Iran Digempur Lagi! Trump Ancam Hancurkan Terowongan Nuklir Terdalam, Konflik Makin Tak Terkendali

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras mengenai kemungkinan serangan terhadap fasilitas nuklir bawah tanah Iran. Di saat yang hampir bersamaan, militer Amerika Serikat kembali memulai operasi militer berskala besar terhadap sejumlah sasaran strategis Iran serta mengaktifkan kembali blokade laut di kawasan Teluk Persia.

Serangkaian perkembangan yang terjadi pada 13 Juli dini hari hingga 14 Juli 2026 semakin memperlihatkan bahwa konflik di Timur Tengah telah memasuki fase baru dengan tingkat eskalasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.

Trump Ancam Hancurkan Fasilitas Nuklir Bawah Tanah Iran

Pada 13 Juli 2026, Presiden Donald Trump dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa Amerika Serikat tengah mempertimbangkan tindakan militer terhadap salah satu fasilitas nuklir bawah tanah paling strategis milik Iran.

Trump mengatakan bahwa operasi tersebut kemungkinan akan dilakukan dalam waktu dekat.

“Kami kemungkinan besar akan segera mengambil tindakan terhadap fasilitas di kawasan pegunungan tersebut. Sangat mungkin dalam waktu dekat tempat itu akan menerima satu serangan langsung yang sangat kuat, menghantam tepat ke pintu masuk fasilitas tersebut.”

Pernyataan tersebut diyakini mengacu pada kompleks bawah tanah yang berada di sekitar fasilitas pengayaan uranium Natanz, salah satu pusat utama program nuklir Iran.

Kompleks tersebut dibangun jauh di bawah kawasan pegunungan dan terdiri atas dua jaringan terowongan bawah tanah yang saling terhubung. Selama bertahun-tahun, fasilitas ini dianggap sebagai salah satu instalasi nuklir paling terlindungi yang dimiliki Iran.

Sejumlah analis pertahanan bahkan menilai bahwa struktur bawah tanah tersebut dirancang untuk mampu bertahan dari serangan bom penghancur bunker (bunker buster) konvensional, termasuk amunisi penembus bunker tercanggih yang saat ini dioperasikan oleh militer Amerika Serikat.

Karena tingkat perlindungannya yang sangat tinggi, fasilitas tersebut selama ini dipandang sebagai salah satu target militer paling sulit dihancurkan apabila konflik antara Washington dan Teheran berkembang menjadi perang terbuka.

Trump Isyaratkan Gelombang Serangan Baru

Selain mengancam fasilitas nuklir Iran, Trump juga mengisyaratkan bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran masih akan terus berlanjut.

Dalam pernyataannya, ia mengatakan bahwa Iran kemungkinan akan kembali menerima serangan besar pada malam hari maupun malam berikutnya.

Pernyataan tersebut memperkuat dugaan bahwa Pentagon telah menyiapkan operasi lanjutan yang berlangsung secara bertahap untuk menghancurkan kemampuan militer Iran.

Namun, beberapa jam setelah wawancara tersebut, ketika berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump menyampaikan nada yang sedikit berbeda.

Ia menegaskan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup dan peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran masih tetap terbuka apabila Teheran bersedia memenuhi syarat-syarat yang diajukan Washington.

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga kembali mengkritik negara-negara sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah.

Menurutnya, negara-negara tersebut seharusnya ikut menanggung biaya perlindungan keamanan yang selama ini diberikan Amerika Serikat terhadap kawasan Teluk Persia.

Amerika Serikat Kembali Mengaktifkan Blokade Laut Iran

Di tengah meningkatnya ketegangan politik, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa berdasarkan instruksi Presiden Donald Trump, militer Amerika kembali memberlakukan blokade laut penuh terhadap Iran.

Operasi tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada Selasa, 14 Juli 2026, pukul 16.00 waktu setempat.

Tak lama kemudian, CENTCOM mengonfirmasi bahwa pada pukul 16.45 waktu Pantai Timur Amerika Serikat (Eastern Time), operasi militer terhadap Iran resmi kembali dimulai dan menjadi malam ketiga berturut-turut pelaksanaan serangan terhadap berbagai sasaran strategis di wilayah Iran.

Langkah tersebut menandai dimulainya kembali tekanan militer Amerika melalui kombinasi operasi udara, laut, dan pengawasan maritim untuk membatasi ruang gerak militer Iran di kawasan Teluk Persia.

Sasaran Operasi Difokuskan pada Infrastruktur Militer Iran

Menurut laporan CNN yang mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat, gelombang operasi terbaru difokuskan pada penghancuran berbagai aset militer Iran yang dinilai memiliki peran penting dalam pengendalian wilayah Teluk Persia.

Sasaran utama operasi tersebut meliputi:

Ketiga pulau tersebut memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di jalur menuju Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

Ledakan Dilaporkan Terjadi di Berbagai Wilayah Iran

Tidak lama setelah operasi dimulai, sejumlah laporan dari dalam Iran menyebutkan bahwa suara ledakan terdengar di berbagai wilayah.

Di Kota Omidiyeh, Provinsi Khuzestan yang terletak di barat daya Iran, beberapa lokasi dilaporkan menjadi sasaran tembakan artileri militer Amerika Serikat.

Sementara itu, di wilayah Saravan, Provinsi Sistan dan Baluchestan, ledakan besar juga dilaporkan terjadi setelah kawasan tersebut menjadi sasaran operasi militer Amerika.

Hingga laporan ini disusun, pemerintah Iran belum mengeluarkan rincian resmi mengenai tingkat kerusakan maupun jumlah korban akibat rangkaian serangan tersebut.

Selat Hormuz Kembali Menjadi Titik Panas Konflik

Pada saat yang sama, situasi keamanan di Selat Hormuz terus memburuk.

Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin, 13 Juli 2026, mengumumkan bahwa dua kapal penumpang berbendera UEA, yakni Basa dan Basia, diserang oleh dua rudal jelajah yang diduga ditembakkan dari wilayah Iran ketika sedang berlayar di jalur pelayaran bagian selatan Selat Hormuz.

Serangan tersebut menyebabkan kedua kapal mengalami kebakaran hebat.

Berdasarkan informasi yang disampaikan otoritas UEA, insiden tersebut mengakibatkan:

Insiden tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran internasional terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang setiap harinya dilalui sebagian besar ekspor minyak dunia.

UKMTO Laporkan Serangan Baru di Perairan Oman

Beberapa waktu setelah insiden tersebut, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga mengeluarkan pemberitahuan keamanan maritim.

Lembaga tersebut menyatakan bahwa pada hari yang sama sebuah kapal kembali menjadi sasaran proyektil yang belum diketahui asalnya ketika berlayar di perairan dekat Oman.

Meski kapal tersebut sempat mengalami serangan, seluruh awak dilaporkan berhasil selamat dan tidak terdapat korban jiwa.

UKMTO mengimbau seluruh kapal dagang yang beroperasi di kawasan Teluk Persia dan Laut Arab untuk meningkatkan kewaspadaan serta segera melaporkan setiap aktivitas mencurigakan kepada otoritas maritim.

Iran Luncurkan Serangan ke Kuwait dan Bahrain

Memasuki dini hari Senin, 14 Juli 2026, eskalasi konflik kembali meningkat ketika militer Iran melancarkan serangan ke wilayah Kuwait dan Bahrain.

Menurut laporan yang beredar, Iran secara berturut-turut mengerahkan:

Belum terdapat rincian resmi mengenai tingkat kerusakan maupun jumlah korban akibat serangan tersebut. Namun, aksi tersebut memperlihatkan bahwa cakupan konflik telah meluas dan mulai melibatkan lebih banyak negara di kawasan Teluk.

Konflik Bergerak Menuju Eskalasi yang Lebih Berbahaya

Rangkaian perkembangan selama 13–14 Juli 2026 menunjukkan bahwa situasi keamanan di Timur Tengah berkembang dengan sangat cepat.

Ancaman Presiden Donald Trump terhadap fasilitas nuklir bawah tanah Iran, dimulainya kembali operasi militer dan blokade laut oleh Amerika Serikat, meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, serta serangan Iran terhadap Kuwait dan Bahrain menjadi indikator bahwa konfrontasi antara kedua negara kini memasuki tahap yang semakin berbahaya.

Di tengah masih terbukanya peluang diplomasi sebagaimana disampaikan Gedung Putih, aktivitas militer di lapangan justru terus meningkat. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa setiap insiden baru berpotensi memicu konflik yang lebih luas dan melibatkan lebih banyak negara di kawasan Timur Tengah. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Komisi I DPR Minta Pemerintah Sikapi Terukur Tarif 20% Trump di Hormuz
• 7 jam laludetik.com
thumb
Penggunaan PLTS di Indonesia Masih Tertinggal dari Vietnam hingga Malaysia
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Jejak Kontroversi Gus Miftah: Klaim Keturunan Kiai, Hina Penjual Es Teh hingga Kini Terseret Dugaan Korupsi
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Gus Yahya Mencalonkan Diri sebagai Ketum PBNU Lagi, Ini Alasannya
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
OJK Kembangkan Tools Pengawasan untuk Identifikasi Rekening Penampungan Judi Online
• 15 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.