Ketika Opini dan Berita Melebur Jadi Satu di Layar Ponsel Kita

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Sambil menyeruput kopi atau menunggu gorengan matang, jari kita otomatis menggulir linimasa. Dalam hitungan detik, mata melompat dari judul berita banjir di satu kota, ke status curhat teman soal kebijakan pemerintah, lalu ke potongan video yang diberi keterangan "fakta yang disembunyikan media."

Semuanya tampil dengan format yang sama: font tebal, thumbnail dramatis, dan nada yakin seolah semuanya adalah kebenaran mutlak. Tidak ada jeda, tidak ada tanda yang jelas mana laporan yang sudah diverifikasi dan mana yang sekadar opini seseorang yang kebetulan pandai merangkai kalimat.

Inilah realitas yang kita jalani setiap hari. Bukan lagi soal media mana yang kredibel atau tidak, tetapi soal apakah kita masih mampu membedakan antara "ini terjadi" dan "ini menurut saya." Batas itu semakin kabur, dan sayangnya, kekaburan ini bukan kebetulan.

Kenapa Batasnya Jadi Sekabur Ini

Dulu, opini punya rumahnya sendiri: rubrik khusus, ditulis oleh orang yang jelas identitasnya, dan pembaca tahu persis bahwa yang mereka baca adalah sudut pandang, bukan laporan lapangan.

Sekarang, di linimasa media sosial sebuah utas opini bisa tampil bersebelahan dengan berita resmi, memakai bahasa yang sama meyakinkannya, bahkan kadang lebih menarik karena penuh emosi.

Walter Lippmann, jurnalis dan pemikir media sudah mengingatkan hal ini jauh sebelum internet ada. Ia menegaskan bahwa berita dan kebenaran adalah dua hal yang berbeda dan tidak boleh disamakan begitu saja.

Fungsi berita, katanya, hanyalah menandai bahwa sebuah peristiwa terjadi, sementara kebenaran butuh proses lebih panjang untuk menyingkap fakta yang tersembunyi dan merangkainya jadi gambaran utuh. Kalimat itu ditulis satu abad lalu, tapi rasanya seperti ditulis khusus untuk menjelaskan kenapa kita gampang tertukar antara status Facebook tetangga dan laporan investigasi media besar.

Kita hidup di dunia yang oleh Lippmann disebut sebagai hasil dari "gambar di kepala kita" bukan realitas itu sendiri, melainkan simplifikasi yang kita bentuk karena dunia terlalu luas untuk dipahami secara langsung. Media sosial memperparah ini. Ia tidak hanya menyederhanakan, tapi juga mempercepat, sehingga simplifikasi itu tersebar sebelum sempat kita periksa kebenarannya.

Ketika Semua Orang Merasa Jadi Jurnalis

Fenomena lain yang membuat batas ini makin tipis adalah bergesernya peran "penjaga gerbang informasi." Dulu, redaksi media menyaring apa yang layak disebut berita. Sekarang, siapa pun dengan ponsel dan kuota internet bisa mempublikasikan "laporan" versinya sendiri, lengkap dengan opini, tanpa proses verifikasi seperti yang biasa dilakukan wartawan profesional.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, dua nama besar dalam studi jurnalistik The Elements of Journalism, menyebut pergeseran ini sebagai perubahan besar dalam cara kita mengetahui dunia.

Menurut mereka, tanpa disadari kita semua kini mengambil alih peran yang dulu dipegang redaksi media: menyunting, menyaring, dan mengumpulkan informasi bagi diri kita sendiri.

Kedengarannya seperti kabar baik soal kebebasan berekspresi, tapi ada sisi lain yang jarang disadari tanggung jawab untuk memverifikasi kini berpindah dari tangan profesional ke tangan kita orang yang sering kali tidak dibekali waktu, alat, atau kebiasaan untuk mengecek ulang sebelum percaya, apalagi sebelum membagikan.

Bayangkan grup keluarga di WhatsApp. Ada yang mengirim artikel kesehatan, ada yang mengirim opini politik yang dibungkus judul seolah berita resmi. Semua tercampur dalam satu forum, dan tidak semua anggota keluarga punya kemampuan atau waktu untuk memilah mana yang benar-benar berdasarkan riset dan mana yang sekadar opini yang ditulis meyakinkan. Ini bukan salah mereka sepenuhnya inilah konsekuensi nyata dari pergeseran yang dijelaskan Kovach dan Rosenstiel.

Ruang Publik yang Kehilangan "Rem"

Ada satu hal lagi yang membuat kekaburan ini terasa makin berat tekanan kecepatan. Redaksi media saat ini berlomba menjadi yang pertama mengunggah, bukan yang paling akurat.

Michael Schudson, sosiolog media Why Democracies Need an Unlovable Press, mengingatkan bahwa jurnalisme yang sehat semestinya bukan yang paling menyenangkan untuk dibaca, melainkan yang berani bersikap kritis dan menantang asumsi publik sebuah fungsi yang justru tergerus ketika media lebih sibuk mengejar viralitas ketimbang kedalaman.

Ironisnya, opini yang provokatif justru lebih mudah viral dibanding berita yang berimbang dan penuh nuansa. Judul yang memancing emosi menang melawan judul yang jujur tapi datar. Akibatnya ruang publik kita dipenuhi suara-suara yang paling keras dan paling ekstrem, bukan yang paling akurat. Ini terasa nyata setiap kali sebuah isu mulai dari kenaikan harga bahan pokok sampai kebijakan pendidikan langsung dipenuhi opini tajam dari berbagai pihak sebelum fakta lapangan benar-benar terkonfirmasi.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kabar baiknya, kesadaran adalah langkah pertama. Kita tidak perlu berhenti membaca opini, opini tetap penting untuk melatih cara berpikir kritis dan melihat sudut pandang lain. Yang perlu kita latih adalah kebiasaan bertanya sebelum percaya: siapa yang menulis ini, apa buktinya, dan apakah ini disajikan sebagai fakta atau sekadar pandangan pribadi?

Perubahan besar dalam lanskap informasi memang tidak bisa kita kendalikan sendirian. Tapi cara kita membaca, memverifikasi, dan membagikan informasi itu sepenuhnya ada di tangan kita. Barangkali di situlah letak tanggung jawab baru kita sebagai warga digital bukan menunggu media memperbaiki dirinya sendiri, tapi mulai dari layar ponsel masing-masing.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pakar NIU: Cara pandang guru tentukan keberhasilan peserta didik
• 40 menit laluantaranews.com
thumb
Kasus Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Bisa Gugur di Praperadilan, Dinilai Cacat Prosedur
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Bupati Nonaktif Ponorogo Sugiri Sancoko Dituntut 7 Tahun Penjara dalam Perkara Dugaan Suap dan Gratifikasi RSUD
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Mahasiswa KKN-T Inovasi Desa 116 Unhas Paparkan 10 Program Kerja Inovatif pada Seminar Program Kerja di Kantor Lurah Tanru Tedong
• 50 menit laluharianfajar
thumb
Diduga Tak Miliki Kolam Retensi Limbah, Pabrik Kikil di Deli Serdang Buang Limbah ke Parit Warga
• 30 detik lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.