Plt Dirut PDAM Makassar Pastikan Produksi Air Masih Stabil Meski Memasuki Musim Kemarau

terkini.id
2 jam lalu
Cover Berita

Terkini, Makassar – Perumda Air Minum (PDAM) Kota Makassar memastikan produksi dan distribusi air bersih kepada pelanggan masih berlangsung normal meski Sulawesi Selatan mulai memasuki musim kemarau.

Perusahaan juga menegaskan bahwa informasi mengenai cadangan air yang diperkirakan hanya mampu bertahan selama 30 hari merupakan skenario mitigasi apabila kemarau ekstrem terjadi tanpa hujan dalam periode tertentu, bukan kondisi operasional saat ini.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Makassar, Andi Syahrum, mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir ataupun menafsirkan informasi tersebut sebagai indikasi krisis air bersih di Kota Makassar.

Menurutnya, proyeksi yang disampaikan dalam forum kesiapsiagaan kekeringan merupakan bagian dari langkah antisipatif agar seluruh pemangku kepentingan siap menghadapi kemungkinan terburuk selama musim kemarau.

“Angka 30 hari merupakan skenario kondisional apabila kemarau ekstrem berlangsung tanpa hujan dalam periode tertentu. Itu bukan gambaran kondisi produksi air hari ini. Bahkan BPBD juga menyampaikan wilayah yang dilayani jaringan pipa PDAM saat ini masih dalam kondisi relatif aman,” ujar Andi Syahrum.

Ia menjelaskan sistem penyediaan air baku PDAM Makassar berasal dari beberapa sumber sehingga kondisi masing-masing memiliki karakteristik berbeda.

Bendungan Bili-Bili yang menyuplai Instalasi Pengolahan Air (IPA) 5 Somba Opu dan IPA 4 Maccini Sombala hingga kini masih memiliki debit air yang relatif stabil.

Sementara itu, Bendung Lekopancing menjadi sumber air baku yang paling terdampak akibat penurunan debit selama musim kemarau.

Di sisi lain, Intake Manggala di Moncongloe yang melayani IPA 2 Panaikang dan IPA 3 Antang masih mampu menyuplai sekitar 1.200 liter per detik, meski produksinya dipengaruhi kondisi pasang surut air laut di Selat Makassar.

Menurut Andi Syahrum, keberadaan beberapa sumber air baku tersebut membuat penurunan debit di satu lokasi tidak secara otomatis mengganggu distribusi air di seluruh wilayah Kota Makassar.

“Setiap sumber air memiliki karakteristik berbeda. Karena itu, ketika terjadi penurunan debit di salah satu sumber, bukan berarti seluruh wilayah Kota Makassar mengalami gangguan distribusi,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengakui beberapa wilayah yang bergantung pada sumber air tertentu tetap memerlukan penanganan khusus karena jaringan antarinstalasi pengolahan air belum seluruhnya saling terintegrasi.

Sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau, PDAM Makassar telah melakukan rekayasa distribusi untuk menjaga tekanan air di wilayah yang berpotensi terdampak, menyiagakan armada mobil tangki bagi pelanggan yang membutuhkan, serta memperkuat koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, BMKG, dan BPBD Kota Makassar.

Selain itu, perusahaan juga terus memantau kondisi seluruh sumber air baku secara berkala dan akan menyampaikan perkembangan layanan melalui kanal resmi agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat.

“Kami terus memonitor kondisi sumber air baku dan melakukan berbagai langkah antisipasi agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal selama musim kemarau,” kata Andi Syahrum.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, menilai langkah mitigasi yang dilakukan PDAM Makassar sudah tepat dalam menghadapi potensi dampak musim kemarau.

Menurutnya, optimalisasi sumber-sumber air baku alternatif merupakan strategi penting untuk menjaga keberlanjutan pelayanan air bersih kepada masyarakat.

“Betul, sudah tepat. Saya yakin pihak terkait akan berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, terlebih PDAM Kota Makassar yang terus berupaya mencari sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat,” ujar Nasrol.

Nasrol menjelaskan Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar, telah memasuki musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga sekitar Oktober.

Selama dua hingga tiga bulan ke depan, suhu udara diproyeksikan mencapai 34–36 derajat Celsius dengan curah hujan relatif rendah, yakni sekitar 0–20 milimeter per bulan.

Karena itu, ia mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat langkah antisipasi, mulai dari penyediaan sumur pompa, penambahan armada mobil tangki di wilayah rawan kekeringan, hingga penyesuaian pola tanam dan penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering.

Nasrol juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak, menghindari pembakaran lahan, menjaga keamanan instalasi listrik selama musim kemarau, serta mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan cuaca dan musim kemarau agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Makin Panas! Trump Ancam Bombardir Pembangkit Listrik-Jembatan Iran
• 5 jam laludetik.com
thumb
Bupati Lambar tekankan inovasi guna tingkatkan daya tarik Sekolah Kopi
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Menag Nilai Indonesia Berpeluang Menjadi Episentrum Baru Peradaban Modern Dunia Islam
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Pengeluaran Masyarakat Indonesia untuk Perawatan Gigi Tertinggi di Asia Tenggara, wow
• 38 menit lalujpnn.com
thumb
Pastikan Stok di Pasar Aman, Kemendag Optimalkan Distribusi Minyakita
• 15 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.