Menurut Putu konsumen tetap bisa mendapatkan penawaran menarik karena persaingan harga antarpabrikan saat ini sangat ketat. Berbagai produsen juga menawarkan beragam program promosi dan potongan harga yang dinilai cukup menguntungkan bagi calon pembeli.
"Dan kalau kita bisa sarankan, lebih bagus abaikan (rencana insentif) saja dulu. Nanti kalau ada ya kita bersyukur, tapi sekarang karena kalau kita lihat harga kendaraan ini sangat bersaing keras, apalagi dalam kondisi sekarang, sangat bersaing," kata Putu di Jakarta Selatan pada Senin (13/7/2026).
Ia menilai keberadaan insentif bukan lagi faktor utama yang menentukan keputusan konsumen untuk membeli kendaraan. Terlebih kebijakan insentif yang tengah dibahas pemerintah hanya menyasar kendaraan kategori Low Carbon Emission Vehicle (LCEV), termasuk mobil listrik. Baca Juga:
World Ducati Week 2026 di Misano Cetak Rekor
"Apalagi insentif hanya untuk EV bukan untuk kendaraan lain, sehingga karena sangat bersaing harganya sudah affordable, jangan menunggu itu, langsung saja dibeli. Enggak akan membedakan banyak hal, produsen sekarang sudah memberikan diskon, banyak sekali fasilitas-fasilitas dan diskon," lanjutnya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah belum adanya kepastian mengenai kelanjutan insentif kendaraan listrik dari pemerintah. Sebelumnya pemerintah berencana mengimplementasikan insentif pajak untuk mobil dan motor listrik mulai Juni 2026. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memutuskan menunda realisasi kebijakan tersebut hingga Juli 2026.
"Insentif EV masih ditunda satu bulan lagi," kata Purbaya dikutip dari Antara.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(UDA)





