut.
Trump menyebut AS akan terus menyerang Iran dan dapat menargetkan pembangkit listrik serta jembatan pada pekan depan jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan. Tak hanya itu, Trump juga membatalkan rencana pengenaan pungutan sebesar 20% terhadap pengiriman barang yang melintasi Selat Hormuz.
Pembatalan kebijakan itu menjadi kabar baik bagi perusahaan pelayaran yang terguncang akibat runtuhnya gencatan senjata antara AS dan Iran, serta meningkatnya risiko gangguan lebih lanjut di jalur energi terpenting dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati Selat Hormuz.
Perubahan sikap itu juga mencerminkan dilema yang dihadapi Trump ketika konflik dengan Iran kembali memanas. Sementara Teheran tetap mempertahankan kendalinya atas jalur pelayaran itu, sehingga terus mendorong kenaikan harga minyak.
"Situasi geopolitik secara keseluruhan terus memburuk, sehingga tetap menopang harga minyak dan membuat pembeli siap kembali masuk ke pasar jika harga bergerak menuju kisaran US$ 90 per barel," kata Kepala Riset Pepperstone Group Ltd, Chris Weston, dikutip Bloomberg, Rabu (15/7).
Sementara itu, konflik juga meluas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman meluncurkan rudal balistik dan drone ke Arab Saudi. Serangan itu menjadi eskalasi besar pertama antara kedua pihak sejak mereka menyepakati gencatan senjata pada 2022. Kelompok Houthi telah menjadi bagian penting dari jaringan milisi proksi Iran di Timur Tengah.
Bersamaan dengan laporan serangan terbaru di Kuwait, Bahrain, dan Yordania, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik regional semakin meluas. Menurut Weston, kondisi seperti ini tidak mendorong para pelaku pasar untuk kembali membangun posisi jual (short position) jangka panjang di pasar minyak.




