REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG – Universitas Mercu Buana (UMB) mengembangkan model pemberdayaan masyarakat di Desa Pondok Kelor, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat, penguatan usaha pangan lokal, dan gerakan menanam kelor. Program tersebut ditujukan untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus menghidupkan kembali tanaman kelor sebagai identitas desa.
Program memasuki tahap implementasi setelah UMB menyerahkan berbagai peralatan Teknologi Tepat Guna (TTG) kepada Karang Taruna Desa Pondok Kelor dan kelompok usaha pangan lokal di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Jumat (10/7/2026). Penyerahan tersebut menjadi awal penerapan sistem pemberdayaan yang telah dipersiapkan melalui pendampingan sejak April 2026.
Baca Juga
Daripada Dibuang ke TPA, Kepala DLHK Jateng Ingin Sampah MBG Diolah Warga
Menko Pangan Targetkan Masalah Sampah 24 Kota Besar Tuntas pada 2028
Bandung Krisis Sampah, Pemkot Galakkan Kampanye Cegah Food Waste
Ketua Tim Program Pemberdayaan Desa Binaan Universitas Mercu Buana Desiana Vidayanti mengatakan teknologi yang diberikan merupakan bagian dari sistem yang dirancang agar dapat dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
“Hari ini bukan sekadar penyerahan alat, tetapi awal implementasi sistem yang telah kami bangun bersama masyarakat. Kami berharap pengelolaan sampah semakin tertata, usaha pangan lokal berkembang, dan identitas Desa Pondok Kelor sebagai desa kelor dapat hidup kembali,” ujar Desiana dalam keterangannya, Selasa (14/7/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Desa Pondok Kelor merupakan kawasan peri-urban yang berkembang pesat, tetapi belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang terorganisasi. Di sisi lain, tanaman kelor yang dahulu menjadi ciri khas desa semakin jarang dijumpai dan belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pangan maupun potensi ekonomi.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Karang Taruna memperoleh dukungan teknologi pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus pendampingan gerakan penanaman kelor. Sementara itu, kelompok usaha pangan lokal menerima peralatan produksi serta pendampingan manajemen usaha, literasi keuangan, dan peningkatan mutu produk.
Program dijalankan oleh tim multidisiplin UMB yang dipimpin Desiana Vidayanti bersama Dewi Murtiningsih, Oties T. Tsarwan, serta Sri Hesti dari Universitas Dian Nusantara (Undira). Mahasiswa UMB juga dilibatkan sebagai fasilitator dalam pelatihan, pendampingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan.
Kepala Desa Pondok Kelor Junaedi mengatakan, program tersebut menjawab kebutuhan masyarakat yang selama ini belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang terpadu.
“Kami berharap pendampingan dari UMB menjadi awal terbentuknya sistem yang dapat dijalankan secara mandiri oleh masyarakat sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” kata Junaedi.
Program Pemberdayaan Desa Binaan dirancang berlangsung selama tiga tahun. Pada tahun pertama, kegiatan difokuskan pada pembangunan sistem pengelolaan sampah, gerakan tanam kelor, serta penguatan kelompok usaha pangan lokal. Tahap berikutnya diarahkan pada pengembangan usaha dan penguatan kelembagaan agar program dapat berjalan secara mandiri.
Melalui program tersebut, UMB berharap Desa Pondok Kelor tidak hanya memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, tetapi juga mampu menghidupkan kembali kelor sebagai identitas desa sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. Model pemberdayaan ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa peri-urban lain yang menghadapi persoalan serupa.