Geopolitik, artificial intelligence (AI), dan energi diperkirakan menjadi tiga faktor utama yang membentuk arah pasar global pada triwulan III 2026.
Di tengah perubahan lanskap ekonomi tersebut, investor dituntut lebih selektif dalam menyusun strategi investasi dan membangun portofolio yang mampu menghadapi berbagai risiko.
Ketegangan geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah, masih menjadi salah satu sumber ketidakpastian utama bagi perekonomian global.
Konflik tersebut meningkatkan risiko terganggunya pasokan energi yang berpotensi mendorong harga minyak tetap tinggi.
Dampaknya, tekanan inflasi diperkirakan bertahan lebih lama sehingga memengaruhi arah kebijakan moneter di berbagai negara.
Selain faktor geopolitik, AI juga menjadi penggerak baru pasar global. Investasi besar-besaran pada teknologi AI mendorong peningkatan kebutuhan terhadap infrastruktur digital, semikonduktor, pusat data, hingga pasokan listrik.
Meski AI diyakini mampu meningkatkan produktivitas dalam jangka panjang, ekspansi investasi pada tahap awal juga berpotensi menambah tekanan inflasi karena tingginya kebutuhan modal dan sumber daya.
Sementara itu, sektor energi kembali menjadi perhatian seiring meningkatnya investasi untuk memperkuat ketahanan energi dan mendukung transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur energi, penyedia peralatan, maupun sektor pendukung lainnya.
Merespons perkembangan tersebut, dalam insight oleh Chief Investment Office DBS bertajuk Rekomendasi Investasi 3Q2026: Mengoptimalkan Momentum dari Tren Penggerak Pasar yang dirilis pada 30 Juni 2026, DBS merekomendasikan investor untuk meningkatkan alokasi pada saham Asia di luar Jepang, obligasi korporasi negara maju, emas, serta aset swasta dan dana lindung nilai.
Di sisi lain, saham global, saham Amerika Serikat, saham Jepang, dan obligasi pemerintah negara maju direkomendasikan berada pada posisi netral.
Sementara itu, saham Eropa, obligasi pasar berkembang, serta kas disarankan untuk dikurangi bobotnya dalam portofolio.
Di antara berbagai pilihan aset, emas dinilai masih memiliki prospek yang menarik sebagai instrumen diversifikasi investasi.
Logam mulia ini dipandang mampu berperan sebagai lindung nilai ketika risiko geopolitik dan tekanan inflasi meningkat.
Selain itu, tren dedolarisasi di berbagai negara juga menjadi salah satu faktor yang menopang prospek emas dalam jangka panjang.
Emas juga dinilai dapat membantu menyeimbangkan risiko portofolio. Berdasarkan hal tersebut, DBS tetap memandang emas sebagai salah satu aset yang layak dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang.
Bank DBS memberikan insights terkini, mendalam, dan relevan kepada nasabah agar mereka dapat menentukan arah investasi dengan bijak di tengah volatilitas pasar.
Melalui analisis pasar yang komprehensif dan panduan dari para ahli, Bank DBS membantu nasabah membuat keputusan investasi yang terinformasi untuk mencapai tujuan keuangan mereka.




