Bank Indonesia Melaporkan Utang Luar Negeri RI Capai 444,4 Miliar Dolar AS pada Mei 2026

pantau.com
1 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Bank Indonesia (BI) melaporkan utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2026 mencapai 444,4 miliar dolar AS atau tumbuh 2,1 persen secara tahunan (year on year/yoy), dengan rasio terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 29,9 persen.

Data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) yang dirilis BI bersama Kementerian Keuangan menunjukkan pertumbuhan ULN pada Mei 2026 sedikit lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang tercatat sebesar 2,0 persen secara tahunan.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan, "Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah."

Utang Pemerintah dan Bank Indonesia Meningkat

Posisi ULN pemerintah pada Mei 2026 tercatat sebesar 217,3 miliar dolar AS atau tumbuh 3,7 persen secara tahunan dan relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.

Peningkatan tersebut terutama didorong oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah pembayaran neto pinjaman luar negeri pemerintah yang jatuh tempo.

Pemerintah tetap berkomitmen menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mendukung pembiayaan yang efisien.

Pemanfaatan ULN pemerintah diarahkan untuk mendukung sektor produktif, terutama jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22,0 persen, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,6 persen, jasa pendidikan sebesar 16,2 persen, konstruksi sebesar 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,5 persen.

Bank Indonesia juga mencatat peningkatan ULN yang didorong oleh kenaikan kepemilikan nonresiden pada instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

ULN Swasta Masih Mengalami Kontraksi

Di sisi lain, ULN swasta pada Mei 2026 tercatat sebesar 195,9 miliar dolar AS atau mengalami kontraksi 0,1 persen secara tahunan, namun lebih baik dibandingkan kontraksi 0,5 persen pada April 2026.

Kontraksi tersebut terutama dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) yang mencatat kontraksi 0,8 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 5,0 persen.

ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian dengan pangsa mencapai 79,9 persen dari total ULN swasta.

Secara keseluruhan, ULN Indonesia didominasi utang jangka panjang dengan pangsa 83,9 persen dari total ULN, sementara BI dan pemerintah menyatakan akan terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN guna menjaga struktur utang tetap sehat dan mendukung pembiayaan pembangunan yang berkelanjutan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Bright Gas Pertamina Resmi Turun, Tabung 12 Kg dan 5,5 Kg Jadi Segini
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Permintaan Meningkat Pascalibur Sekolah, Antrean BBM di SPBU di Medan Membludak
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Heboh Surat Sebut Kuntadi Calon Pengganti Febrie Adriansyah Jadi Jampidsus, Komisi Kejaksaan: Kalau Viral, Tak Valid
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
3 Titik Karhutla Terjadi di Garut dalam Sepekan
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KPK Panggil ASN BPK Jadi Saksi Seusai Geledah Rumah Bobby Rizaldi
• 1 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.