CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di era modern ini, sepak bola sering kali diidentikkan dengan kemewahan. Gaji ratusan ribu poundsterling per minggu, mobil mewah, dan gaya hidup glamor menjadi pemandangan biasa bagi para bintang Premier League yang membela tim nasional Inggris.
Publik kerap memandang mereka sebagai barisan miliarder muda yang hidup di menara gading. Namun, di balik riuhnya gemerlap industri si kulit bundar, ada sebuah rahasia yang terawat rapi—sebuah tradisi sunyi tentang ketulusan yang telah berlangsung hampir dua dekade.
Bagi Harry Kane, Jude Bellingham, dan rekan-rekan satu timnya, mengenakan jersey dengan lambang Tiga Singa di dada adalah tentang kehormatan tertinggi, bukan soal menambah pundi-pundi kekayaan.
Ketahuilah bahwa sejak tahun 2007 hingga hari ini, tidak ada satu sen pun dari match fee (bayaran per pertandingan) yang masuk ke kantong pribadi para pemain Inggris saat mereka berlaga di panggung internasional.
Semuanya, genap 100 persen, langsung dialihkan untuk aksi kemanusiaan.
Kisah kedermawanan kolektif ini bermula pada tahun 2007. Kala itu, komite pemain yang dihuni oleh nama-nama besar seperti David Beckham, Gary Neville, Rio Ferdinand, Steven Gerrard, hingga John Terry, sepakat untuk mendirikan England Footballers Foundation (EFF).
Langkah ini diambil sebagai wadah resmi agar skuad timnas Inggris dapat menyumbangkan bayaran bertanding serta waktu luang mereka selama jeda internasional untuk tujuan mulia.
Ide dasarnya sederhana namun mendalam: bermain untuk negara adalah sebuah hak istimewa yang tak ternilai, dan bayaran yang mereka terima dari federasi jauh lebih berarti jika diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
Sejak saat itu, setiap kali seorang pemain melangkah ke lapangan—baik dalam laga persahabatan, kualifikasi, hingga turnamen besar seperti Piala Dunia—biaya tampil sekitar £2.000 (sekitar Rp40 juta) per pertandingan langsung mengalir ke yayasan tersebut.
Uang tersebut kemudian disalurkan ke berbagai lembaga amal mitra, mulai dari UNICEF, Cancer Research UK, Help for Heroes, hingga yayasan anak-anak seperti The Honeypot Children’s Charity.
Komitmen ini terbukti bukan sekadar tren sesaat atau aksi pencitraan. Hingga tahun 2026 ini, tradisi tersebut tetap teguh berdiri.
Ketika tongkat estafet generasi beralih dari era Beckham ke era Bukayo Saka dan Cole Palmer, nilai-nilai kemanusiaan ini tidak pernah luntur.
Total dana yang berhasil digalang dari keringat para pemain di lapangan hijau telah menembus jutaan poundsterling, membawa dampak nyata bagi kehidupan ribuan orang di berbagai belahan dunia.
Menariknya, aksi ini sempat berjalan sangat sunyi tanpa publikasi besar-besaran, sampai akhirnya publik menyadarinya secara luas beberapa tahun lalu ketika beberapa mantan pemain mulai bersuara di media sosial demi memberikan apresiasi pada generasi penerus.
Bagi para pemain Inggris, uang dari match fee internasional mungkin hanya sebagian kecil dibanding kontrak selangit mereka di level klub.
Namun, keputusan kolektif untuk melepaskan hak tersebut demi kepentingan sosial mengirimkan pesan yang sangat kuat.
Di tengah lapangan yang menuntut ego dan rivalitas tinggi, jersey Inggris justru menjadi simbol pemersatu kepedulian.
Mereka membuktikan bahwa pahlawan sejati tidak hanya mencetak gol dan memenangkan trofi, tetapi juga mereka yang mengulurkan tangan saat lampu stadion telah padam.
Sumber: EFF/The FA




