Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyoroti masih tingginya ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku impor. Menurutnya, sekitar 90 persen bahan baku farmasi yang digunakan di dalam negeri masih didatangkan dari luar negeri, sehingga menjadi tantangan besar bagi penguatan daya saing industri nasional.
Ia menegaskan pemerintah perlu mendorong pengembangan industri substitusi impor agar rantai pasok manufaktur, khususnya sektor farmasi, menjadi lebih kuat.
“Di industri farmasi, 90 persen bahan baku itu masih impor. Ini tantangan yang luar biasa buat industri dalam negeri,” ujar Faisol dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Selasa (14/7).
Menurut dia, persoalan ketergantungan impor tidak hanya terjadi di sektor farmasi. Pemerintah akan memetakan satu per satu persoalan di berbagai sektor industri agar Indonesia mampu meningkatkan daya saing di tengah ketatnya persaingan regional. Faisol menilai Indonesia perlu bergerak lebih cepat menyusul meningkatnya kinerja ekspor manufaktur sejumlah negara tetangga.
“Tentu saja industri-industri lain kami juga perlu melihat satu per satu masalah-masalah yang harus kita pecahkan supaya kita bisa menghadapi Vietnam dan Filipina misalnya yang nilai ekspornya sangat meningkat eksponensial,” katanya.
Di sisi lain, ia menjelaskan industri pengolahan nonmigas Indonesia saat ini masih lebih banyak menopang kebutuhan pasar domestik dibandingkan ekspor. Nilai ekspor industri pengolahan nonmigas tercatat sekitar 21 persen, sedangkan sekitar 78,39 persen produksinya diserap pasar dalam negeri.
Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting bagi industri nasional, namun sekaligus menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas agar produk manufaktur Indonesia semakin kompetitif di pasar global.
Industri kimia dan farmasi merupakan salah satu sektor strategis dalam industri manufaktur. Kinerja sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) pun menunjukkan tren yang terus menguat. Pada triwulan pertama tahun 2026, sektor ini tumbuh sebesar 4,96 persen, meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan pertama tahun sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 3,34 persen.
Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tercatat sebesar 3,88 persen, dengan subsektor industri barang galian bukan logam menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi sebesar 9,12 persen.
Dari sisi perdagangan internasional, ekspor IKFT selama Januari-Maret 2026 mencapai USD 13,23 miliar meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar USD 12,77 miliar. Nilai terbesar berasal dari subsektor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia yang menyumbang ekspor sebesar USD 5,97 miliar.
Sementara itu, realisasi investasi sektor IKFT pada Januari–Maret 2026 mencapai Rp47,20 triliun, naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 45,57 triliun.





