Bisnis.com, JAKARTA – Manajer Investasi (MI) Tanah Air memilih masih bakal berfokus untuk memperhatikan fundamental emiten Tanah Air dalam meracik produk reksa dana, kendati daftar saham yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) kini bertambah panjang.
Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen Eri Kusnadi, menerangkan daftar panjang HSC sebetulnya tidak begitu mempengaruhi keputusan MI dalam memilih suatu saham. Kinerja fundamental emiten menjadi salah satu kunci pemilihan saham.
”Dalam pemilihan saham, saya rasa kalau MI di Indonesia sudah punya research desk sendiri, saya rasa status HSC ini tidak mempengaruhi. Dalam artian kamis sudah mengetahui kondisi riil di lapangan. Saya rasa HSC ini lebih relevan bagi investor asing,” katanya kepada Bisnis, Rabu (15/7/2026).
Adapun untuk diketahui, Bursa Efek Indonesia (BEI) baru saja memperbarui daftar saham dengan status HSC atau kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi.
Hingga pertengahan Juli 2026, tercatat 51 emiten masuk dalam daftar HSC dengan tingkat kepemilikan yang dikuasai oleh sejumlah pemegang saham mencapai lebih dari 90%.
Sebanyak 37 emiten memperoleh status HSC pada Selasa (14/7/2026) berdasarkan struktur kepemilikan saham per 30 Juni 2026. Sisanya merupakan emiten yang telah lebih dahulu ditetapkan berstatus HSC sejak April hingga awal Juli 2026 dan masih tercantum dalam daftar terbaru.
Baca Juga
- 7 Saham Bank Masuk Daftar HSC BEI, Ada BTPN hingga BBHI
- Daftar 51 Saham HSC di BEI Selengkapnya, 1 Emiten Berhasil Lolos
- BEI Tambah 37 Saham ke Daftar HSC, Emiten Sinar Mas dan Mayapada Masuk
Selain itu, Eri menilai bahwa dengan sejumlah emiten masuk dalam daftar HSC, tidak serta merta bakal membuat suatu saham akan mengalami diskon harga. Hal itu terjadi lantaran sejumlah saham memang tidak likuid dan diperdagangkan secara pasif.
Dengan begitu, Eri menegaskan bahwa selain soliditas fundamental suatu perusahaan, pihaknya juga bakal mempertimbangkan kemudahan melakukan transaksi terhadap suatu saham.
”Ya tidak sekadar lihat fundamental pasti. Setelah lihat fundamental, pasti kami akan mencoba mencari tahu bisa masuk atau tidak. Kalau kami bisa masuk, kami bisa analisis average trading value per harinya berapa selama 3 atau 6 bulan terakhir,” katanya.
Meskipun begitu, Eri menilai bahwa kehadiran HSC bakal membantu investor di pasar modal dalam konteks likuiditas. Hanya saja, memastikan seluruh permintaan MSCI terpenuhi, Eri belum bisa berkomentar banyak mengenai kondisi itu.
Daftar Saham yang Ditetapkan HSC pada 14 Juli 2026
- PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) — 99,14%
- PT Prima Andalan Mandiri Tbk. (MCOL) — 98,62%
- PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk. (LIFE) — 99,21%
- PT Golden Flower Tbk. (POLU) — 99,94%
- PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk. (ELPI) — 98,90%
- PT MD Entertainment Tbk. (FILM) — 92,98%
- PT Hoffmen Cleanindo Tbk. (KING) — 98,40%
- PT Ancara Logistics Indonesia Tbk. (ALII) — 97,62%
- PT Hotel Fitra International Tbk. (FITT) — 95,00%
- PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk. (YUPI) — 99,91%
- PT Perdana Bangun Pusaka Tbk. (KONI) — 95,08%
- PT Metropolitan Kentjana Tbk. (MKPI) — 97,02%
- PT Cemindo Gemilang Tbk. (CMNT) — 99,41%
- PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR) — 99,58%
- PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP) — 96,64%
- PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk. (PRAY) — 99,84%
- PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO) — 99,99%
- PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) — 93,83%
- PT Bank Mega Tbk. (MEGA) — 95,68%
- PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) — 99,24%
- PT Multipolar Technology Tbk. (MLPT) — 99,42%
- PT Siantar Top Tbk. (STTP) — 94,95%
- PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (BTPN) — 99,78%
- PT Krom Bank Indonesia Tbk. (BBSI) — 99,95%
- PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) — 96,70%
- PT FAP Agri Tbk. (FAPA) — 99,77%
- PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk. (RISE) — 98,03%
- PT Soho Global Health Tbk. (SOHO) — 99,93%
- PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) — 92,71%
- PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN) — 99,95%
- PT Bank Ina Perdana Tbk. (BINA) — 94,79%
- PT Bank Permata Tbk. (BNLI) — 99,92%
- PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ) — 97,21%
- PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) — 95,65%
- PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET) — 98,06%
- PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) — 98,50%
- PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) — 99,96%
Daftar Emiten yang Berstatus HSC dari Penetapan Sebelumnya
- PT Habco Trans Maritima Tbk. (HATM) — 96,09% (penetapan 1 Juli 2026)
- PT Delta Giri Wacana Tbk. (DGWG) — 97,35% (30 Juni 2026)
- PT Kota Satu Properti Tbk. (SATU) — 94,27% (4 Juni 2026)
- PT Mahkota Group Tbk. (MGRO) — 93,76% (29 Mei 2026)
- PT Transcoal Pacific Tbk. (TCPI) — 94,10% (29 Mei 2026)
- PT BSA Logistics Indonesia Tbk. (WBSA) — 95,82% (8 Mei 2026)
- PT Satria Mega Kencana Tbk. (SOTS) — 98,35% (2 April 2026)
- PT Rockfields Properti Indonesia Tbk. (ROCK) — 99,85% (2 April 2026)
- PT Abadi Lestari Indonesia Tbk. (RLCO) — 95,35% (2 April 2026)
- PT Panca Anugrah Wisesa Tbk. (MGLV) — 95,94% (2 April 2026)
- PT Lima Dua Lima Tiga Tbk. (LUCY) — 95,47% (2 April 2026, sudah dicabut per 2 Juli 2026)
- PT Ifishdeco Tbk. (IFSH) — 99,77% (2 April 2026)
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) — 95,76% (2 April 2026)
- PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) — 97,31% (2 April 2026)
- PT Samator Indo Gas Tbk. (AGII) — 97,75% (2 April 2026)
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





