Ekonomi China tumbuh melambat 4,3 persen pada kuartal II 2026. Angka ini lebih rendah dari perkiraan dan menjadi yang terlambat dalma lebih dari tiga tahun terakhir.
Menurut data yang dirilis Biro Statistik Nasional (NBS) China pada Rabu, Produk Domestik Bruto (PDB) China di paruh kedua ini berada di bawah batas bawah target resmi pemerintah tahun ini yang dipatok pada kisaran 4,5 persen hingga 5 persen. Sebagai perbandingan, para ekonom yang disurvei Bloomberg sebelumnya memperkirakan pertumbuhan sebesar 4,5 persen, setelah kuartal pertama tumbuh 5 persen.
Secara total, pertumbuhan ekonomi China pada semester pertama tahun ini tercatat 4,7 persen. Sementara itu, secara kuartalan (quarter-on-quarter), PDB hanya tumbuh 0,9 persen, laju paling lambat dalam lebih dari dua tahun.
Besarnya perlambatan ini diperkirakan akan menjadi topik utama saat Politbiro, badan pengambil keputusan tertinggi Partai Komunis China, melakukan pertemuan akhir bulan ini. Para pejabat kemungkinan akan mempercepat belanja negara dan meningkatkan investasi di proyek-proyek infrastruktur, menyusul pemangkasan belanja dalam beberapa bulan terakhir yang justru menghambat pertumbuhan setelah sempat menguat mengejutkan di awal tahun.
Kepala ekonom Standard Chartered Plc untuk wilayah China Raya dan Asia Utara, Ding Shuang, yang merupakan salah satu dari hanya dua peramal dalam survei yang berhasil memprediksi angka PDB tahunan secara tepat.
"Masih ada ruang untuk mempercepat belanja fiskal sesuai anggaran yang telah disetujui guna mendukung investasi infrastruktur. Pemerintah kemungkinan akan memprioritaskan implementasi kebijakan yang sudah ada," katanya dikutip dari Bloomberg, Rabu (15/7).
Meski pertumbuhan semester pertama masih berada dalam koridor target Beijing, Perdana Menteri Li Qiang tidak menutup kemungkinan akan digelontorkannya stimulus tambahan. Dalam pertemuan awal pekan ini, ia meminta agar dilakukan persiapan dan pengkajian kebijakan tambahan.
Investasi Anjlok, Ritel dan Industri Justru MenguatData terbaru juga menunjukkan investasi aset tetap (fixed-asset investment) turun 5,7 persen pada semester pertama dibandingkan tahun lalu, lebih buruk dari perkiraan dan memburuk dari penurunan 4,1 persen yang tercatat pada lima bulan pertama tahun ini.
Di luar dugaan banyak ekonom yang memperkirakan penjualan ritel akan sedikit menurun, penjualan ritel justru tumbuh 1 persen setelah sempat turun 0,6 persen pada Mei. Produksi industri juga melampaui ekspektasi dengan tumbuh 5,3 persen. Sementara itu, tingkat pengangguran perkotaan yang disurvei turun menjadi 5 persen dari 5,1 persen pada Mei.
Wakil Kepala NBS, Mao Shengyong, menjelaskan bahwa perlambatan pertumbuhan kuartal kedua ini terutama disebabkan oleh faktor jangka pendek dan faktor eksternal. Ia menyebut sejumlah sektor seperti pertambangan batu bara terdampak faktor sementara, namun menegaskan sektor-sektor lain berjalan normal dan fondasi ekonomi yang stabil serta tengah bertransformasi secara struktural tidak berubah.
Reaksi pasar terhadap rilis data ini relatif tenang. Nilai tukar yuan offshore tetap mempertahankan penguatan pagi harinya sebesar 0,1 persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun stabil di level 1,73 persen.
Penjualan ritel untuk barang selain mobil naik 3 persen secara tahunan pada Juni, sementara penjualan mobil justru anjlok lebih dari 16 persen. Penurunan penjualan barang seperti alat elektronik rumah tangga disebut mengecil selama festival belanja daring tahunan "618" pertengahan tahun, menurut sejumlah ekonom di dalam negeri China.
Tekanan Deflasi Masih AdaDeflator PDB, indikator luas yang mengukur perubahan harga dalam perekonomian, tercatat positif untuk pertama kalinya sejak awal 2023. Namun, kenaikan ini sebagian besar didorong oleh naiknya biaya barang impor seperti minyak, sementara tekanan deflasi akibat kelebihan pasokan barang masih membayangi.
Kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi terbesar kedua dunia ini terus meningkat sejak April, seiring pertumbuhan yang melemah dan semakin tidak seimbang. Meski guncangan harga energi akibat perang di Iran turut membantu China keluar dari periode deflasi bertahun-tahun, kepercayaan konsumen dan pelaku usaha masih lesu.
Di sisi lain, ekspor melonjak ke rekor tertinggi dan produksi pabrik tetap kuat, sebagian besar berkat pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) secara global. Namun ketegangan dagang dengan negara lain terus membayangi, mengancam perekonomian yang kini makin bergantung pada penjualan ke luar negeri.
Ekonom Moody's Analytics, Sarah Tan, mengatakan risikonya, manfaat dari lonjakan ini hanya terkonsentrasi pada beberapa sektor seperti manufaktur elektronik dan tidak menyebar ke perekonomian secara lebih luas.
"Ekonomi China mulai melepas gas pedalnya. Permintaan domestik tetap menjadi titik terlemah perekonomian, sementara penurunan sektor properti yang berkepanjangan terus menggerus kekayaan dan kepercayaan rumah tangga, membuat konsumen enggan berbelanja dan pelaku usaha ragu berinvestasi," kata dia.
Anjloknya Investasi Jadi Alarm, Data DipertanyakanPenurunan tajam investasi aset tetap (FAI) selama setahun terakhir memicu kekhawatiran di China, sekaligus mempertanyakan efektivitas alat kebijakan utama yang selama ini digunakan pemerintah untuk mendongkrak pertumbuhan saat terjadi perlambatan.
Meski ketergantungan besar China pada investasi telah menyebabkan kelebihan kapasitas dan pemborosan, strategi ini juga pernah menstabilkan ekonomi di masa-masa sulit, seperti saat krisis finansial global hampir dua dekade lalu.
Ekonom senior sekaligus penasihat pemerintah, David Li Daokui, dalam pidatonya Sabtu lalu menyebut bahwa sebelum kemerosotan belakangan ini, indikator investasi tersebut hanya pernah mengalami kontraksi pada 1961 dan 1967. Penurunan kali ini disebutnya belum pernah terjadi sebelumnya dari segi besarannya.
Hampir semua jenis belanja modal menyusut pada Juni. Investasi properti turun 18 persen pada semester pertama dibandingkan tahun lalu, penurunan paling tajam dalam data yang tercatat sejak 1992, meski penurunan harga rumah sendiri mulai mereda pada Juni.
Gambaran ekonomi dari data terbaru ini kemungkinan akan kembali memicu pertanyaan soal keandalan statistik resmi, khususnya terkait angka investasi.
Indikator FAI telah mencatat kemerosotan historis selama hampir setahun terakhir, sebuah pukulan besar bagi perekonomian yang mengandalkan investasi untuk sekitar 40 persen dari output totalnya. Namun, PDB China secara keseluruhan tetap tumbuh stabil, dan pembentukan modal bruto (gross capital formation), ukuran lain dari aktivitas investasi, justru menjadi salah satu penyumbang terbesar pertumbuhan.





